BACA JUGA: AHY Tolak Omnibus Law Sebelum Baca, Kader Lari ke Megawati?
Pemerintah Daerah sejatinya semestinya berpihak kepada kepentingan dan kesejahteraan masyarakat yang dipimpinnya. Masa pemerintahan Bupati Idealisman Dachi periode 2011 hingga 2016 di Kabupaten Nias Selatan terindikasi kurangnya perhatian. Terutama terhadap pengembangan daya tarik wisata khususnya Bawomataluo.
Foto : Mantan Sekjend FORNISEL, Kornelius Wau
Adapun keterangan dari Mantan Sekjend FORNISEL (Forum Nias Selatan) Kornelius Wau melalui WhatsApp ke Nawacitapost pada 13 Oktober 2020 menyampaikan senada dengan tulisan dalam buku tersebut. Dirinya menyebutkan bahwa pernah beraudiensi dengan ID mengenai sektor pariwisata dan perikanan yang dirasa diabaikan. Sehingga dirinya justru mempertanyakan ketidakbergairahan perikanan dan pariwisata saat masa kepemimpinan ID.
BACA JUGA: Bareskrim Tangkap KAMI, Ternyata Ngeri Percakapannya, PKS Justru Minta Bebaskan
“Sektor pariwisata, saya lebih concern di sektor ini, sesuai dengan potensi yang perlu disentuh. Karena pada dasarnya Pulau Nias pada umumnya merupakan daerah perikanan dan pariwisata. Bahkan kedua potensi ini ada di Nias Selatan. Tetapi kenapa pada jaman Pak Idealis, Dinas Pariwisata dilebur ke Dinas lain? Bapak Presiden Jokowi saja pada saat berkunjung ke Pulau Nias mendukng kedua potensi diatas. Di zaman pak ID, pariwisata di Nias Selatan tidak bergairah,” kata Kornelius Wau.
-
Kornelius Wau menambahkan. “Terbukti disaat ID menjabat, nyaris tidak ada kegiatan pariwisata dan perikanan. Bahkan tidak ada kegiatan Kompetisi Selancar, Pesta Yaahowu dan Kapal Pesiar tidak pernah berlabuh di Nias Selatan,” tambahnya. Lalu dirinya menceritakan jawaban ID saat beraudiensi dengannya. ID berpendapat bahwa bakal merugi dan tidak ada feedback dengan melakukan kegiatan seperti Kompetisi Selancar, Pesta Yaahowu dan Kapal Pesiar berlabuh. “Ketika melakukan kegiatan disebutkan maka kita merugi. Tidak sesuai feedback dari budget yang kita keluarkan,” ucapnya.
BACA JUGA: Marissa Haque Cari Panggung Pakai Omnibus Law?
Namun justru Kornelius Wau mempertanyakan bahwa biasanya setiap kegiatan yang dilakukan, ada cost yang mesti dikeluarkan (marketing fee dari kegiatan yang dilakukan). “Pak Bupati semestinya jauh lebih memahami sebagai pengusaha dan mantan marketing. Sebagai contoh Malaysia, setiap mendatangkan Wisman , Malaysia harus mengeluarkan cost 15USD. Sementara Indonesia cuma 2USD. Itu memudahkan kita untuk mendatangkan Wisman. Tinggal bagaimana kita punya niat untuk melakukan,” jelasnya kepada ID kala beraudiensi.
-
Kemudian Kornelius Wau menyampaikan. “Akan tetapi menurut ID tidak setuju karena di Nias Selatan yang perlu dikembangkan Kelapa Sawit. Bila dibandingkan dengan di zaman pak Hilarius Duha (HD), dunia Pariwisata dibangkitkan kembali dari mati suri selama 5 tahun. Terbukti dari kegiatan – kegiatan yang dilakukan Al Yaahowu Nias Festival, Kompetisi Selancar dan Kapal Pesiar berlabuh yang dapat merangsang pertumbuhan perekonomian. Karena kegiatan ini menyasar ke seluruh lapisan masyarakat,” jelasnya.
BACA JUGA: AHY SBY bersama Demokrat Bagai Air di Daun Talas
Lebih lanjut dikatakan Kornelius Wau. “Kita akui masih banyak kekurangan, karena dalam hidup ini tidak ada yang sempurna. Semoga informasi ini dapat membuka pikiran dan hati masyarakat Nias selatan dalam menentukan pilihan. Karena kedua pasangan calon, masyarakat Nias Selatan pernah merasakan kepemimpinan keduanya,” pungkasnya. Namun saat ID mengucapkan janji untuk Pilkada 2020 pada 4 September 2020 tidak menyebutkan sektor pariwisata dan perikanan. “Kalau Tuhan berkenan kami memimpin Nias Selatan ke depan, maka kami pastikan gaji PTTD dan GBD akan kami naikkan, serta kontrak kerja akan dipermanenkan,” janjinya.
-
Padahal, dalam kunjungan kerja ke Kepulauan Nias, Presiden Joko Widodo atau Jokowi melihat langsung potensi dari daerah tersebut yang dapat ditingkatkan ke depannya. Oleh karenanya, saat berbicara di hadapan pemerintah daerah, masyarakat, dan tokoh adat setempat di Pendopo Kabupaten Nias, Sumatera Utara, 19 Agustus 2016, Presiden menitipkan pesan. Terlebih kepada pemerintah daerah setempat agar fokus terhadap pengembangan potensi pariwisata tersebut.
BACA JUGA: Bukan Saatnya Lagi, Takut dan Khawatir akan Rampok?
“Saya lihat dari atas pas turun, potensi terbesar ada dua menurut saya. Pertama, pariwisata. Kedua, perikanan. Dua ini kita harus fokus,” tegas Presiden. Presiden yang hadir bersama Ibu Negara Iriana Joko Widodo meyakini. “Bila Kepulauan Nias ini fokus pada dua potensi tersebut, pertumbuhan ekonomi daerah tersebut akan meningkat dengan tajam,” tuturnya. Presiden pun meminta pembangunan industri cold storage perikanan untuk dapat dimulai.
-
“Tapi sekali lagi, faktor keamanan sangat diperlukan. Faktor keterbukaan menerima investasi juga diperlukan. Faktor dalam menerima wisatawan juga harus terus disampaikan ke masyarakat,” imbuh Presiden. Terkait dengan potensi wisata dan kaitannya dengan infrastruktur jalan di daerah tersebut, Presiden menyatakan bahwa saat ini sudah tidak ada masalah yang berarti. “Tadi saya lihat di beberapa ruas jalan, di sini insya Allah tidak ada masalah,” terang Presiden. (Ayu Yulia Yang)
BACA JUGA: Yasonna Laoly Bangga Produk Narapidana, Diminta Daftarkan ke Ditjen HKI