Kamis, 4 Juni 2026

Hebat! Sukses Jadi Eksportir Kopi, Mantan Kades Humbahas Manat Samosir Dirikan PT Beromzet Miliaran Rupiah

Photo Author
Agus Irawan, Nawacita Post
- Kamis, 26 Agustus 2021 | 15:42 WIB
Humbahas, NAWACITAPOST- Mantan Kepala Desa Humbahas yang juga petani kopi asal Kecamatan Dolok  Sannggul desa Sirisirisi kabupaten Humbang Hasundutan, Manat Samosir sukses membangun perusahaan yang didirikannya bernama PT Penabur Benih Indonesia.

Manat Samosir mengatakan, perusahaan ini didirikan bertepatan dengan masa awal pandemi 2020 lalu, yang sebelumnya berbentuk Usaha Dagang (UD).

Sementara itu, dibantu oleh Asosiasi UMKM Sumut untuk pengurusan dokumen ekspor hingga akhirnya menembus pasar Taiwan dengan pengiriman 200 ton kopi selama satu tahun.

Kata dia, saat ini dirinya juga memiliki sebuah brand kopi lokal dan tempat makan bernama’Sitalbak Coffe and Resto.



“Saya lihat peluang di daerah saya khususunya di Dolok Sanggul  dan sekitar Kabupaten Humbang Hasundutan. Potensi kopi sangat besar, namun setelah kita geluti kita berpikir kenapa orang lain yang mengelola kopi disini ada di kampung kita.Kenapa tidak muncul dari kita, akhirnya kita mulai edukasi petani agar menjadi tuan di tanah sendiri,” kata Manat, Rabu (25/8/2021).

Manat menekunin perkebunan kopi, sejak tahun 2000, dia telah menjadi petani kopi. Namun malang, di tahun 2005 dirinya mengalami kebangkrutan.

Namun, pada tahun 2007-2013, Manat diangkat sebagai kepala desa sambil tetap menjadi petani kopi.

 

“Akibat bangkrutnya saya dulu itu karena tidak ada penjemuran Green House, masih manual. Tapi sekarang sudah kami lengkapi dengan teknologi ini. Jadi cuaca kami kan ekstrem karena lokasi kami diatas bukit barisan,” kata Manat.

“Mau matahari muncul tapi turun hujan, sementara kopi kalau dijemur dan kena air kan mau langsung cacat dia. Tapi adanya green house ini dia jadi terlindungi,” paparnya.

Berkat kerja kerasnya, kata Manat, PT Penabur Benih Indonesia sudah memiliki sekitar 800 petani yang tergabung dalam Gapoktan Mutiara Kasih yang memiliki 15 kelompok dan diluar Gapoktan.

“Jadi kopi petani yang kita serap dan olah,itulah saya kirim selain itu juga kita ajak untuk edukasi petani,” kata dia.

Dari hasil kerja kerasnya bersama para petani kopi lainnya, PT Penabur Benih Indonesia saat ini mampu menghasilkan 200 ton penyerapan kopi Arabica Sumatera Lintong, dari ratusan petani di Kecamatan Dolok sanggul desa Sirisirisi kabupaten Humbang Hasundutan.
Namun ditengah itu, dia membeberkan bahwa banyak kendala yang harus dilewati seperti SDM petani dan juga faktor cuaca.

“Petnai kita ini kan masih tradisional, jadi tenryata pengetahuan mereka masih minim sehingga harus ada edukasi. Hasil kopi kita per hektar itu masih sangat rendah 500-700 kg per hektar, sementara Vietnam mampu menghasilkan.

"Petani kita ini kan masih tradisional, jadi ternyata pengetahuan mereka masih minim sehingga perlu edukasi. Hasil kopi kita per hektar itu masih sangat rendah 500-700 kg per hektar sedangkan Vietnam mampu menghasilkan 2 ton per hektar. Jadi ketika kita dihadapkan masalah harga, masih tergantung dengan harga tinggi karena produksi kita rendah. Kedepannya kendala ini yang harus kita terobos," jelasnya.

Dalam membina para petani di Kecamatan Lintong ini, Manat sudah bekerjasama dengan beberapa perusahaan yang melakukan CSR untuk mengajarkan budidaya kopi.

Sementara itu, Manat juga senang lantaran pihak Pemkab setempat turut mendukung produksi kopi dengan melakukan peremajaan tanaman kopi.

"Jangan hanya orang lain di luar negeri yang menikmati kopi grade atas sementara kita hanya kopi grade lima ke atas," sebutnya.

Namun, dalam dua tahun membangun PT Penabur Benih Indonesia, kini Manat berhasil mendapatkan omzet mencapai Rp 10 miliar per tahun.

Berkat ketekunannya itu, kopi dari PT Penabur Benih Indonesia sudah masuk ke luar negeri, kemudian keliling Indonesia seperti Pekanbaru, Jakarta sampai ke Bali sebagai penyuplai produk ke coffe shop yang kini sudah banyak.

Dia juga optimis bahwa banyak petani milenial yang tertarik untuk berbisnis kopi.

“Sudah banyak dan itu yang kita dorong. Istilah dulu, mereka enggan Bertani karena semuannya manual. Tetapi sekarang pemerintah sangat getol untuk alat modern seperti sudah ada tractor alat pelubang tanah, Makanya kita dorong Milenial dan grafiknya sudah meningkat, ini sangat bagus,” ujarnya.

(L. Edward Batubara) 

Editor: Agus Irawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini