NAWACITAPOST.COM — Di balik megahnya narasi Indonesia Maju, sebuah tragedi kemanusiaan dan pendidikan berdarah dingin justru terjadi di beranda Kota Padangsidimpuan, Sumatera Utara. Sebuah jeritan pilu memecah kesunyian di kawasan perbatasan yang sengaja "dianaktirikan".
Seorang pahlawan tanpa tanda jasa dari SD Negeri 200508 Kelas Jauh Gou Batu, Desa Dolok Mangunggan Julu, Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara, akhirnya mendobrak dinding ketakutan. Ia melayangkan protes terbuka, mengetuk langsung pintu nurani Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Republik Indonesia Gibran Rakabuming Raka.
Bukan meminta kemewahan, ia hanya menuntut satu hal yang mulai langka di negeri ini: Keadilan.
Baca Juga: Skandal Rumah Hantu Padangsidimpuan, Di Mana Dana Banjir 1.133 KK?
Pahlawan yang Ditelantarkan: Mengajar dengan Hati, Dibayar dengan Belas Kasihan
Secara administratif hitam di atas putih, sekolah ini resmi berinduk ke SD Negeri 200508 Sihitang di bawah naungan Pemerintah Kota Padangsidimpuan. Namun ironisnya, negara seolah "absen" dalam menghargai keringat sang pendidik.
Selama bertahun-tahun mengabdi, guru tersebut tidak pernah menerima gaji resmi dari instansi terkait. Untuk menyambung hidup, ia terpaksa menggantungkan nasib pada belas kasihan warga setempat lewat iuran swadaya yang jumlahnya sangat menyayat hati: Rp300.000 per bulan. Itu pun kerap terlambat.
"Bapak Presiden dan Bapak Wakil Presiden, saya mengajar di sini dengan penuh tanggung jawab, tapi apa yang saya terima? Hanya bantuan sukarela dari warga sebesar Rp300 ribu sebulan... Saya tidak minta harta, saya hanya minta keadilan! Mengapa nasib guru dibiarkan tergantung belas kasihan warga?" ucapnya dengan nada bergetar, menahan kombinasi rasa sedih dan amarah yang mendalam.
Ironi Fasilitas: Lebih Buruk dari Kandang Hewan!
Jika nasib gurunya tragis, kondisi tempat anak-anak bangsa menuntut ilmu jauh lebih mengerikan. Bangunan sekolah ini sudah kehilangan martabatnya sebagai fasilitas pendidikan.
Baca Juga: Mega Proyek Pemulihan Sumatera Dimulai, Menko PMK Ketuk Palu Percepatan Rp100 Triliun!
-
Atap Bocor Masif: Saat hujan turun, ruang kelas berubah menjadi kubangan air.
-
Dinding Retak & Miring: Beton pembatas sudah miring ekstrem dan siap merenggut nyawa siswa kapan saja karena berisiko roboh.
-
Fasilitas Nol Besar: Lantai berlubang hancur, tidak ada meja dan kursi yang layak, serta nihilnya akses sanitasi dan air bersih.
Warga setempat bahkan memberikan testimoni yang sangat menohok: Kondisi bangunan ini jauh lebih buruk daripada kandang hewan yang layak pakai.
Membongkar Skenario "Sekolah di Atas Kertas" dan Misteri Pajak Warga
Tragedi ini memicu kecurigaan besar di tengah masyarakat. Ada aroma busuk tata kelola yang mulai tercium. Jika benar sekolah ini berada di bawah kewenangan Pemkot Padangsidimpuan, ke mana larinya anggaran perawatan, pembangunan, dan gaji guru dari Dinas Pendidikan?