Surabaya NAWACITAPOST - Dalam rangka melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang selaras dengan upaya pemerintah untuk menurunkan angka stunting di kota Surabaya, Civitas Akademika Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (FK-UWKS) kembali bergerak, khususnya dalam kegiatan penyuluhan dan pemeriksaan balita.
Seperti terlihat hari ini, FK-UWKS melakukan penyuluhan serta pemeriksaan pertumbuhan dan perkembangan balita di area Puskesmas Kalirungkut Surabaya, Selasa 27 Desember 2022.
Kegiatan yang dihadiri balita stunting, Ibu serta para kader tersebut di buka langsung oleh dekan FK-UWKS, Prof.Dr.dr.Suhartati,MS didampingi didampingi Ketua Tim Stunting FK-UWKS Dr.dr. Ayling Sanjaya, M.Kes.,SpA bersama Para Dosen dan Mahasiswa, serta perwakilan Puskesmas Kalirungkut, Trisniningati,S.Gz.
Mewakili Kepala Puskesmas Kalirungkut dr. Bernadetta Martini, dalam sambutannya Trisniningati mengaku merasa terbantu seiring kegiatan yang dilakukan Fakultas Kedokteran UWKS di wilayah kelurahan Kalirungkut.
Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, Prof.Dr.dr. Suhartati, MS., mengatakan kegiatan di akhir tahun 2022 ini dilakukan menjadi bentuk dukungan kebijakan Presiden Jokowi yang menargetkan problematika stunting terselesaikan pada 2024 mendatang.
Selain penyuluhan, Suhartati bersama tim juga akan memberikan pelatihan deteksi dini gangguan pertumbuhan pada balita, deteksi gangguan pertumbuhan bayi dalam kandungan dengan jalur genetik, serta mengajarkan kepada ibu hamil, ibu kader, ibu-ibu balita stunting, serta remaja putri bagaimana cara pemberian vitamin dan makanan sehat kepada balita yang diindikasikan stunting.
"Jadi bukan hanya dari sisi fisik saja namun mengupas juga dampak stunting dari sisi psikologis, kemudian kesehatan ibu hamil," jelas Suhartati.
Hal senada disampaikan Ketua Tim Stunting FK-UWKS Dr.dr. Ayling Sanjaya. Kepada yang hadir Ia menjelaskan bahwa stunting tidak hanya berbicara mengenai anak yang pendek namun juga berbicara mengenai aspek gangguan tumbuh kembang anak dan malnutrisi serta penyakit-penyakit yang dapat menyertainya.
Menurutnya, hal tersebut dapat berpengaruh pada kualitas anak dan masa depan bangsa.
Perhatian secara khusus diperlukan dalam upaya pencegahan dan penanganan stunting di Indonesia.
Penyebab serta faktor risiko stunting pada anak bisa terjadi sejak dalam kandungan, ataupun setelah dilahirkan pada masa anak.
Ia mencontohkan di wilayah Indonesia Timur, kebanyakan stunting dipicu oleh cacing dan malaria.
Sedangkan di wilayah perkotaan, justru banyak diakibatkan oleh ketidakpahaman para ibu tentang pentingnya air susu ibu (ASI) untuk para bayinya.
"Idealnya, seorang bayi wajib hanya diberi susu ibunya saja selama 6 bulan sejak dilahirkan (ASI ekslusif)," ujarnya.
"Tapi faktanya, justru banyak bayi yang sudah diberikan susu formula dan makanan tambahan seperti pisang atau nasi,” pungkasnya.
Usai pembukaan dilanjutkan dengan Penyuluhan oleh mahasiswa FK-UWKS mengenai pola nutrisi, deteksi dan penanganan stunting, serta peran kader dan keluarga, ANC, dsb.
Kemudian dilakukan Pemeriksaan pertumbuhan serta perkembangan balita, diakhiri tanya jawab dan konsultasi. (BNW)