Hal ini diungkapnya guna menanggapi kekhawatiran yang muncul di publik karena Jokowi menawarkan proyek pembangunan ibu kota negara baru ke investor asing. Menurutnya, pemerintah tentu berhati-hati dalam memutus skema investasi yang akan diambil.
"Yang kami tawarkan tidak (dalam bentuk) pinjaman. Kedua, tidak ada government guarantee, jadi semua kerja sama," ujar Jokowi di Istana Merdeka, Jumat (17/1.
Sayangnya, Jokowi masih enggan merinci lebih dalam soal skema kerja sama yang akan dijalin dalam pembangunan ibu kota baru. Di sisi lain, ia mengatakan pemerintah juga tidak memberi gaji kepada para tokoh internasional yang ditunjuk sebagai dewan pengarah pembangunan ibu kota.
Pasalnya, Jokowi mengaku ia tidak mampu memberi gaji para tokoh yang diketahuinya memiliki kekayaan berlimpah. Salah satunya, Putra Mahkota Abu Dhabi Sheikh Mohammed bin Zayed (MBZ).
Menurut catatan kepala negara, total kekayaan Pangeran MBZ mencapai US$1,4 triliun. Dengan nilai itu, ia mengaku tak bisa membayangkan berapa gaji yang sekiranya patut diterima Pangeran MBZ.
Baca Juga : Kemunculan Keraton Agung Sejagat di Purworejo, Jokowi : Itu Hiburan Lah
Jokowi mengatakan Indonesia hanya bisa memberikan penghargaan kepada para tokoh karena mau menjadi dewan pengarah pembangunan ibu kota baru. Selebihnya, ia menekankan tidak ada keuntungan lain yang didapat oleh para tokoh yang terpilih menjadi dewan pengarah.
"Loh itu penghargaan yang tinggi, kami kan negara yang besar, jangan pesimis begitu. (menjadi dewan pengarah) ibu kota negara itu penghargaan, untuk duduk di dewan pengarah perpindahan ibu kota negara. Ini kerjaan besar dan akan jadi sejarah," ungkapnya.
Ia mengatakan sejauh ini belum ada niat untuk menambah tokoh internasional menjadi dewan pengarah pembangunan ibu kota negara baru, meski banyak pihak yang tertarik. Pilihannya hanya jatuh ke Pangeran MBZ, CEO Softbank Masayoshi Son, dan mantan perdana menteri Inggris Tony Blair.