news

Menolak "Tinggal Kelas"! Ketika Air PAM Mati Total Sejak November dan Slogan "Naik Kelas" Berubah Menjadi Lelucon Getir di Tapanuli Tengah

Minggu, 31 Mei 2026 | 16:24 WIB

 

Alokasi Waktu

Berjam-jam mengantre dan melangsir setiap hari

 

Biaya Tambahan

Bahan bakar kendaraan untuk transportasi air

 

Status Pelayanan

Mati total sejak akhir tahun lalu

 

"Apa gak ada lagi orang pintar di Tapanuli Tengah ini untuk memperbaiki air PAM Mual Nauli? Atau memang gak ada lagi uang kas Pemkab?" cetus warga lain dengan tawa getir. "Sekali lagi terucap 'naik kelas', yang ada malah 'tinggal kelas' kalau kondisinya begini terus!"

Kotak Pandora: Kosmetik Politik dan Hilangnya Transparansi

Krisis air ini bak membuka kotak pandora yang membongkar borok tata kelola pemerintahan secara menyeluruh. Nada sinis langsung diarahkan pada visi kemajuan daerah yang dinilai hanya sekadar kosmetik politik.

  • Visi Semu: "Katanya naik kelas... Apa yang naik kelas? Urusan air saja pun gak bisa beres diurus!" cecar warga dengan emosi meluap.

  • Bantuan yang Menguap: Di sela-sela antrean air, warga juga mempertanyakan kelanjutan bantuan Jaminan Hidup (Jadup) pasca-bencana yang hingga kini gelap dan tidak transparan.

Baca Juga: Selebrasi 27 Tahun Sman 9 Bogor: Tak Sekadar Pesta, Cetak Prestasi Top 3 Jalur SNBP!

Catatan Redaksi: Retorika vs Realita

Air adalah urat nadi kehidupan, hak paling dasar warga negara. Membiarkan masyarakat Pandan membeli air jerigen selama berbulan-bulan, sekaligus membiarkan mereka merasa takut diintimidasi saat menyuarakan kebenaran, adalah bentuk kemunduran demokrasi yang nyata.

Slogan "Naik Kelas" akan selalu dinilai semu dan berakhir jadi lelucon di tengah masyarakat selama Pemkab Tapanuli Tengah dan PAM Mual Nauli gagal mengalirkan air ke rumah-rumah. Masyarakat tidak butuh pidato keberhasilan; mereka butuh solusi nyata, dan mereka butuh air mereka mengalir sekarang juga!(Jhon Henri Silaban)

Halaman:

Tags

Terkini