Kamis, 4 Juni 2026

Terawan, Metode Cuci Otak Stimulus Berkarir Jadi Menteri Kesehatan

Photo Author
Ayu Yulia Yang, Nawacita Post
- Kamis, 23 Juli 2020 | 15:05 WIB
Jakarta, NAWACITAPOST - Presiden Joko Widodo atau Jokowi telah mengumumkan jajaran menteri di Kabinet Indonesia Maju. Dr. dr. Terawan Agus Putranto Sp Rad (K) atau dikenal Terawan secara resmi menjabat sebagai Menteri Kesehatan (Menkes). Pernah menempuh program doktor di Universitas Hasanuddin, Makassar dan lulus pada 2013. Sebelumnya, Terawan menjabat sebagai RSPAD Gatot Subroto sejak tahun 2015. Saat menjabat di RSPAD Gatot Subroto, Terawan menangani pasien terapi cuci otak dari berbagai kalangan. Dia memiliki inovasi fenomenal dengan pengobatan bernama Digital Substraction Angiogram (DSA). Sudah menangani 40.000 pasien stroke atau penyakit gangguan saraf yang sembuh karena terapinya. Ilmunya yang mumpuni di bidang medis membuatnya ditunjuk sebagai dokter kepresidenan. Dia juga ikut turun tangan dalam pengobatan Ani Yudhoyono. Menjadi langganan para pejabat lainnya seperti Jusuf Kalla, Aburizal Bakrie Prabowo Subianto dan banyak lagi. Terawan lulus dari SMPN 2 Yogyakarta tahun 1980. Dia melanjutkan sekolah ke SMA Bopkri 1 Yogyakarta.

BACA JUGA: Bukan Saatnya Lagi, Takut dan Khawatir akan Rampok?

Foto : Menteri Kesehatan Terawan

Menurut penuturan gurunya semasa SMA, dia dikenal sebagai siswa yang rajin, pandai, dan religius. Dia selalu mengaitkan urusan kehidupan dengan kepasrahan. Dia juga selalu yakin bahwa rencana Tuhan selalu yang terbaik. Setamat SMA, sudah sejak kecil bercita - cita jadi dokter. Memilih Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai tempatnya menimba ilmu kedokteran. Tujuh tahun masa pendidikan dokter dihabiskannya disana hingga lulus di tahun 1990. Prestasinya cukup baik. Terbukti dia berhasil menjadi dokter saat usianya masih 26 tahun. Lulus sebagai seorang dokter, Terawan bergabung dengan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) melalui jalur Korps Kesehatan Militer. Selama bergabung dengan TNI AD, dia pernah ditugaskan di beberapa daerah. Seperti Bali, Lombok dan Jakarta. Ayahnya hanya pensiunan PNS biasa. Sementara dia bercita - cita menjadi dokter spesialis. Maka dia memilih melanjutkan pendidikan dokter spesialis dengan beasiswa ikatan dinas. Dia mengambil spesialis Radiologi di Universitas Airlangga, Surabaya dan selesai pada tahun 2004.

BACA JUGA: Jargon Kampanye Idealisman Dachi Dipilih Tak Dipilih Pasti Menang, Melebihi Tuhan?

-
Foto : Menteri Kesehatan Terawan

Lima tahun kemudian, tepatnya di tahun 2009, dia masuk dalam jajaran tim dokter kepresidenan RI di masa pemerintahan SBY (Susilo Bambang Yudhoyono). Dia pula terus memperdalam ilmu kedokterannya dengan mengambil studi program doktoral (S3) di Universitas Hasanuddin Makassar. Kecerdasannya menghantarkan dia membuat disertasi spektakuler. Metode brainwash atau cuci otak oleh Terawan pun mencuat. Bertajuk “Efek Intra Arterial Heparin Flushing Terhadap Regional Cerebral Blood Flow, Motor Evoked Potentials dan Fungsi Motorik pada Pasien dengan Stroke Iskemik Kronis”. Menemukan metode yang diberi nama ‘Brain Flushing’. Yang mana sempat menimbulkan perdebatan di kalangan akademisi dan ilmuwan kedokteran. Terlebih karena latar belakangnya sebagai seorang radiolog. Terawan menerapkan metode radiologi intervensi dengan memodifikasi Digital Subtraction Angiogram (DSA). Adalah sebuah teknik melancarkan pembuluh darah otak yang telah ada sejak tahun ’90-an. Modifikasi bertujuan untuk mengurangi paparan radiasi. Jumlah radiasi di ruang tindakan yang mengenai pasien dapat diredam hingga 1/40 dari jumlah radiasi biasa yang dilakukan di luar negeri. Caranya hanya memasukkan kateter ke dalam pembuluh darah melalui pangkal paha.

