news

Viral Beban biaya APD, Ini Kata RS. Al-Irsyad

Senin, 8 Juni 2020 | 17:57 WIB
Surabaya NAWACITAPOST – Dimasa Pandemi, menuntut semua pihak untuk waspada terhadap penularan Virus. Begitupun dalam penanganan medis.


Kondisi tersebut, akhirnya mau tidak mau membuat pihak rumah sakit berusaha untuk ekstra keras melindungi para tenaga medisnya. Sehingga, saat ada pasien yang berobat, akan selalu dilihat kondisinya terlebih dahulu. Apabila dilihat ada tanda-tanda yang mengarah ke COVID-19, maka akan dilakukan Rapid Test terlebih dahulu sebelum ditindak lanjuti.


Selain pelayanan terhadap pasien, hal demikian juga sebagai upaya menghindari jatuhnya korban dari pihak tenaga medis yang merupakan garda paling depan dalam perang melawan Virus COVID-19. Hal ini diungkapkan Dokter Ulfat ketua gugus tugas rumah sakit Al-Irsyad Surabaya kepada media saat pers Conferense. Senin (8/6/20) terkait biaya pengobatan yang diprotes oleh warga.


Menurutnya, proses rawat inap di rumah sakit tersebut sudah melalui prosedur yang ditetapkan. Yakni, atas izin dan persetujuan dari pasien tersebut dan pihak yang juga telah bersedia membayar dengan ditandai tanda tangan.


"Pada prinsipnya, kami itu tidak ada unsur paksaan sama sekali. Semuanya kami sampaikan dengan jelas di awal,” jelas Dokter Ulfat .


Bahkan, pihakya juga menyampaikan kalau Al Irsyad ini bukan RS rujukan. Dalam hal ini sudah sempat menghubungi 15 rumah sakit rujukan di Surabaya namun sudah penuh. Akhirnya pihak keluarga pasien minta untuk dilanjutkan pemeriksaan dan pengobatan, ungkapnya.


”Kalau Covid kan bergantung kondisi pasien. Kami tidak bisa memprediksi,” ungkapnya.


Disinggung soal baju APD Senilai Rp.1.500.000. Per/hari, Dokter salim manajer operasional rumah sakit Al irsyad Surabaya menjelaskan memang demikian adanya.


Pandemi covid 19 ini memang sesuatu yang tidak kita inginkan namun karena ini sudah menjadi dunia dan mau nggak mau Indonesia juga berdampak. " Mungkin cobaan buat kita sebagai warga Surabaya Jawa Timur," ujarnya.


Rumah sakit Al – Irsyad beserta yang lain di Surabaya harus mempersiapkan diri untuk merawat pasien limpahan- limpahan pasien yang positif covid 19 ataupun pasien PDP dari rumah sakit rujukan meski dengan keterbatasan yang dimiliki.


Sebelumnya, persoalan mencuat dari informasi Nur Laily warga Kemayoran saat mengantarkan suaminya yang bernama M.Shochib untuk berobat ke Rumah Sakit Al-Irsyad Surabaya pada Hari Minggu (24/05/20) karena mengeluhkan sakit mual, demam, batu, pilek dan lemas dan sesekali mengalami sesak nafas.


Melihat gejala-gejala yang diderita suaminya tersebut, pihak Rumah Sakit Al-Irsyad menduga bapak satu anak ini terkena paparan Virus COVID-19 karena memiliki gejala primer COVID-19, seperti demam dan sesak nafas. Sehingga saat itu beliau langsung di Rapid Test, dan dinyatakan Reaktif.


Selanjutnya berdasarkan hasil tersebut, akhirnya pihak RS Al-Irsyad bersama Nur Laily membicarakan tindakan medis selanjutnya.


Menurut Nur Laily, saat itu pihak Rumah Sakit menyarankan agar M.Shochib dirawat diruang isolasi yang ada di RS tersebut.


Selama dalam perawatan maka status M.Shochib adalah Pasien Dalam Pengawasan (PDP). Saat itu Nur Laily mendapatkan informasi dari Dokter bahwa suaminya akan dirawat di ruang isolasi dan biayanya sekitar 3 juta hingga 4 juta per-harinya.


Biaya tersebut termasuk Biaya Kamar, Obat, Dokter dan Baju APD, Hanya saja menurutnya saat itu tidak dijelaskan kalau baju APD tersebut senilai Rp 1.500.000. (BNW)

Tags

Terkini