Foto : Gatot Nurmantyo
Pada 2020 silam, Gatot bilang sah – sah saja jika dirinya punya keinginan menjadi Presiden 2024. Dia kerap menyebut dirinya sebagai salah satu kandidat Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024. Namun, tak ada angin, tak ada hujan. Justru kini 2021 dirinya justru bilang naif ketika ditanya kembali untuk keinginan menjadi Presiden.
-
Mantan Panglima TNI itu pernah mengatakan. Bahwa sah - sah saja jika dirinya berkeinginan untuk maju sebagai Calon Presiden 2024. Hal itu diutarakannya saat wawancara bersama Karni Ilyas dengan tajuk ‘Manuver Jenderal Gatot’. Dia ditanya, berkeinginan atau tidaknya untuk menjadi Calon Presiden 2024 melalui KAMI. "Hal itu sah-sah saja kalau saya punya keinginan," ujarnya pada (16/10/2020).
BACA JUGA: Rentetan Kasus Anak Hilang di Kepni, Kepolisian Tidak Peduli?
Bahkan, hal itu diperkuat oleh Mantan Politisi Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean. Dia menyampaikan saran. Agar eks Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot menjajakan program - programnya apabila ingin menjadi Presiden. Bukan malah menjual isu - isu seputar Partai Komunis Indonesia (PKI). "Saya sarankan agar Gatot merubah cara-caranya berpolitik. Kalau mau jadi presiden sebaiknya jualan program yang jelas, bukan jualan PKI yang nyata - nyata sudah mati dan tak akan bangkit," ujarnya (28/09/2020).
BACA JUGA: Kepala BNN Lakukan Hard, Soft dan Smart Power Approach Sejalan Instruksi Jokowi untuk P4GN
Disayangkan, kini pentolan KAMI berucap yang lain. Dirinya justru mengatakan bahwa alangkah naifnya untuk maju kontestasi politik Pilpres 2024. “Sekarang kalau mau jadi presiden, presidennya sudah ada. Pak Jokowi. Gimana ceritanya? Kalau saya berpikir untuk 2024, alangkah naifnya. Rakyat sedang seperti ini. Terus saya berpikir, dan mengeluarkan energi saya untuk 2024?” tukasnya pada (17/05/2021).
-
Sementara, KSP Moeldoko tegas mengatakan. Bahwa tidak ada yang bisa dinegosiasikan terhadap NKRI dan Pancasila, itu kunci. Oleh karenanya dirinya pun mau untuk menjadi Ketua Umum Partai Demokrat versi Kongres Luar Biasa (KLB). Menurutnya, ada tarikan ideologis dalam tubuh Partai Demokrat. Selain itu, dia mengklaim ada pertarungan ideologis yang kuat menjelang 2024. Hal ini menjadi ancaman bagi cita-cita menuju Indonesia Emas 2045.
-
“Ada sebuah situasi khusus dalam perpolitikan nasional, yaitu telah terjadi pertarungan ideologis yang kuat menjelang 2024. Jadi ini bukan sekedar menyelamatkan Demokrat. Tapi juga menyelamatkan bangsa. Itu semua berujung pada keputusan saya menerima permintaan untuk memimpin Demokrat, setelah tiga pertanyaan yang saya ajukan dijawab dengan baik oleh rekan - rekan sekalian,” tandas KSP Moeldoko. (Ayu Yulia Yang)
https://www.youtube.com/watch?v=zI0CW97ZvbM