Surabaya NAWACITAPOST - Wakil ketua DPRD kota Surabaya, AH Thony mengapresiasi solusi yang ditawarkan Komisi B terkait perselisihan pemanfaatan lahan eks Penjara Koblen. Dalam hearing Komisi B, Rabu (24/3/21) bersama pihak tekait membuahkan Komitmen dari pemilik sekaligus pengelola untuk memanfaatkan lahan eks Penjara Koblen menjadi pasar Wisata.
" Pemilik dan pengelola mengakui bahwa sebagian lahannya akan dipakai bisnis perdagangan buah dan sayur. Itupun sudah melalui proses yang panjang, Pemkot juga sudah mengeluarkan surat ijinnya," ungkap Thony di gedung DPRD Surabaya, Kamis (25/3/21).
Thony mendengar bahwa nantinya disitu juga akan diadakan museum sejarah Surabaya, pasar seni dan edukasi sekaligus pusat ekonomi kreatif. Hal ini menurut Thony adalah bentuk kesungguhan dari pemilik dan pengelola untuk memberikan nuansa baru bagi wisata di Surabaya.
" Untuk bisnis apa, kita tidak bisa mengintervensi maka serahkan kepada yang bersangkutan. Chemistry-nya dimana," katanya.
Kalau memang sudah disepakati menjadi pasar buah dan sayur, ya tinggal bagaimana pengelolaan perdagangannya menjadi sebuah pemandangan yang baik. " Tidak sekedar untuk bertransaksi, tetapi orang juga belajar cara berdagang yang baik. Mulai dari menurunkan hingga melepaskan buah terjadi sirkulasi yang bagus," ungkapnya.
Kemudian juga bisa dipertontonkan suatu budaya ekonomi, cara menjual dan menawarkan hingga sampai cara berpakaian, itu juga bisa menjadi sebuah materi-materi edukasi yang dapat disampaikan kepada masyarakat terutama untuk anak-anak sekolah sehingga mereka mendapatkan pelajaran bagaimana berbisnis yang baik.
Nantinya, Thony menambahkah bahwa dengan berbelanja disitu bisa menyenangkan karena mendapat nilai plus dengan dihantarkan pada lorong waktu yang lalu, berada ditempat yang sangat bersejarah. Disitu juga ada spirit perjuangan sekaligus spirit penegakan hukum dan keadilan yang luar biasa.
" Ditempat tersebut, nantinya pengunjung akan bermetamorfosis sebagai generasi yang lalu dan sekarang. Kalau dulu ada suatu kondisi yang tidak baik, maka generasi saat ini harus memperbaikinya," harapnya.
Terlebih, anak bisa melihat spirit penegakan keadilan dengan membayangkan ruang tahanan untuk orang yang bersalah, maka akan tertanam pribadi yang adil dan tidak pandang bulu untuk tegaknya hukum di negri ini.
Hal ini bukan pekerjaan yang gampang karena menyangkut tata desain, sarana prasarananya, dan dibutuhkan etika dalam pengelolaannya. " Itu dibutuhkan pemahaman-pemahaman yang komplek sehingga kawan-kawan dari pecinta Cagar budaya mulai intens untuk berkomunikasi dengan pemilik supaya membuka diri dan menerima masukan," terang Thony.
Dari kabar yang diterima, masih Thony, pihak pemilik dan pengelola mau dan terbuka kepada pemerhati Cagar budaya. Bahkan telah terjadi titik temu dengan komisi B.
" Kami berharap, solusi-solusi seperti ini bisa menjadi tradisi yang baik sehingga polemik bisa selesai dengan sebuah solusi. Jangan sampai polemik dan konflik dibuka lalu dibiarkan. Itu tidak bertanggung jawab," tegasnya.
Kami mengapresiasi yang dilakukan Komisi B, ada Front yang dibuka antara pemilik dengan Komisi B dan endingnya cukup menyenangkan sekaligus memberi inspirasi bagi Komisi-komisi lain.
Menurut Thony, hadirnya pasar di Koblen juga bisa menjadi SOLUSI dan AUTO KRITIK. Kenapa ? karena ini adalah semangat bagi pengelola pasar tradisional untuk bersaing meningkatkan kualitasnya.
Thony mengajak berfikir, kenapa Pemkot sampai mengeluarkan perijinan pasar Koblen sedangkan disebelah ada pasar Blauran. Ada kemungkinan hal ini sudah menjadi rencana Diversifikasi atau Penganekaragaman dari Pemerintah kota. (BNW)