Dijelaskan, talas benang bisa menjadi tanaman tumpang sari untuk lahan-lahan yang ada dan tidak mengganggu tanaman utama. Talas benang menghasilkan daun, batang, dan umbi yang semuanya bisa memiliki nilai ekonomis.
“Bila tanaman ini terus kita dorong, bisa berkontribusi terhadap tata ekonomi masyarakat. Bisa dilakukan dengan sistem plasma ataupun dikembangkan di pekarangan-pekarangan rumah masyarakat,” ungkap Al Muktabar.
Pada bulan ketiga, lanjutnya, daun sudah bisa dipanen. Sedangkan untuk umbi bisa dipanen pada usia 2 tahun. 1 kilogram daun bisa terdiri dari 3 atau 4 daun dengan harga Rp 1.500. Daun rajang kering harganya bisa Rp 30 ribu per kilogram.
Al Muktabar berharap akan semakin banyak komoditas pertanian Provinsi Banten yang menembus pasar ekspor. Selain itu, lanjutnya, Pemprov Banten terus mendorong hilirisasi sebagaimana amanat Presiden Republik Indonesia Joko Widodo.
Hal senada juga disampaikan oleh Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten Imaduddin Sahabat. Alternatif ekspor perlu didorong. Tidak lagi tergantung pada ekspor baja, alas kaki, dan sebagainya.
“Produk-produk unggulan harus kita dorong seperti hari ini,” ungkapnya.
“Ini akan berkontribusi sangat baik bagi Provinsi Banten terhadap pertumbuhan ekonomi. Jadi kita mendukung dan hilirisasinya punya produk yang baik bahkan bisa ekspor,” pungkas Imaduddin Sahabat.
Dalam kesempatan itu, anggota Komisi IV DPR RI Nuraeni menyampaikan apresiasi kepada CV UNNI Talas Beneng yang telah mampu mengekspor daun talas beneng ke Amerika Serikat.