Surabaya NAWACITAPOST — Masuk bulan Agustus, suasana heroik menghiasi wajah Indonesia. Tak ketinggalan, Surabaya yang dikenal sebagai kota Pahlawan, turut ambil bagian dalam memeriahkan peringatan HUT RI ke-75 ini.
Ribuan Pahlawan gugur dikota ini demi membela martabat Bangsa yang sudah berdaulat pada masa itu, tak terkecuali dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU) yang sudah ada sejak 31 Januari 1926.
Nahdlatul Ulama yang dapat diartikan 'Kebangkitan Ulama' Saat inipun tetap berjuang dalam segala kesempatan dengan mengusung slogan 'Jas Hijau' singkatan dari Jangan Sekali-kali Hilangkan Jasa Ulama.
Banyak orang sudah tahu tokoh-tokoh pendiri NU, diantaranya KH Wahid Hasyim, KH Zainul Arifin, KH Abdul Wahab Hasbullah dan KH Hasyim Asy'ari. Tapi belum banyak yang tahu, siapa pencipta Lambang Nahdlatul Ulama yang melegenda tersebut.
Siti Anggraenie Hapsari atau yang akrab dipanggil SAH menjelaskan dengan gamblang pengetahuannya tentang Organisasi keagamaan NU.
Dalam kesempatan Ziarah ke makam KH Ridlwan Abdullah sang pencipta lambang NU, Minggu (9/8/2020) SAH menjelaskan Beliau adalah seorang ulama yang berjiwa seni terutama dalam seni lukis.
KH Ridwan Abdullah lahir di Kampung Carikan Gang I, Kelurahan Alun-Alun Contong, Kecamatan Bubutan Surabaya pada 1 Januari 1884. Ayahnya bernama yang KH Abdullah menyekolahkan Ridwan ke sekolah Belanda.
Puncaknya, di Muktamar NU kedua yang diadakan di Surabaya 9 Oktober 1927, warga NU pertama kali melihat lambang NU yang dipasang tepat pada pintu gerbang lokasi acara di Hotel Peneleh Surabaya dan Lambang NU tersebut dibuat oleh Kiai Ridwan.
Mengutip penjelasan Kiai Ridwan, tali yang terdapat di dalam lambang NU tersebut melambangkan agama. Sedangkan tali yang melingkari bumi melambangkan ukhuwah Islamiyah atau persaudaraan umat Islam seluruh dunia.
Menurut SAH, Kiai Ridwan dapat dikategorikan sebagai kiai intelektual. Pergaulannya tidak hanya dengan para ulama, tapi juga dengan tokoh nasionalis seperti Bung Karno, dr. Sutomo, dan H.O.S Tjokroaminoto. Bahkan, hubungannya dengan pra tokoh tersebut cukup erat, urai SAH Bacawawali kota Surabaya.
SAH yang berprofesi sebagai Notaris ini melanjutkan, dalam Perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia, Kiai Ridlwan juga ikut bergabung dalam barisan Sabilillah. Pengorbanan Kiai Ridwan di zaman kemerdekaan ini sangatlah besar. Bahkan, salah satu putranya yang masuk dalam keanggotan Pembela Tanah Air (PETA) gugur di medan perang saat melawan tentara penjajah.
Setelah proklamasi kemerdekaan, pada 1948 Kiai Ridwan pun ikut memanggul senjata dan berperang melawan penjajah untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Namun, Kiai Ridwan dan pasukan Sabilillah terpukul mundur hingga ke Jombang.
“Kiai Ridwan juga merupakan salah satu ulama yang mengusulkan agar para syuhada yang gugur dalam peristiwa 10 November 1945 untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusuma Bangsa,” ungkap SAH Bacawawali yang diusung Partai Demokrat Surabaya untuk mendampingi Machfud Arifin.
“Dengan berziarah ke makam para tokoh agama kita dapat mengambil contoh yang baik, yang pantas ditiru oleh kita sebagai penerus bangsa,” pungkasnya. (BNW)