news

Mirisnya Hati Etnis Papua Dirasiskan dan Didiskriminasikan di Negeri Sendiri, Indonesia

Sabtu, 13 Juni 2020 | 12:39 WIB
Jakarta, NAWACITAPOST – Permasalahan rasisme dan diskriminasi terus saja berkelanjutan. Termasuk yang pernah terjadi di Surabaya, Jawa Timur (Jatim). Padahal, masih didalam negeri sendiri, Indonesia. Sama - sama terlahir sebagai bangsa Indonesia. Etnis Papua mencurahkan isi hati melalui sosial media (sosmed). Diantaranya Matius Wonda, Anastasya Marian, Priska Mulait dan Michael Dawi. Kesemua pernah mengalami rasisme dan diskriminasi di lingkungan sekitar. Padahal merasa bahwa kesemua sama – sama manusia yang semestinya diperlakukan sama. Memang miris terasa bagi kesemuanya.

BACA JUGA: Kontrak Freeport Ditandatangani oleh Soeharto Usai G30SPKI, Ada Apa?

Foto : Mahasiswi Asal Papua, Anastasya Marian

-
Foto : Mahasiswi Asal Papua, Priska Mulait

Rasisme dan diskriminasi terjadi di lingkungan sekitar bahkan lingkungan kampus. Sempat ada dosen yang mengatakan kepada salah satu mahasiswi. Etnis Papua, badannya bau, berkulit hitam dan penampilan dekil. Kemudian juga ketika mengobrol, susah untuk bernapas. Tentu saja hal demikian memukul perasaan. Lantaran memang kan sebagai sesuatu penghinaan terhadap fisik. Sebenarnya memang disayangkan. Pendatang yang ada di tanah Papua selalu disambut hangat dan ramah. Padahal, keinginannya adalah bisa berkuliah dan lulus dengan membanggakan dari luar tanah kelahiran Papua. Ada etnis Papua yang memang memilih untuk berkuliah di Jawa. Ada pula yang berkuliah di Jakarta. Yang pasti masih berada di Indonesia. Begitu pilu hati melihat konflik yang ada di Surabaya. Apalagi hati terpukul dengan sebutan monyet.

BACA JUGA: Lawan Sebut Jokowi Terlibat PKI, Malahan Terungkap Soeharto Dalangnya Rekayasa PKI

-
Foto : Matius Wonda, Mahasiswa Asal Papua

-
Foto : Michael Dawi, Mahasiswa Asal Papua

Jauh – jauh pergi untuk berkuliah kualitas lebih baik. Berlatar belakang ketidakmampuan ekonomi keluarga. Susah mau daftar kuliah. Bersyukur ada tes beasiswa. Hanya ingin punya pengalaman lebih baru dan baik. Sehingga dengan adanya permasalah rasis tentu konsentrasi belajar akan berkurang. Segelintir keinginan kecil hampir saja pupus. Keinginan untuk menemukan hal baru yang tak ada di Papua. Senang bisa bertemu dengan kawan kulit putih. Belajar toleransi antar manusia. Karena memang banyak sekali suku, bangsa, budaya dan bahasa di Indonesia. Ingin pula bisa menyampaikan bahwasanya Papua itu indah. Etnis Papua tidak rasis. Sangat rukun sekali. Terbuka. Kalau ada orang baru, disambut dengan hangat dan ramah. Tidak membedakan satu sama lain. Saling kasih dan sayang. Sangat besar dipupuk rasanya. Papua terbagi dari Papua Barat dan Papua. Papua adalah surga bagi Indonesia. Hargailah. Jangan mengeluarkan kata yang menyakitkan. (Ayu Yulia Yang)

BACA JUGA: Bukan Saatnya Lagi, Takut dan Khawatir akan Rampok?

Tags

Terkini