BACA JUGA: Kontrak Freeport Ditandatangani oleh Soeharto Usai G30SPKI, Ada Apa?
Foto : Mahasiswi Asal Papua, Anastasya Marian
-
Rasisme dan diskriminasi terjadi di lingkungan sekitar bahkan lingkungan kampus. Sempat ada dosen yang mengatakan kepada salah satu mahasiswi. Etnis Papua, badannya bau, berkulit hitam dan penampilan dekil. Kemudian juga ketika mengobrol, susah untuk bernapas. Tentu saja hal demikian memukul perasaan. Lantaran memang kan sebagai sesuatu penghinaan terhadap fisik. Sebenarnya memang disayangkan. Pendatang yang ada di tanah Papua selalu disambut hangat dan ramah. Padahal, keinginannya adalah bisa berkuliah dan lulus dengan membanggakan dari luar tanah kelahiran Papua. Ada etnis Papua yang memang memilih untuk berkuliah di Jawa. Ada pula yang berkuliah di Jakarta. Yang pasti masih berada di Indonesia. Begitu pilu hati melihat konflik yang ada di Surabaya. Apalagi hati terpukul dengan sebutan monyet.
BACA JUGA: Lawan Sebut Jokowi Terlibat PKI, Malahan Terungkap Soeharto Dalangnya Rekayasa PKI
-
-
Jauh – jauh pergi untuk berkuliah kualitas lebih baik. Berlatar belakang ketidakmampuan ekonomi keluarga. Susah mau daftar kuliah. Bersyukur ada tes beasiswa. Hanya ingin punya pengalaman lebih baru dan baik. Sehingga dengan adanya permasalah rasis tentu konsentrasi belajar akan berkurang. Segelintir keinginan kecil hampir saja pupus. Keinginan untuk menemukan hal baru yang tak ada di Papua. Senang bisa bertemu dengan kawan kulit putih. Belajar toleransi antar manusia. Karena memang banyak sekali suku, bangsa, budaya dan bahasa di Indonesia. Ingin pula bisa menyampaikan bahwasanya Papua itu indah. Etnis Papua tidak rasis. Sangat rukun sekali. Terbuka. Kalau ada orang baru, disambut dengan hangat dan ramah. Tidak membedakan satu sama lain. Saling kasih dan sayang. Sangat besar dipupuk rasanya. Papua terbagi dari Papua Barat dan Papua. Papua adalah surga bagi Indonesia. Hargailah. Jangan mengeluarkan kata yang menyakitkan. (Ayu Yulia Yang)
BACA JUGA: Bukan Saatnya Lagi, Takut dan Khawatir akan Rampok?