Palangkaraya, NAWACITA- Kegiatan pelatihan pengarus utamaan gender (PUG) pemberdayaan perempuan (PP) dan pemenuhan hak anak (PUHA) bagi anggota forum komunikasi Partisipasi Publik Untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak (PUSPA) Se Kalteng (Kabupaten/Kota) tahun 2019 yang diselenggarakan Dinas Pemberdayaan Dan Perempuan Kalteng memiliki tujuan memberikan pemahaman terkait pencegahan kekerasan pada perempuan dan anak.
Kegiatan ini digelar selama dua hari di Hotel Bahalap Palangkaraya.
Kepala Dinas Pemberdayaan dan Perempuan dan Anak Ryan Tangkudung dalam sambutannya, mengucapkan terima kasih kepada perwakilan peserta yang ada di 13 Kabupaten 1 Kota yang hadir mengikuti kegiatan selama dua hari. Lebih jauh Ryan mengatakan inisiasi pertemuan ini, sebagai langkah konkrit kordinasi dalam rangka mencari solusi mengatasi kasus kekerasan pada perempuan dan anak, apalagi pemerintah pusat sudah mencanangkan tri ends diantaranya : akhiri kekerasan pada perempuan, perdagangan pada anak dan kesenjangan ekonomi pada perempuan.
"Kasus kekerasan di tiap daerah selalu muncul, manakala masyarakat kurang memahami tentang bagaimana membina keluarga sejahtera dan harmonis, untuk itu kami mengundang perwakilan di tiap daerah terutama pengurus PUSPA menjadi pelopor berkurangnya tindak kekerasan di tengah masyarakat," kata Ryan ,Selasa (9/7).
Ia menyebut kekerasan bisa menimpa kepada siapapun, apalagi di tengah kemajuan zaman sekarang ini, bisa saja terjadi pada keluarga terdekat, sehingga diperlukan satu persepsi yang sama dari instansi pemerintahan dan komunitas yang bergerak di bidang sosial, dan pegiat kemanusian masyarakat, tentang bagaimana mencegah kekerasan anak dan perempuan sejak dini, karena mencegah lebih baik daripada menangani.
Sementara itu, narasumber yang dihadirkan dari Kementerian Pemberdayaan dan Perempuan Imiyarti lebih banyak mengajak semua pengurus komunitas sosial, dapat berani menyuarakan kebenaran dan ketidakadilan yang menimpa anak dan perempuan, tebarkan kebaikan pada siapapun yang dijumpai, salah satunya dengan mendengarkan setiap keluhan korban kekerasan, selanjutnya memberikan motivasi kepada korban kasus kekerasan, serta memberikan pengaruh positif, agar kedepannya menjadi lebih baik.
"Dengan melihat raut muka anak, kita sudah bisa mengetahui permasalahan yang dihadapi anak pada saat itu, kita dengarkan apa keluhannya, sehingga beban yang dihadapi anak bisa berkurang," ujarnya
Selain pemerintah, semua elemen masyarakat memiliki peran mencegah terjadinya kasus kekerasan pada anak dan perempuan, mengingat akhir akhir ini muncul kasus di luar akal sehat manusia, diantaranya orang yang menikah sedarah, dan kasus pencabulan terhadap anak, tak pelak membuat keprihatinan mendalam.
Oleh karena itu, tugas kita bersama dalam mengawasi setiap tindakan kejahatan yang bersentuhan dengan masyarakat, lakukan pendekatan, guna mencari solusi terbaik terhadap masalah yang dihadapi, baik anak dan perempuan.
Sementara itu dalam kegiatan, peserta mendapat pendalaman materi dari narasumber berkompeten, pembicaraan tidak hanya berlangsung satu arah, tapi narasumber mengajak audiens interaktif bertanya dan berbagi pengalaman, sehingga audiens konsentrasi dalam mendengarkan setiap paparan demi paparan pemateri.