news

Kebijakan Tak Sinkron, Jenazah Warga Lakarsantri Terlantar di RS dr. Soewandhie

Selasa, 20 Juli 2021 | 13:09 WIB

Surabaya NAWACITAPOST - Sungguh malang jenazah sebut saja ibu S, warga Lakar santri yang terlunta-lunta di RSUD  dr. Mohamad Soewandhie. Menurut keluarga yang menemani di RS, kejadian ini akibat tidak adanya koordinasi antara Pemkot dengan Rumah sakit milik kota Surabaya ini.


Pengurus RW setempat yang turut mendampingi pun sempat heran, begitu sulitnya proses pemakaman jenazah covid-19.


" TPU Jeruk Lakar santri, sejak Februari lalu sudah mendapat Assessment (penilaian, red) dari pihak-pihak terkait. Namun sayang, jenasah dari RS dr. Soewandi sulit untuk dimakamkan disana dan dirujuk untuk dimakamkan di TPU Babat Jerawat. Padahal di TPU Jeruk sendiri sudah ada beberapa jenazah Covid yang dimakamkan rujukan dari RS BDH, RS Cerme Gresik serta RS lain," ungkapnya sembari menunjukkan beberapa surat berstempel pihak terkait melalui tampilan handphonenya, Selasa (20/7/21) dini hari.


Hal ini menurut pak RW menunjukkan tidak adanya koordinasi dari Pemkot Surabaya yaitu Dinkes dan Dinsos dengan Rumah sakit, khususnya RS Soewandi milik Pemkot dan dikepalai Febria Rachmanita yang juga merupakan Kepala Dinas Kesehatan Surabaya.


Dalam hal ini warga merasa kecewa dan membuat berkurangnya tingkat kepercayaan terhadap pemerintah.


" Bayangkan, Pemkot sendiri sudah menginstruksikan kepada pemangku jabatan di kelurahan maupun kecamatan untuk mengupayakan perluasan lahan pemakaman khusus untuk jenazah Covid. Dan hal ini telah dilakukan di wilayah Jeruk lakarsantri. Warga sudah melakukan sesuai dengan aturan yang berlaku, disuruh pasang pagar ya sudah dipasang, pengaturan jarak dengan pemukiman minimal 300 m sudah dilakukan. Dan pada Februari lalu sudah dilakukan Assessment oleh Pemkot dan disetujui oleh seluruh stakeholder termasuk Camat, Lurah, LPMK setempat dll. Jadinya aneh apabila pihak RS dr. Soewandi tidak mendapat informasi tersebut. Seolah tidak ada koordinasi, pihak RS Soewandi mengaku tidak tahu ada lahan makam khusus covid di Jeruk. Polrestabes pun mengaku tidak tahu menahu," terang pak RW menjelaskan kepada pihak RS dan aparat (Polrestabes Surabaya, Satpol PP dan Linmas yang hadir di tempat tersebut. red).


Menurut informasi dari bagian jenazah RS dr. Soewandhie, jenazah ibu S sudah siap dimakamkan secara protokol Covid di pemakaman Babat jerawat, namun keluarga meminta untuk dimakamkan di TPU Jeruk Lakarsantri maka harus ada persetujuan dari pihak-pihak yang terkait.




Baca juga : Demo Tolak Perwali 28, Pengurus Kampung Mundur dari Jabatannya

 

Turut mendampingi, anggota komisi D DPRD Surabaya, Hari Santoso mengaku kecewa melihat tidak adanya koordinasi Pemkot kepada stakeholder terkait pemakaman jenazah Covid.


" Bahkan tadi pagi (Minggu 19/7) Kepala puskesmas sudah mengeluarkan edaran terkait status TPU Jeruk kepada RT/RW Lurah dan Camat. Ini harus diluruskan !" kata Hari Santoso anggota DPRD dari partai NasDem asli dari Lakarsantri ini.


" Intinya, masyarakat sudah dibentur-benturkan oleh pejabat pemkot," tegasnya.


Sebenarnya, masih Hari, sempat terjadi perdebatan antara warga, pihak RS dan Kepolisian. Dan terakhir pihak RS dan Kepolisian sudah memperbolehkan jenazah dimakamkan di Jeruk Lakarsantri asalkan ada jaminan pemakaman dengan protokol kesehatan. Namun yang disayangkan, instruksi terakhir dari wakil sekretaris satgas covid Surabaya, Irvan Widyanto, belum memperbolehkan dengan alasan harus berkoordinasi dengan berbagai pihak terlebih dahulu.



Febria Rachmanita sebagai kepala dinas kesehatan yang merangkap plt. Direktur RSUD  dr. Mohamad Soewandhie belum dapat dimintai informasi, hanya dianjurkan menghubungi pak Kaban tanpa ada penjelasan siapakah yang bersangkutan.


Hingga berita ini diterbitkan, sudah lebih dari 15 jam posisi jenazah masih di dalam peti mati di ruang jenazah RSUD dr. Mohamad Soewandhie. Pihak RS berdalih menunggu surat keterangan dari pihak kelurahan, tapi pak Lurah Jeruk Lakarsantri sampai saat ini terkesan enggan mengeluarkan rekomendasi. (BNW)

Tags

Terkini