NAWACITAPOST.COM — Di balik megahnya Doulos Hope, bahtera buku terapung internasional yang kini menambat sauh di Jakarta Utara, ada gerak senyap dan presisi tinggi yang menjamin jutaan lembar jendela dunia sampai ke tangan masyarakat Indonesia.
Selaras dengan misinya melintasi benua untuk membagikan harapan dan pengetahuan, kehadiran ribuan literatur mancanegara di atas kapal tersebut tidak lepas dari pengawalan ketat serta layanan prima Bea Cukai Tanjung Priok.
Berdasarkan rilis resmi yang diunggah akun Facebook Direktorat Jenderal Bea dan Cukai pada Senin (12/10/2026), kapal legendaris ini membawa lebih dari 2.000 judul buku dan melayani pengunjung di Pelabuhan Tanjung Priok hingga 11 Oktober 2026.
Berlayar melintasi berbagai negara di kawasan Asia dan Pasifik, Doulos Hope tidak hanya berfungsi sebagai perpusatakaan raksasa di atas samudra, tetapi juga menjadi arena perjumpaan lintas budaya yang mengumpulkan awak kapal dari sekitar 35 kewarganegaraan.
Di balik riuk interaksi budaya dan kemudahan publik mengakses bacaan berkualitas tersebut, Kantor Bea Cukai Tanjung Priok memegang peran krusial dalam memastikan seluruh proses importasi buku berjalan lancar, aman, dan sesuai ketetapan peraturan perundang-undangan.
Kepala Kantor Bea Cukai Tanjung Priok, Galih Elham Setiawan, menegaskan bahwa penanganan impor buku pada kapal Doulos Hope dipandang melebihi sekadar prosedur administratif kepabeanan biasa.
Bagi institusinya, setiap lembar buku yang diperiksa adalah investasi peradaban dan akses fundamental rakyat terhadap cakrawala pengetahuan global.
"Melalui pelayanan yang sesuai dengan ketentuan, kami berupaya memberikan dukungan agar buku dan berbagai sumber literatur dari mancanegara dapat hadir dan dimanfaatkan oleh masyarakat," kata Galih.
Ia menambahkan bahwa efisiensi dan ketepatan pelayanan impor merupakan wujud komitmen Bea Cukai Tanjung Priok dalam menjaga kelancaran arus barang sekaligus memberikan pengayoman terbaik kepada pengguna jasa kepabeanan.
"Melalui pelayanan yang efektif dan sesuai dengan peraturan, Bea Cukai turut mendukung masuknya berbagai sumber literatur yang dapat memperluas akses masyarakat Indonesia terhadap pengetahuan dari berbagai penjuru dunia," ujar Galih.
Guna mendorong percepatan literasi nasional, negara memberikan perhatian khusus melalui regulasi kepabeanan.
Baca Juga: Lakukan Penaklukan Spektakuler di Mandalika, Marco Bezzecchi Cetak Kemenangan Manis bagi Aprilia
Buku-buku ilmu pengetahuan yang memenuhi kriteria dan persyaratan ketat berhak memperoleh fasilitas pembebasan bea masuk sebagai stimulus nyata pemerintah dalam mempermudah keterjangkauan sumber ilmu.
Ketangguhan Bea Cukai Tanjung Priok dalam mengawal arus literasi dunia terbukti dari rekam jejak kinerjanya.
Sepanjang tahun 2025, kantor pelayanan utama ini mencatatkan rekor dengan melayani lebih dari 14.000 dokumen impor buku, yang mencakup jutaan eksemplar bahan bacaan yang masuk melalui gerbang utama perdagangan internasional Indonesia tersebut.
"Tingginya volume tersebut mencerminkan keberagaman sumber literatur dari berbagai negara yang masuk melalui salah satu gerbang perdagangan internasional Indonesia," ujarnya.
Baca Juga: Pertahankan Keutuhan Bangsa, Yasonna Laoly Gaungkan Nilai Fondasi Negara Lewat Sosialisasi 4 Pilar
Persinggahan Doulos Hope menjadi bukti nyata bagaimana garda depan kepabeanan di Pelabuhan Tanjung Priok tidak hanya bertindak sebagai pelindung perbatasan (border protector), tetapi juga katalisator pembangunan sumber daya manusia.
Bea Cukai Tanjung Priok menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan pelayanan profesional, efektif, dan akuntabel demi menjamin kelancaran arus barang, termasuk pasokan buku-buku bergengsi dari penjuru dunia untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.