news

Merasa Kasihan Terhadap Pengguna Jalan, Ini Keluh Kesah Sukamto Rela Jadi Pengatur Lalulintas Non-formal

Jumat, 20 September 2024 | 16:24 WIB
Sukamto ketika membuka jalan untuk truk yang melintas (Foto Sakera Nawacita)

NAWACITAPOST.COM - Merasa kasihan terhadap pengguna jalan yang akan menyebrang di pertigaan wilayah Kecamatan Baron, Sukamto salah satu warga Desa Waung, Kecamatan Baron, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, rela menjadi pengatur lalulintas non-formal, yang sudah berjalan kurang lebih satu tahun.

Wartawan Nawacitapost.com ketika berbincang-bincang dengan Sukamto mengatakan dirinya rela menjadi pengatur lalulintas non-formal dikarenakan merasa kasihan terhadap pengguna jalan yang akan menyeberang di pertigaan Kecamatan Baron, tepatnya dekat Pos JPL 90, atau sebelah timur Polsek Baron, Nganjuk.

Baca Juga: Sudah Sekitar Lima Bulan, Jalan Berlubang di Perlintasan KA Baron Nganjuk Tak Kunjung Diperbaiki

"Kasihan yang melintas kalau tidak ada yang mengatur, kalaupun saya tidak dikasih juga tidak ada masalah dan saya juga ikhlas, bahkan perlengkapan mulai dari rompi, terus klebet (bendera kecil yang digunakan red), juga lampu lalulintas ketika malam hari, dan peluit, semuanya beli sendiri," ucap Sukamto, pada Jum'at (20/9/2024).

Sukamto ketika telah memberikan jalan kepada pengendara yang melintas (Foto Sakera Nawacita)

Menurut Sukamto, ada 7 orang yang mengatur lalulintas non-formal pada tempat dirinya mengatur itu, dan dibagi waktu per 3 jam sekali.

"Kita kadang dalam 3 jam sekali mendapatkan penghasilan sekitar Rp 100.000 (seratus ribu rupiah) kalau rame, kalau sepi biasanya dapat penghasilan Rp 60.000 (enam puluh ribu rupiah) hingga Rp 70.000 (tujuh puluh ribu rupiah)," kata Sukamto di pertigaan dekat dengan Polsek Baron.

Baca Juga: Peduli Keselamatan dan Kenyamanan Warga, Polisi di Gresik Perbaiki Jalan Berlubang

Lanjut Sukamto, pengguna jalan yang melintas terkadang memberi terkadang tidak.

"Orang yang lewat itu kadang memberi Rp 500 (lima ratus rupiah) kadang juga Rp 2.000 (dua ribu rupiah) bahkan pernah ada yang Rp 20.000 (dua puluh ribu rupiah) hingga Rp 50.000 (lima puluh ribu rupiah) juga pernah," tutur orang tua dari tiga anak itu.

Sukamto menambahkan, ketika ada orang yang melintas dan memberikan uang yang lebih, dirinya bersyukur juga mendoakan semoga mendapatkan rejeki pengganti.

Baca Juga: Kabar Duka : Pak Ogah 'Si Unyil' Meninggal Dunia

"Alhamdulillah, semoga mendapatkan rejeki yang banyak, kalaupun tidak ngasih tetap juga ikhlas," imbuh Sukamto.

Kendati demikian Sukamto juga menyadari bahwa profesinya juga memiliki resiko tinggi bahkan taruhannya nyawa.

Halaman:

Tags

Terkini