news

Potensi Keberlanjutan Food Estate Humbang Hasundutan untuk Jangka Panjang

Senin, 8 Maret 2021 | 10:32 WIB
Humbang Hasundutan, NAWACITAPOST - Adapun kajian penulis pribadi Herbin Lumban Gaol, SP pada (07/03/2021) melalui keterlibatan langsung dan menjadi penerima manfaat Food Estate (FE) di Humbang Hasundutan (Humbahas). Tepatnya sejak FE di Kabupaten Humbang Hasundutan bergulir tengah tahun lalu. Mulai dari perencanaan, tracking lokasi, penentuan batas batas, pembagian komoditi berdasarkan hamparan dan pembenahan kelembagaan 7 kelompok tani pelaku pertanian FE. Kemudian juga berdasar pada pengolahan lahan, infrastruktur pendukung, penanaman, perawatan berkala hingga panen perdana di lahan DEMFAM. Yang mana menjadi demplot dan baru - baru ini panen perdana bersama Gubernur di lahan warga.

Foto : Kondisi di Food Estate Humbang Hasundutan

Ditengah banyaknya sorotan dan penilaian atas pelaksanaan perdana FE yang mencakup tiga komoditi budidaya (kentang, bawang putih dan bawang merah), perlu dilakukan evaluasi menyeluruh untuk perbaikan kedepan. Sesungguhnya konsep FE yang bersumber dari APBN menjadi pemberian fasilitas All Service terbesar yang pernah ada di Humbang Hasundutan. All service (semua pelayanan) semestinya diberikan dan disediakan.

BACA JUGA: Anies Baswedan Masih Menyandang Gelar Gubernur Terbodoh?

Setidaknya meliputi:
1. Pengukuran batas lahan
2. Pembersihan tunggul kayu dan meratakan bagian yang berbukit menggunakan alat berat
3. Pengolahan lahan bertingkat (traktor singkal/bajak 2 kali, router 3 kali, kemudian pembuatan bedeng)
4. Pemberian fasilitas perlakuan tanah awal (dolomit kwalitas terbaik, pupuk organik padat, kompos ayam, mikroba pembenah tanah, pupuk organik cair dll)
5. Pemberian mulsa total untuk tiap hektar
6. Bibit sekitar 1 ton perhektar untuk bawang dan 2 ton perhektar untuk kentang
7. HOK untuk pembersihan lahan, penaburan dolomit dan kompos, pemasangan mulsa, sampai penanaman hampir 10 juta perhektar
8. Pupuk dan obat obatan selama perawatan
9. Terpal kualitas terbaik ukuran 6 x 12 meter untuk pembuatan embung mini di lahan masing - masing
10. Satu drum plastik 200 liter tiap hektar
11. Mesin pendukung (kultivator, mesin penyedot air 3 inchi, mesin pestisida bertekanan tinggi yang biasa untuk cuci sepeda motor, selang 100 meter)
12. Sertifikat bagi lahan yang tidak memiliki potensi permasalahan agraria
13. Pendampingan sarjana pertanian
14. Pengawasan, evaluasi harian dan support harian
15. Fasilitas pengairan otomatis sistem sprinkle

BACA JUGA: Terlalu! Mayoritas Kada Terpilih 2020 di Kepni Tak Punya Visi Misi Perihal Narkoba

Jika saya hitung dengan kalkulasi kasar anggaran keseluruhan yang diberikan tiap hektar rata - rata bisa mencapai lebih dari 150 juta baik berupa fisik maupun nonfisik. Dengan hasil pertanian keseluruhan adalah buat warga atau petani pelaku penerima manfaat dengan penampungan panen langsung ke FE, tanpa pemotongan seperserpun.

BACA JUGA: Pertama dalam Sejarah, Humbang Hasundutan Jadi Lumbung Pangan Nasional

Sesungguhnya dengan beribu manfaat yang diberikan, beribu fasilitas pendukung yang diletakkan dan banyaknya tenaga ahli dilapangan, juga besarnya anggaran seharusnya FE memberikan hasil yang sangat besar. Didalam prosesnya, selain tantangan alam FE menjadi tidak maksimal yang diakibatkan oleh beberapa hal terutama dari pihak petani penerima manfaat FE.

