Ramli mengatakan pada Senin, (19 /10). Kasus ini menunjukkan model PJJ harus diubah oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Kejadian ini menjadi peringatan keras untuk Kemendikbud agar segera berbenah. "Stress yang dialami siswa akibat pembelajaran jarak jauh yang tidak memiliki standar khusus dan cenderung sangat memberatkan siswa dari sisi tugas-tugas dari guru telah mengakibatkan depresi terhadap siswa yang akhirnya dapat berujung pada kejadian bunuh diri seperti ini," ujarnya.
Baca Juga : Protes Warga Pasca Penggerebekan Dua Perangkat Desa Sumberagung Harus Dicopot
Penugasan selama PJJ memang menjadi faktor utama yang membuat pelajar terbebani. Belum lagi, jumlah mata pelajaran yang banyak semakin membuat para pelajar tertekan.
"14 sampai 16 mata pelajaran tentu bukan sesuatu yang mudah apalagi dengan dukungan jaringan internet yang tidak memadai," lanjutnya.
Dia meminta standar penugasan hingga model pembelajaran ini disederhanakan. Selama ini, menurutnya, Kemendikbud maupun Dinas Pendidikan terkesan membiarkan pelajar dibebani oleh PJJ yang berat. Hingga saat ini upaya penyederhanaan kurikulum tampaknya masih mengalami jalan buntu. (Mendikbud) Nadiem Makarim seolah tidak punya formulasi untuk menuntaskan masalah jumlah mata pelajaran yang sangat membebani anak didik ini. Agar kejadian serupa tidak berulang, dia meminta kepala sekolah maupun guru konseling dapat memahami kondisi pelajar. Harus ada pertimbangan saat memberikan pembelajaran dan penugasan kepada peserta didik. Dan mempertimbangkan ketersediaan alat, internet di daerah, dan kemampuan ekonomi siswa.