BACA JUGA: Kasus Korupsi Masa Idealisman Dachi Perlu Dituntaskan Sebelum Pilkada

-
Foto : Menteri Kesehatan Terawan bersama Presiden Jokowi

Dalam terapi cuci otak, Terawan menggunakan obat heparin untuk menghancurkan plak. Cairan heparin berpengaruh terhadap pembuluh darah sebagai antikoagulan (anti pembekuan darah), agen anti-inflamasi, dan anti-oksidan. Heparin dimasukkan lewat kateter yang dipasang di pangkal paha pasien. Kemudian ke sumber kerusakan pembuluh darah penyebab stroke di otak. Untuk menguji metodenya, dia meneliti 75 pasien strok iskemik yang berobat di RSPAD Gatot Subroto. Didominasi oleh laki - laki dengan rentang usia 41 - 60 tahun. Diasumsikan bahwa 73,3 persen pasien ada di usia produktif. Sehingga penyakit stroke mengganggu kegiatan sosial dan ekonomi. Hasil dari penelitian cuci otak menunjukkan. Cuci otak memberikan peningkatan aliran darah yang signifikan, sekitar 41,20 persen. Sebelum menemukan metode, dia telah melakukan berbagai tindakan medis untuk pengobatan stroke akut sejak 2003. Beberapa cara yang pernah dilakukannya adalah transcranial LED  atau pemasangan balon di jaringan otak. Hasilnya, pemasangan balon meningkatkan aliran darah sebesar 20 persen dalam jangka waktu 73 hari. Dia menggunakan metode ditunjang oleh pemberian terapi sebanyak 146 seri. Semata – mata untuk mendapatkan hasil yang diinginkan.

BACA JUGA: Duo Dachi Tantang Incumbent Hilarius Duha, Idealisman Bakal Terjungkal

-
Foto : Presiden Jokowi dengan Jajaran Kementerian Kabinet Indonesia Maju

Alternatif lain, dia juga menggunakan metode pemberian obat penurun kolesterol (statin). Namun obat tidak mempengaruhi aliran darah seketika pasca-iskemia. Responsnya baru kelihatan setelah lima hari. Inovasi ‘cuci otak’ membuatnya diganjar beberapa penghargaan. Diantaranya Hendropriyono Strategic Consulting (HSC) dan dua rekor MURI sekaligus. Tak lain sebagai penemu terapi cuci otak dan penerapan program Digital Substraction Angiogram (DSA) terbanyak dengan pasien yang mencapai puluhan ribu. Lembaga Prestasi Indonesia-Dunia (Leprid) memberi Ketuda Dokter Militer Dunia dengan penghargaan Lifetime Achievement Award atas penemuannya. Terlahir dari keluarga biasa, bukan berarti tidak bisa mengubah nasib menjadi lebih baik. Akan ada banyak jalan. Meski untuk mencapai cita – cita harus bersusah payah terlebih dahulu. Siapa sangka, Terawan yang tadinya hanya anak pensiunan PNS biasa. Kini berkat ketekunannya, jadi Menteri Kesehatan. Metode Cuci Otak yang digawanginya sepertinya menjadi stimulus dirinya dalam berkarir. (Ayu Yulia Yang)

BACA JUGA: Korban Janji Palsu Program Pendidikan Gratis di Nias Selatan Tidak Jelas

 

Editor: Ayu Yulia Yang

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini