Jakarta, NAWACITA - Pancasila sesuai dengan ajaran agama manapun. Bahkan dalam sejarah Islam, ada Piagam Madinah ketika Nabi Muhammad SAW membangun komunitas masyarakat yang sangat heterogen di kota Yatsrib.
Piagam Madinah sama dengan Pancasila yang meniscayakan penghormatan kepada keyakinan yang berlainan.
Demikian disampaikan Direktur The Wahid Foundation, Yenny Wahid, dalam buka puasa bersama dan diskusi Bulan Bung Karno bertemakan "Pancasila Di Mata Milenial Untuk Indonesia Satu" yang dilaksanakan di kantor DPP TMP, Jalan Cik Ditiro, Menteng, Jakarta Pusat (Minggu, 2/6/2019).
"Pancasila itu sejalan dengan agama. Orang yang mempertentangkan Pancasila dengan agama, artinya orang yang tidak memahami Pancasila dengan baik dan juga tidak memahami agama dengan baik," ungkap Yenny Wahid, di hadapan ratusan orang, dengan tegas.
TMP melaksanakan acara ini di tengah bulan Ramdhan yang bertepatan dengan bulan Bung Karno, yang jatuh pada Bulan Juni. Di bulan Juni, pada tanggal 6 Juni tahun 1901, Soekarno lahir. Pada tanggal 21 Juni 1970, Soekarno wafat. Di bulan Juni pula, tepatnya 1 Juni 1945, Bung Karno berpidato tentang falsafah dasar negara yang kemudian dikenal sebagai Pancasila.
Selain Yenny Wahid hadir sebagai pembicara Bahlil Lahadalia (Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia), Respiratori Saddam Al Jihad (Ketua Umum PB HMI), Agus Herlambang (Ketua Umum PB PMII), Najih Prasetyo (Ketua Umum DPP IMM), Juventus Prima Kago (Ketua Presidum PP Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia), Corneles Galanjinjinay (Ketua Umum PP Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia), dan I Kadek Andre Nuaba (Ketua Umum PP Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia).
Dalam sambutan, Ketua Umum DPP TMP Maruarar Sirait, mengatakan bahwa Pancasila sebagai falsafah negara harus menjadi pedoman dan jalan hidup dalam bernegara. Karena itu ia mengajak semua pihak untuk menjalanlankan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam kehidupan berpolitik.
"Dalam kompetisi politik misalnya, kita harus siap menang dan siap kalah. Jangan saat menang menjadi negarawan, dan saat kalah marah-marah," kata Maruarar di hadapan 300 orang hadirin.
Selain buka puasa bersama dan diskusi, dalam kesempatan ini TMP juga memberikan bantuan pendidikan kepada para siswa-siswi yang berprestasi. TMP juga menggelar silaturahmi dengan Sekolah Sepakbola (SSB) Tunas Merah Putih, yang selama ini dibina TMP.