-
Baca Juga : Jangan Sembarang Pakai, Kini Pemerintah Terbitkan Standar SNI Untuk Masker Kain
Ahmad membenarkan manusia saat ini bisa melakukan banyak hal. Akan tetapi, manusia belum bisa melakukan modeling dengan baik. Buktinya, asam amino pada SARS-CoV-2 justru 10 kali lebih kuat dari SARS-CoV-1. Ini yang mungkin bisa menjelaskan Covid-19 bisa mudah bereplikasi di rongga napas atas. Karena, begitu dia nempel di napas atas, dia punya cukup kait, dia bisa tumbuh. Sementara kalau yang SARS-CoV-1, karena dia lebih lemah, dia harus turun dulu ke bawah, ke paru-paru, baru dia bisa bereplikasi di situ. Disisi lain, Yan sebagai sosok inkonsisten karena banyak menuduh orang lain dan terkesan memaksakan laporannya. Selain itu, dia tidak sepakat furin pada SARS-CoV-2 direkayasa. Padahal, dia menyebut furin pada SARS-CoV-2 bisa berasal dari organisme lain dan bukan sesuatu yang unik. Virus corona bisa mengalami 20 mutasi per tahun. Sehingga, perbedaan SARS-CoV-1 dengan SARS-CoV-2 bisa sangat banyak. Virus corona kelelawar RaTG13 yang dituding Yan sebagai hal yang tidak benar merupakan hal yang salah. Sebab, dia juga menyebut RaTG13 memiliki perbedaan hingga 4 persen dengan SARS-CoV-2. Bisa jadi SARS-CoV-2 sebenarnya sudah ada itu bahkan mungkin 50 sampai 70 tahun lalu dia sudah mulai ada dari evolusi mutasi biasa. Ia sepakat dengan peneliti China lain yang menyebut mutasi virus corona akibat dari kebiasaan warga China memakan satwa eksotis, seperti kelelawar. Sehingga, semakin sering manusia berinterkasi dengan satwa liar itu tinggal menunggu statistik saja, kebetulan dia akan ketemu dengan variasi yang cocok, yang salah satunya adalah SARS-CoV-2. Secara filogenetik ini bukan buatan manusia. Alam menunjukkan variasi alam luar biasa.
Baca Juga : Baru Menikah 8 Jam Langsung Minta Cerai