BACA JUGA: Ternyata! Wali Kota Bekasi Pepen Pernah Jalani Pahitnya Hidup

1. Petani tidak memperlakukan manfaat FE sebagai stimulus pertanian melainkan bantuan.
2. Tingkat penghargaan dan pemanfaatan bantuan yang sesungguhnya adalah stimulus sangat rendah.
3. Petani Tempatan Penerima Manfaat FE atau Pemilik Lahan pada umumnya adalah petani komoditas andaliman dan haminjon yang dibudidaya secara tumpang sari dengan potensi penghasilan mingguan bisa mencapai 5 juta. Sehingga berjibaku di FE dengan potensi hasil yang masih sangat rendah akibat kondisi lahan bukaan baru dengan beribu persoalan menjadi tidak menarik.
4. Pembenahan kelembagaan petani kurang maksimal.
5. Petani lebih memilih bantuan berupa cash atau kontan daripada potensi stimulus yang bisa mencapai 200 juta per musim tanam. Tentu dengan pengorbanan waktu dengan keseriusan dan perlakuan penuh sepanjang musim tanam.
6. Petani belum menerapkan sistem managemen dalam pengelolaan pertanian berbasis food estate. Baik manajemen diri, disiplin kerja dan managemen usaha pertanian.
7. Tidak ada sistem punishment atau peringatan bagi setiap langkah pertanaman yang tidak konsisten bagi petani.
8. Banyaknya uang yang mengalir dari berbagai pekerjaan berupa borongan menjadi sumber penghasilan yang lebih menarik daripada pertanian itu sendiri.
9. Adanya jarak antara management pengelola FE dan petani atau warga. Karena komunikasi yang kurang lancar diakibatkan perbedaan suku dan karakter juga penguasaan bahasa yang sangat berbeda warga Tempatan dan para petugas yang hampir kesemuanya turun dari Jawa.
10. Petani lebih terdidik untuk menjadikan FE sebagai ladang duit bukan ladang usaha pertanian.
11. Semangat petani untuk tetap merawat tanamannya secara rutin menjadi sangat rendah akibat pertumbuhan tanaman yang kurang memuaskan sehingga kunjungan lapangan sangat rendah.
12. Petani sangat jarang yang memiliki kemampuan dan memampukan diri utk menambah swadaya berupa pembelian pupuk tambahanan atau kompos juga HOK perawatan.

-
Foto : Kondisi di Food Es

Di lain pihak, evaluasi juga perlu dilakukan terhadap stakeholder pengelola FE :

1. Setiap pekerjaan terlalu digenjot berdasarkan target waktu.
2. Penanaman hamparan secara keseluruhan secara serentak menjadi terkendala akibat infrastruktur pengairan yang belum siap sehingga dimusim kemarau yang sudah tiba tanaman dan tanah menjadi kekeringan.
3. Luas hamparan penanaman 215 ha tidak semuanya memiliki cadangan sumber air berupa sumur resapan sehingga tidak bisa melakukan penyiraman secara swadaya meskipun fasilitas mesin lengkap.
4. Infrastruktur jalan tidak sinkron dengan laju pertanaman. Sehingga mobilisasi bahan pertanian, tenaga kerja dan lain lainnya menjadi lambat.
5. Tidak ada pengawasan rutin secara ketat dan terukur berdasarkan management usaha pertanian skala besar dalam Mega proyek FE yang seharusnya memiliki sistem pengawasan dan management ketat.

BACA JUGA: Petarung Bebas Mantili Gea, Wujud Yasonna Laoly Support Penuh Putra Putri Ono Niha

Melihat persoalan yang begitu kompleks, terutama dari sisi petani berdasarkan karakter, motif pertanian, tingkat pengetahuan, etos kerja dan semangat gotong royong yang dimiliki petani. Ada kemungkinan periode tanam kedua akan mengalami hal yang sama. Sehingga yang terjadi adalah pemborosan anggaran dan semakin rendahnya minat petani pada pertanian berbasis FE.

BACA JUGA: Mahfud MD Lebih Berpeluang Dibanding Prabowo Jadi Presiden 2024

Menjadi penting evaluasi tuntas mendalam dan perubahan sistem pertanian, perombakan management. Menyerahkan sistem pertanian FE pada pihak lain berbasis korporasi meskipun tenaga dan lahan pertanian yang digunakan sama adalah solusi terbaik. Dengan management terukur dan menggunakan sistem punishment bagi pekerjaan dan perlakuan yang berpotensi pada kegagalan.

BACA JUGA: Petarung MMA Mantili Gea, Anak Yatim dari Kepulauan Nias Jadi Vira

Hal penting yang juga harus dilakukan adalah sinergi dan keterlibatan pemerintah daerah secara penuh karena apapun dan bagaimanapun, pemerintah daerah lebih paham karakter dan apa yang terbaik untuk masyarakatnya. Upaya pemerintah pusat yang telah berjibaku membantu masyarakat melalui program FE harus dihargai, didukung namun tetap harus dikritisi. Jangan sampai ada upaya - upaya untuk membenturkan pemerintah dengan masyarakat petani, karena hanya akan kontraproduktif.

-
Foto : Kondisi di Food Estate Humbang Hasundutan

Saatnya, semua pihak saling bahu membahu dan dilibatkan sesuai peran masing-masing, agar FE kedepan semakin mendekati harapan Bapak Presiden dan segenap anak bangsa. Semoga. Namun memang ini pun akan terus didalami oleh penulis dalam kajiannya dengan berbagai pihak lain yang terlibat dan merasakan sebagai penerima manfaat FE.

Sumber Penulis : Herbin Lumban Gaol

 

Terkini