news

Krakatau Steel Cari Dana Rp14 T untuk Kurangi Utang

Sabtu, 6 Juli 2019 | 06:30 WIB
Jakarta, NAWACITAPT. Krakatau Steel  Tbk tengah melakukan program restrukturisasi guna memperbaiki  keuangan yang merugi selama tujuh tahun berturut-turut. Restrukturisasi dilakukan terhadap organisasi , portofolio, dan keuangan. 

Untuk merestrukturisasi organisasi produsen baja itu akan memangkas 30 persen unit kerja setara 1.879 unit dari total 6,264 posisi saat ini. Itu berarti, jumlah unit kerja di perusahaan menjadi 4,385 posisi usai pemangkasan. 

Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim mengatakan pemangkasan dilakukan karena jumlah unit kerja yang ada saat ini terlalu besar dan membebani biaya operasional perusahaan.

Pengurangan unit kerja di Krakatau Steel tentu saja dibarengi dengan jumlah pemangkasan yang baik. Namun, ia belum bisa mendiskusikan jumlah karyawan tetap yang berubah setiap hari dengan jumlah karyawan yang diterima dan sebagainya. Per Maret 2019, jumlah tenaga kerja tetap perusahaan sebanyak 4,453 orang.  

"Struktur seperti ini bukan lagi struktur yang tepat. Krakatau Steel terlambat mentransformasikan diri yang seharusnya sudah dilakukan sebelumnya untuk antisipasi daya saing di luar negeri," katanya. 

Meski mengurangi jumlah perusahaan tetap, ia menjamin perusahaan dengan kode saham KRAS ini tidak melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Karyawan hanya akan dialihkan ke entitas usaha. 

Pemberhentian hanya akan dilakukan pada karyawan kontrak dengan tidak memperpanjang kontrak dengan perusahaan pemasok karyawan kontrak atau outsourcing . Krakatau Steel sendiri memiliki beberapa anak yang bergerak di luar sektor baja.

Sebut saja, PT Krakatau Daya Listrik di sektor kelistrikan, PT Krakatau Tirta Industri di sektor udara, PT Krakatau Bandar Samudera di sektor pelabuhan, dan PT Krakatau Industrial Estate Cilegon di sektor properti. 

Di samping usaha tersebut, perusahaan berencana mengembangkan kerja sama dengan mitra bisnis lewat anak usahanya. Ia mengungkapkan beberapa Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menyatakan minat kerja sama dengan Krakatau Steel. Ia menyebut telah menawarkan kerja sama dengan PT PLN (Persero) dan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) di bidang setrum lewat PT Krakatau Daya Listrik. 

Lebih lanjut, kerja sama pengembangan air minum dengan PT PP (Persero) Tbk dan PT Adhi Karya (Persero) Tbk melalui PT Krakatau Tirta Industri. Selain itu, perusahaan juga membuka kerja sama di bidang dengan PT Pelindo (Persero) melalui PT Krakatau Bandar Samudera. Namun ia enggan merinci perkembangan dari masing-masing pembahasan kerja sama. 

"Ada yang sudah due diligence, ada yang melakukan negosiasi, beradaptasi yang baru menyatakan minat, "katanya. 

Selain itu, perusahaan berencana akan melakukan penjualan aset non inti yang tidak terkait langsung dengan bisnis inti perusahaan, seperti tanah. 2020 "Kebijakan tidak selalu menyenangkan untuk semua pihak, tetapi semua harus diambil keputusan, sementara itu pahit. Dengan analisis yang cukup maka pilihlah pertimbangan," tuturnya.

Ia mengatur program restrukturisasi dapat mendatangkan efisiensi biaya operasional sebesar 20-30 persen. Selanjutnya, dana hasil tersebut akan dialokasikan untuk pembayaran sebagian besar.

Sebagai informasi, Krakatau Steel memiliki total utang sebesar US $ 2,2 miliar setara dengan Rp30,8 triliun (kurs Rp14 ribu per dolar AS) pada tahun 2018. Sementara itu, jumlah tersebut setara dengan US $ 2,49 miliar, Rp34,86 triliun pada periode yang sama.

"Pokoknya dari semua program itu, kami targetkan bisa mendapatkan uang sebesar US $ 1 miliar untuk menghemat uang," katanya. 


Sebagai informasi, kinerja keuangan Krakatau Steel dalam beberapa tahun diterbitkan ini sakit. Mereka merugi dalam tujuh tahun terakhir. 

Krakatau Steel membukukan rugi sebesar US $ 19,56 juta pada 2012, sebesar US $ 13,6 juta pada 2013, sebesar US $ 154,18 juta pada 2014, sebesar US $ 326,51 juta pada 2015, sebesar US $ 180,72 juta pada 2016, sebesar US $ 86,09 juta pada 2017, dan sebesar US $ 77,16 juta pada 2018. 

Sejalan dengan itu, semakin banyak perusahaan yang menggunung baik yang terkait dengan baik sebagai Krakatau Steel sebagai induk. 

Dari sisi pembayaran Krakatau Steel Grup memiliki utang sebesar US $ 1,44 miliar di 2012, sebesar US $ 1,32 miliar di 2013, sebesar US $ 1,7 miliar di 2014, sebesar US $ 1,91 miliar di 2015, sebesar US $ 2,09 miliar di di 2016, sebesar US $ 2,26 miliar di 2017, dan sebesar US $ 2,24 miliar di 2018.

Sementara itu, Krakatau Steel menjamin hutang sebesar US $ 1,03 miliar di 2012, sebesar US $ 942,41 juta di 2013, sebesar US $ 1,26 miliar di 2014, sebesar US $ 1,49 miliar di 2015, sebesar US $ 1,76 miliar di 2016, sebesar US $ 1,95 miliar di 2017, dan sebesar US $ 2,2 miliar di 2018.

(ANT)

Tags

Terkini