Surabaya NAWACITAPOST - Ibarat Malang Tak Bisa Ditolak Mujur Tak Dapat Diraih, inilah nasib yang dirasakan keluarga Rama, 36 tahun dan Sinta, 31 tahun (bukan nama sebenarnya) warga jalan Gresikan Surabaya.
Dimasa Pandemi Covid ini, beban kehidupan yang dirasakan keluarga 2 anak ini lebih berat hingga harus gali lubang tutup lubang untuk sekedar memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Penggadaian swasta, sudah menjadi makanan mereka sehari-hari. Mulai dari gadai Handphone, baju, dan lain-lain bahkan KK (kartu keluarga) yang hanya dihargai 100 rb.
Masalah makan, memang keluarga ini masih bisa meski setiap hari hanya nasi atau mie instan sebagai menunya. Terkadang kalau ada rejeki lebih, bisa membeli telur meski dibagi 4 orang.
Tapi saat ini beban mereka bertambah dengan adanya sekolah Daring (dalam jaringan/online). " Anak saya yang kelas 2 SD di SDN Kapasan II sudah sebulan lebih tak bisa sekolah daring," ujar Sinta saat bertemu media ini di ruang Fraksi PDI Perjuangan DPRD kota Surabaya, Senin (15/2/21)
Saat ditanya mengapa tidak bisa sekolah, Sinta menjelaskan bahwa sudah sebulan lebih Handphone satu-satunya yang mereka miliki telah tergadai untuk makan sehari-hari. Sedangkan saat ini sekolah hanya bisa melalui Daring.
" Ya, gimana bisa sekolah daring, HP kami satu-satunya masuk gadai," ujarnya.
Sinta mengaku, beberapa kali sudah berusaha pinjam HP milik tetangga tapi ndak bisa terus menerus karena selain segan, nomor HP harus dimasukkan group sekolah. " Masak nomor telpon tetangga saya masukkan group sekolah, kan ndak mungkin," jelas Sinta yang mengaku suaminya hanya kerja sebagai kuli bangunan panggilan dan saat ini sedang sepi-sepinya.
Untuk bantuan langsung tunai (BLT) dari pemerintah, Sinta memang mendapatkan 300rb setiap bulannya namun itu belum bisa mencukupi kebutuhan selama sebulan. " BLT hanya bisa kita belikan beras mas," ungkapnya.
Terkait tujuannya ke kantor Dewan, Sinta yang datang bersama Bibi dan kedua anaknya tersebut bermaksut untuk berkeluh kesah dan meminta solusi kepada anggota DPRD yang dikenalnya yakni Baktiono ketua Komisi C.
Mewakili Baktiono yang sedang menjalankan tugas, Ahmad Hidayat Wakil Sekretaris DPC sekaligus Tenaga Ahli Fraksi PDI Perjuangan Kota Surabaya membenarkan bahwa ada seorang ibu rumah tangga yang datang meminta bantuan untuk bisa menebus HP yang sudah digadaikan. Handphone tersebut sangat penting karena untuk belajar wat daring anaknya di Sekolah Dasar (SD).
" Kami mendapatkan informasi dari pak Baktiono, ketua komisi D sekaligus sekretaris DPC PDI-P Surabaya, dan diminta menangani keluhan warga yang tidak bisa mengikuti sekolah Daring karena HP-nya digadaikan," terangnya.
Disini Ahmad berusaha mengumpulkan data-data warga tersebut sekaligus untuk sementara membantu menebus HP supaya dapat kembali dijadikan sarana belajar daring.
Dari sini, nantinya akan dilakukan pengecekan apakah warga tersebut sudah masuk data Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Kalaulah belum, maka akan segera diperjuangkan untuk bisa mendapat intervensi kebijakan lainnya.
Menurut Ahmad kejadian ini adalah satu dari ribuan masyarakat yang mengalami kesulitan dan layak menjadi keprihatinan bagi semua pihak.