Jakarta, NAWACITA - Merosotnya harga ayam potong di kalangan peternak bukan fenomena baru. Untuk setahun ini saja, turunnya harga ayam potong sudah dirasakan sejak September 2018.
Dikutip Berita Satu, Direktur Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi, Yeka Hendra Fatika, mengatakan, kondisi seperti ini diselesaikan dengan Peraturan Presiden (Perpres) dan Kemenko Perekonomian harus mendorong adanya Pepres.
"Fluktuatifnya harga ayam tidak bisa diselesaikan hanya dari hulu ataupun hilir. Solusi yang komprehensif diperlukan kebijakan yang setara dengan Perpres,” kata Yeka dalam pernyataan yang diterima di Jakarta, Rabu (10/7/2019).
Berdasarkan pengamatan, kata Yeka, kondisi anjloknya harga ayam dikarenakan suplai yang berlebih dibandingkan kebutuhan. Kondisi oversuplai disebabkan peternak maupun pengusaha terus membuat kandang sehingga meningkatkan suplai. Selain mengatur kandang ayam agar tidak meningkatkan suplai, konsumsi pun harus ditingkatkan.
"Intinya, diperlukan regulasi setingkat Perpres dalam membenahi industri perunggasan," tegas Yeka.
Dikutip Berita Satu, Sekretaris Jenderal Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional, Sugeng Wahyudi, mengatakan kelebihan bibit ayam potong sudah terjadi sejak awal tahun. Produksi bibit ayam potong di Indonesia saat ini sebesar 68 juta per minggu.
"Dari awal tahun memang sudah ada kelebihan bibit, produksi ayam yang berlebih itu dinilai menjadi penyebab tertekannya harga ayam sampai menyentuh Rp 5.000 per kilogram," kata Sugeng.
Ketua Umum Pinsar, Singgih Januratmoko, menambahkan, kelebihan pasokan yang membuat harga ayam jatuh sudah mulai terasa sejak 9 bulan yang lalu. Meski demikian, pihaknya optimistis harga ayam bisa kembali menyentuh harga referensi Kemdag pada minggu depan.