Kamis, 4 Juni 2026

Amien Rais Kalah Capres, Dukung Capres Kalah, Dikucilkan di PAN

Photo Author
Ayu Yulia Yang, Nawacita Post
- Sabtu, 13 Juni 2020 | 18:15 WIB
Jakarta, NAWACITAPOST – Tujuh orang pendiri Partai Amanat Nasional (PAN), hanya Amien Rais atau disapa Amien yang masih aktif dalam kancah politik nasional belakangan. Namun, Amien tak mampu membuat kesuksesannya sebagai king maker untuk kedua kalinya. Dia justru terancam dikucilkan dari partai yang didirikannya 21 tahun silam. Kemungkinan dikucilkan menjadikan Amien terus berkoar. Koarannya pun selalu dengan nyinyiran tajam. Hampir setiap tahun ada saja tingkah spontannya. Dulu memang Amien sempat merupakan mantan pendiri PAN. Dulu pernah maju sebagai capres (calon presiden) pada 2004 namun gagal. Amien menyebut capres incumbent Jokowi bakal kalah di pilpres (pemilihan presiden) 2019.

BACA JUGA: Mirisnya Hati Etnis Papua Dirasiskan dan Didiskriminasikan di Negeri Sendiri, Indonesia

Foto : Amien Rais dan Zulkifli Hasan

Setelah Pilpres 2014, arah politik PAN sudah jelas. Merapat sebagai partai pendukung pemenang Pilpres Joko Widodo dan Jusuf Kalla. Selang lima tahun, saat pilpres 2019, PAN berubah sikap. Kendati tak mendapat jatah presiden dan wakil presiden. PAN bergabung dengan Gerindra, Demokrat dan PKS mendukung pasangan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno. Amien menyatakan PAN tidak akan mendukung Jokowi untuk pilpres 2019. Amien lebih dulu mengambil sikap. Amien juga menuding dukungan Zulkifli Hasan (Zulhas) selama ini sebagai sandiwara belaka. Imbasnya, PAN sempat terpecah saat rapat kerja nasional (rakernas) Agustus 2018. Ada kader yang ingin mendukung Jokowi dan Ma’ruf Amin. Ada juga yang lebih setuju memihak Prabowo dan Sandiaga Uno. Zulhas menjadi penentu utama sikap PAN. Tapi semua orang paham, Amien Raislah yang ngotot mendukung Prabowo. Setelah kekalahan di pilpres 2019, PAN tidak mendapat apa - apa. Deklarasi dukungan pada Prabowo dan Sandiaga seperti perwujudan keputusan impulsif semata. Tidak ada keuntungan elektoral di pileg (pemilihan legislative). Tidak ada jatah kabinet. Tidak ada pula jaminan PAN akan mengusung tokohnya di pilpres 2024 mendatang. Padahal terus saja politikus Amien mendorong 'people power' dengan Gerakan Nasional Kedaulatan Rakyat (GNKR). Terutama akan dilakukan untuk merespons kecurangan dalam Pilpres 2019 yang terstruktur, sistematis, masif. Amien bahkan melontarkan kata - kata kepada rezim untuk tak menakut - nakuti rakyat.

BACA JUGA: Bukan Saatnya Lagi, Takut dan Khawatir akan Rampok?

-
Foto : Amien Rais

Konflik kepentingan sepertinya terjadi pada Amien Zulhas. Keinginan Zulhas menjadi ketua partai dua periode tak disetujui oleh Amien. Susunan pengurus PAN 2020 – 2025, Zulhas berhasil menjadi ketua umum (ketum). Mengganti posisi Ketua Dewan Kehormatan Amien dengan Soetrisno Bachir. Puncaknya, Hanafi Rais, anak Amien Rais, keluar dari kepengurusan PAN. Rekam jejak Amien sebagai mantan pimpinan Muhammadiyah nyatanya juga tak menjadi jaminan. Gagal merebut kursi ketum PAN dari Zulhas. Tidak ada jaminan. Kader Muhammadiyah akan mengalihkan suaranya ke partai baru Amien. Kemudian melihat dari sepak terjang Amien belakangan dekat dengan Persaudaraan Alumni 212. Kemungkinan besar partai Amien akan bercorak agama. Lebih tepatnya Islam, bersaing dengan PKB, PBB, PKS dan PPP. Namun saying, dalam survei elektabilitas yang dilakukan 2018 dan 2019, nama Amien juga tidak menjadi pilihan kuat dalam bursa calon presiden atau wakil presiden. Alvara Research Center misalnya. Justru melambungkan nama Zulhas.

BACA JUGA: Kuliah Ikatan Kedinasan Poltekip Poltekim Kemenkumham Sudah Dibuka, Ayo Daftar!

-
Foto : Zulkifli Hasan berkunjung ke Presiden Jokowi

Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Wasisto Raharjo Jati menilai pada 12 Februari 2020. Penunjukan Hatta Rajasa (Hatta) usai Zulhas terpilih sebagai ketua umum tak lain untuk mengimbangi Amien. Tepatnya mengimbangi di tubuh PAN. Hatta adalah salah satu politikus senior PAN yang berseberangan dengan Amien. Pada kongres lima tahun lalu, Hatta merupakan lawan Zulhas. Saat itu Amien mendukung Zulhas, ketimbang Hatta. Pengangkatan Hatta menunjukkan PAN sepertinya mencari patron baru selepas pamor politik Amien memudar. Amien sendiri tak mendukung Zulhas untuk menjadi pimpinan PAN lagi. Malah lebih menjagokan Mulfachri dan putranya Hanafi Rais untuk memimpin partai yang berdiri pada 1998 lalu. Namun, Pan tidak memihak pada Amien. Belum diputuskannya Amien kembali masuk jajaran pengurus DPP. Zulhas ingin membentuk ulang PAN untuk kembali pada citra partai reformis. Menilai PAN telah kehilangan jati dirinya. PAN juga tak menutup kemungkinan masuk kembali dalam pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Hal ini tak terlepas dari garis politik PAN yang mengambil posisi sebagai partai tengah oportunis. Lantas kini sepertinya Amien telah dikucilkan dari partai yang didirikannya sendiri selama 22 tahun. (Ayu Yulia Yang)

BACA JUGA: BUMN Pertamina Dibawah Kepemimpinan Ahok Bungkam Rengekan Harga BBM Turun

Editor: Ayu Yulia Yang

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini