Kamis, 4 Juni 2026

Dana Operasional ICW Didanai Rezim Orde Baru dan Amerika?

Photo Author
Ayu Yulia Yang, Nawacita Post
- Senin, 24 Agustus 2020 | 13:42 WIB
Jakarta, NAWACITAPOST – Indonesia Corruption Watch atau disingkat ICW adalah sebuah organisasi non pemerintah (NGO). Mempunyai misi untuk mengawasi dan melaporkan kepada publik. Tak lain mengenai aksi korupsi yang terjadi di Indonesia. Pada awal kelahirannya, ICW dipimpin oleh Teten Masduki. Yang mana kini menduduki posisi Menteri UKM dan Koperasi di Kabinet Indonesia Maju. Dirinya bersama menggandeng pengacara Todung Mulya Lubis, ekonom Faisal Basri dan lainnya. ICW juga menyeret nama Ani Sutjipto, Yanuar Rizki dan Dadang Trisasongko. ICW aktif mengumpulkan data - data korupsi para pejabat tinggi negara. Mengumumkannya pada masyarakat dan jika perlu melakukan gugatan class-action terhadap para pejabat yang korupsi. ICW adalah lembaga nirlaba yang terdiri dari sekumpulan orang yang memiliki komitmen untuk memberantas korupsi melalui usaha - usaha pemberdayaan rakyat. Yang mana ditujukan untuk terlibat dan atau berpartisipasi aktif melakukan perlawanan terhadap praktik korupsi. Logo ICW mengambil salah satu lambang Yahudi. Yakni Eye Horus atau mata Horus. Horus adalah Dewa Burung dalam Mitologi Mesir Kuno yang diklaim sebagai salah satu dewa. Diduga ada kepentingan Yahudi di balik ICW. Lantaran dikatakan oleh Emerson Yuntho, salah satu anggota badan pekerja ICW mengatakan. ICW menerima dana dari lembaga donor dan publik. Tidak boleh menerima dana dari APBN maupun APBD, Bank Dunia, IMF dan yang pasti dari koruptor. Penerimaan terikat dalam laporan ICW 2012, disebutkan berasal dari Rek 11.11.11, HIVOS Fundraising, TAF Election, IFES Endorsing, ACCESS, UNODC dan RWI-Migas. Koordinator ICW Danang Widoyoko, di Jakarta pada 29 Juni 2012 menyebutkan. ICW juga menerima dana Bloomberg Initiative yang diinisiasi dari Michael Bloomberg, USADI dan AUIAD. Michael Bloomberg dilahirkan di tengah keluarga Yahudi – Amerika. Dikenal sebagai politisi yang mendukung gerakan politik Israel.

BACA JUGA: Bukan Saatnya Lagi, Takut dan Khawatir akan Rampok?

Foto : Demo ICW

ICW lahir di Jakarta pada tanggal 21 Juni 1998. Lahirnya di tengah – tengah gerakan reformasi yang menghendaki pemerintahan pasca Soeharto. Agar pemerintahan bisa demokratis, bersih dan bebas korupsi. Faisal Basri atau nama lainnya Faisal Batubara merupakan ekonomi dan politikus asal Indonesia. Basri merupakan nama ayahnya. Adalah salah seorang keponakan dari mendiang Wakil Presiden Republik Indonesia (RI) Adam Malik. Dirinya juga ikut menjadi salah satu pendiri Mara (Majelis Amanah Rakyat) yang menjadi cikal bakal Partai Amanat Nasional (PAN) dan beberapa organisasi nirlaba. Seperti Yayasan Harkat Bangsa, Global Rescue Network dan Yayasan Pencerahan Indonesia. Sementara nama Adam Malik begitu mencuat ketika terjadi pergantian rezim pemerintahan Orde Lama. Adam Malik dinilai bersebrangan dengan kelompok kiri. Akan tetapi justru menguntungkannya. Tahun 1966, Adam disebut dalam trio baru, Soeharto – Sultan – Malik. Bisa jadi merupakan keberanian tersendiri dalam mengkritik pemerintahan Presiden Joko Widodo atau Jokowi. Sehingga secara tidak langsung menggulingkannya. Rezim orde baru tentunya dianggap bisa naik pamor lagi dalam perpolitikan. Ada saja yang dikritik oleh ICW. Namun tak mau diam saja. Politikus PDI Perjuangan Ruhut Sitompul ikut bersuara pada 23 Agustus 2020. Terutama terkait besarnya anggaran yang digelontorkan pemerintahan Jokowi. Yang mana untuk mendanai influencer dan tokoh berpengaruh. Para pengkritik pemerintah berbicara sesuai fakta dan bekerja lebih keras sebagai penyeimbang. Pemerintah dan Jokowi terus bekerja untuk rakyat. Entah maksud dibalik gerakan ICW. Benar murni atau tidaknya. Pasalnya organisasi tentu tetap menggunakan dana operasional dalam perjalanannya. Tidak mungkin hanya nol saja bisa berjalan. Namun bisa ditarik benang merah dari para pengisinya. Kemungkinan besar ICW didanai operasionalnya oleh para rezim orde baru. (Ayu Yulia Yang)

BACA JUGA: Dugaan Berspekulasi Kebakaran Kantor Kejagung Masih Ada Keterkaitan Djoko Tjandra

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor: Ayu Yulia Yang

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini