news

Ratusan Hektar Sawah Terendam Banjir, Dua Tahun Para Petani Gagal Panen

Kamis, 8 September 2022 | 06:47 WIB

Nganjuk, NAWACITAPOST.COM - Akibat terendam banjir Petani wilayah Dadung, Desa Kedungglugu dan Desa Ketawang, Kecamatan Gondang, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur selama dua tahun gagal panen.


Informasi yang dihimpun jurnalis Nawacitapost.com kurang lebih sekitar 300 hektar lahan sawah terendam banjir dikarenakan tidak adanya pembuang air ketika debit meningkat atau ketika musim hujan.


Ratusan hektar lahan sawah tersebut bukan hanya milik warga Desa Kedungglugu dan Desa Ketawang saja, melainkan juga ada milik warga masyarakat Desa Mabung, Kecamatan Baron, Nganjuk.


Menurut Harnadi warga Desa Kedungglugu mengatakan seharusnya ada pembuangan air yang berasal dari Desa Ketawang, karena di musim hujan ketika gerimis saja air yang sudah memenuhi area persawahan.




-
Hariadi warga Petani asal Desa Kedungglugu, Kecamatan Gondang, Kabupaten Nganjuk Jawa Timur

"Sebenarnya ini mudah kok, tinggal membuka jalan air menuju kali widas sudah teratasi, karena debit air ketika hujan, tinggi mencapai kurang lebih sekitar satu meter," kata Harnadi kepada jurnalis Nawacitapost.com pada Rabu, (07/09/2022) siang.


Harnadi menambahkan bahwa, dulunya ada jalan air menuju kali widas, dikarenakan adanya proyek bangunan bantaran sungai yang dibangun oleh dinas pengairan akhirnya jalan air akhirnya tertutup hingga meluber ke seluruh area persawahan.


"Sebenarnya ketika ada proyek pembangunan bantaran sungai, itu sementara atau permanen, kalau permanen harusnya melibatkan dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) bidang irigasi, harusnya yang permanen itu disini adalah aliran pembuangan air atau patusan, apalagi saya dengar adanya bangunan tersebut sudah disertifikatkan," imbuh Harnadi.


Harnadi menjelaskan bahwa air tidak hanya berasal dari Desa Ketawang saja, namun juga dari Gunung Pandan.


"Dulu air ini lancar karena tidak ada bangunan bantaran sungai ini akhirnya aliran pembuangan air buntu, ini harusnya tanggung jawab pengairan bukan Pemerintah Desa," terang Harnadi.


Sementara Kepala Desa Kedungglugu Sartono ketika dihubungi melalui seluler mengatakan bahwa sebelumnya sudah ada musyawarah pembahasan pembuatan pembuangan air atau patusan di wilayah persawahan Mentoyo, Desa Kedungglugu, Pada Rabu,(25/05/2022).




-
Foto dokumentasi Sartono Kades Kedungglugu ketika musyawarah pertemuan pembahasan tentang pembuangan atau patusan

"Pada saat Musyawarah tersebut dihadiri oleh Camat gondang, Camat Baron, Dinas Pengairan Nganjuk, Pak Fauzi Irwana (Wakil Ketua komisi 3) Fraksi Demokrat, Anik Rahayu (Wakil Ketua komisi 4) Fraksi PDI-P, Kades Kedungglugu, Kades mabung, Kades ketawang, Kades Ja'an, dan Para Petani Penggarap Sawah," kata Sartono via seluler pada Rabu (07/09/2022) siang.


Sartono menambahkan bahwa, kalau ada yang ngeluh mungkin tidak pernah ikut musyawarah pertemuan.


"Itu kan sebenarnya pada jaman Belanda adalah rawa, yang saat ini ditempati masyarakat, terkait keluhan pembuangan air tersebut sudah dibahas di Gubuk Sawah, dan sudah disepakati air tersebut akan dibuat pembuangan atau patusan selebar 3 meter, sepanjang kurang lebih 2,5 kilometer, sampai di perbatasan antara Desa Kedungglugu dan Ja'an, hingga dibuang ke sungai widas," imbuh Sartono.


Sartono menjelaskan bahwa pelaksanaan tersebut mungkin insya Allah di tahun 2023.

Halaman:

Tags

Terkini