BACA JUGA: Bukan Saatnya Lagi, Takut dan Khawatir akan Rampok?
Foto : 4 Pasangan Bacakada Kepulauan Nias Membunuh sebelum Berkuasa?
Covid 19 merupakan virus yang cukup ganas dalam penyebarannya. Begitu cepat menyebar. Bisa menginfeksi banyak orang. Bahkan menimbulkan kematian cukup banyak. Kini sedang gencar 3 M untuk ditaati oleh semua orang. Terutama masyarakat Indonesia. Sudah ada contoh di kota Sibolga. 3 dari bacakada terinfeksi Covid 19. Tapi seolah 4 pasangan bacakada Kepni tak peduli. Mungkin saja ingin mendongkrak popularitas dalam pemilukada (pemilihan umum kepala daerah). Mengumpulkan massa sama saja mengumpulkan bakal jadi rakyatnya kelak yang dipimpinnya. Sama saja berarti mengorbankan rakyatnya. Mengorbankan nyawa bertaruh dalam virus Covid 19. Menabrak peraturan yang sudah ada. Tentu saja demi kekuasaan pemerintahan daerah (pemda). Bisa mudah semua yang ada saat pendaftaran terinfeksi. Sisi lain pun bisa ditengok. 4 pasangan bacakada tidak kreatif dalam menarik simpati masyarakat. Lantas bisa dipertanyakan kelak sudah jadi pimpinan daerah. Program – program yang digadang bisa atau tidaknya direalisasikan secara nyata. Terlebih bisa mengorbankan rakyat demi kekuasaan. Tentunya nanti usai jadi pemimpin daerah dihadapkan dengan anggaran daerah, bisa mengabaikan kepentingan rakyat. Bisa saja menggunakan anggaran sebesar – besarnya untuk sebuah popularitas kepemimpinannya. Ya tentunya biar dipandang sama masyarakatnya sebagai sesuatu yang ‘wah’. Padahal anggaran yang dipergunakan adalah anggaran daerah alias negara alias rakyat. Kebohongan publik bisa saja diciptakan.
BACA JUGA: Pilkada 2020 Kepulauan Nias, Tak Ada Jaminan Incumbent Menang
-
Seperti terlihat dalam pendaftaran 4 pasangan bacakada Kepni. Diantaranya Fodela (Fonaha Zega dan Emanuel Zebua) untuk Nias Utara, Idealisman Dachi dan Sozanolo Ndruru untuk Nias Selatan, Khenoki Waruwu dan Era Era Hia untuk Nias Barat dan Christian Zebua dan Anofuli Lase untuk Kabupaten Nias. Terlihat keempatnya mengajak massa yang kuantitasnya berlebih dan terbanyak. Mana mungkin bisa sejumlah massa demikian menaati 3 M. Tampak jaraknya pun tidaklah ada 2 meter. Saling berdekatan dan berkerumun. Mencuci tangan sebanyak massa demikian pun dipertanyakan lokasi cuci tangannya. Kemudian terlihat pula banyak kuantitas tidak memakai masker. Andaikata satu terinfeksi maka semua akan terinfeksi. Logikanya demikian adanya. Virus Covid 19 begitu cepat dalam penyebarannya. Otoli Zebua selaku Sekretaris Jenderal (Sekjend) HIMNI (Himpunan Masyarakat Nias Indonesia) pun turut bicara. Hal tersebut sangat disayangkan. Tidak adanya kesadaran wajib 3 M protokol kesehatan. Berharap tidak terulang pada proses berikutnya seperti sosialisasi atau kampanye. Setidaknya bisa lebih kreatif dalam menarik simpati masyarakatnya. Bisa mungkin dengan video atau foto yang unik sehingga masyarakat tertarik memilihnya. Tidak perlu mengajak untuk berkerumun. Malah justru menginfeksi banyak orang. Tentu nantinya akan semakin memakan banyak korban Covid 19. Kalau demikian, pemimpin semacam ini mencelakakn rakyat, alasan yang dipergunakan untuk mendukungnya jadi tidak jelas. Tidak diperlukan lagi untuk mendukung sosok bakal pemimpin yang bisa membunuh rakyatnya sendiri. Sisi lain memang ada sebagian yang bisa dijadikan contoh. Tidak menarik banyak massa. Mempertimbangkan banyak hal. Sehingga demikian bisa juga tim suksesnya yang salah pemahaman. Bahwa membawa banyak massa, lebih meyakinkan popularitas dukungan bacakadanya. (Ayu Yulia Yang)
BACA JUGA: Penolakan Laporan Anies Bisa Berujung Pecat
-