news

Gedung Singa Dijual, Belanda Meradang, Pemkot Surabaya Tenang-tenang

Jumat, 30 April 2021 | 13:57 WIB

Surabaya NAWACITAPOST - Kampanye sekaligus aksi penyelamatan bangunan cagar budaya Gedung Singa di jalan Jembatan Merah 19-23 Surabaya terus dilakukan.


Sebagai bagian dari aksi kampanye penyelamatan dan pemanfaatan kawasan historis dan heritage Kota Surabaya, terlebih terhadap Gedung Singa yang berarsitektur moderen klasik dengan nama resminya De Algemeene, Radio OMROEP BERSAMA di Belanda akan menyiarkan langsung (Live Streaming) dari link FB Subtracks Heritage Track di Kota Tua Surabaya, Minggu 2 Mei 2021 yang bertepatan dengan hari Pendidikan Nasional.


Selain dari Belanda, dukungan penyelamatan dan pemanfaatan Gedung Singa juga datang dari profesional di Hongkong dan Myanmar.




Gedung Singa di jalan Jembatan Merah 19-23 Surabaya

Gedung Singa, menurut sejarah yang diceritakan Nanang Purwono pegiat Cagar Budaya Begandring Soerabaia merupakan  bangunan bersejarah abad 20.


Sebuah perusahaan asuransi jiwa, Algemeene Maatschappij van Levensverzekering en Lijfrente, mendirikan sebuah bangunan bergaya baru, berbeda dari bangunan bangunan model Indische. Bangunan ini mulai dibangun pada 1901 dan selesai pada 1903. Bangunan ini selanjutnya dikenal dengan nama Gedung Singa.


" Design arsitektur Gedung Singa ini sangat unik. Design nya kontras dan total berbeda dari gedung gedung yang ada di Willemkade. Apalagi gedung ini diarsiteki oleh dua arsitek. Awal ya oleh biro arsitek Hulswit Fermont Cuypers, namun rancangan tersebut kurang disetujui oleh menejemen perusahaan, " terang peng-ide program 'Blakraan' yang tayang di salah satu televisi lokal Surabaya, Kamis (29/4/21)


Selanjutnya, design untuk pembangunan kantor Algemeene Maatschappij di Willemkade, Soerabaja dipercayakan kepada arsitek HP Berage. Akhirnya Berlage menggambar gedung tersebut dengan tanpa meninggalkan desain awal yang telah dibuat oleh Hulswit. Bahkan biro Hulswit Fermont Cuypers masih dipercaya untuk membangun gedung berdasarkan rancangan yang dibuat oleh Berlage. Jadi, Berlage sebagai arsitek dan biro Hulswit sebagai pemborong pembangunan.


Setelah gedung selesai dibangun pada tahun 1903, di kanan dan kiri pintu masuk diberi patung binatang mitologis Mesir, yaitu singa bersayap. Patung tersebut dibuat oleh pematung J. Mendes Da Costa. Sementara pada penampang fasade diberi hiasan keramik bergambar yang dibuat oleh seniman yang sangat terkenal pada saat itu, Jan Toorop. Lukisannya juga mengandung filosofi perusahaan.


" Jadi, gedung Algemeene Maastchappij atau yang sekarang dikenal dengan nama Gedung Singa, tidak hanya menjadi bangunan pertama abad 20 di Willemkade (jalan Jembatan Merah), tapi juga menjadi bangunan tereksotik di kawasan ini. Apalagi bangunan ini dirancang oleh arsitek terkenal HP BerlageBerlage, " cakapnya.


Melihat riwayat kesejarahan gedung ini, maka sangat layak kiranya gedung ini dilestarikan untuk dimanfaatkan bagi kepentingan publik untuk tujuan tujuan ilmu pengetahuan, pendidikan, penelitian, budaya dan pariwisata.


Dalam hal ini Nanang cukup menyayangkan sikap Pemkot Surabaya terhadap penjualan Gedung milik PT Jiwasraya ini.


" Jika dunia peduli, kenapa pemangku kebijakan di kota kurang bergeming ? " tanyanya.


" Ayo kita cintai warisan pusaka di kota kita masing masing, " Pesan Nanang.


Sementara Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kota (Disparta) Surabaya sebagai pihak yang bertanggung jawab terhadap aset bangunan cagar budaya yang penuh cerita sejarah tersebut, terlihat tenang-tenang saja.


Hingga berita ini diunggah, Antiek Sugiharti KaDisparta Surabaya belum mau memberikan keterangan saat dihubungi melalui ponselnya. (BNW)

Tags

Terkini