CIA melahirkan Osama Bin Laden dan menyusui organisasinya selama tahun 1980-an. Mantan Menteri Luar Negeri Inggris, Robin Cook, mengatakan kepada House of Commons bahwa Al Qaeda tidak diragukan lagi adalah produk dari agen intelijen Barat. Mr Cook menjelaskan bahwa Al Qaeda, yang secara harfiah berarti singkatan dari "basis data" dalam bahasa Arab, pada awalnya merupakan basis data komputer dari ribuan ekstrimis Islam, yang dilatih oleh CIA dan didanai oleh Saudi, untuk mengalahkan Rusia di Afghanistan.
Hal ini terkonfirmasi pada oktober 2012, pemimpin Al Qaeda pasca tewasnya Osama bin Laden, Ayman Al Zawahiri, menyebarluaskan pesan video yang berisi pernyataan bahwa Bin Laden adalah anggota IM cabang Arab Saudi. Makanya anggota IM Saudi-lah yang terbanyak bergabung saat Abdullah Azzam menyerukan jihad di Afghanistan.
Hubungan Amerika dengan Al Qaeda selalu menjadi hubungan cinta-benci. Bergantung pada apakah kelompok teroris Al Qaeda tertentu di wilayah tertentu lebih jauh dari kepentingan Amerika atau tidak, Departemen Luar Negeri AS mendanai atau secara agresif menargetkan kelompok teroris itu. Bahkan ketika para pembuat kebijakan luar negeri Amerika mengklaim menentang ekstremisme Muslim, mereka secara sadar menjadikannya sebagai senjata kebijakan luar negeri. Seperti contoh
ISIS, adalah mesin teror AS, seperti halnya Al Qaeda, tentu saja akhirnya menjadi bumerang.
ISIS bagian rangkaian cara CIA memanfaatkan radikalisme islam. Maklum, Invasi Amerika dan pendudukan Irak tahun 2003 menciptakan prasyarat bagi kelompok-kelompok Sunni radikal, seperti ISIS, untuk berakar. Amerika, agak tidak bijaksana, menghancurkan mesin negara sekuler Saddam Hussein dan menggantinya dengan pemerintahan mayoritas Syiah. Pendudukan A.S. menyebabkan pengangguran besar di wilayah Sunni, dengan menolak sosialisme dan menutup pabrik dengan harapan naif bahwa tangan ajaib pasar bebas akan menciptakan lapangan kerja.
Di bawah rezim Syiah baru yang didukung AS, kelas pekerja Sunni kehilangan ratusan ribu pekerjaan. Tidak seperti Afrikaner kulit putih di Afrika Selatan, yang diizinkan untuk menjaga kekayaan mereka setelah perubahan rezim, kelas atas Sunni secara sistematis kehilangan aset mereka dan kehilangan pengaruh politik mereka. Alih-alih mempromosikan integrasi dan persatuan agama, kebijakan Amerika di Irak memperburuk perpecahan sektarian dan menciptakan lahan subur subur bagi ketidakpuasan Sunni, dari mana Al Qaeda di Irak berakar dan melahirkan ISIS. Dulu sebelum 2010, ISIS adalah Al Qaida di Irak. Setelah 2010 kelompok itu mengubah citra dan memfokuskan kembali upayanya pada
Suriah.
Pada dasarnya ada tiga perang yang dilakukan di Suriah: satu antara pemerintah dan pemberontak, satu lagi antara Iran dan Arab Saudi, dan satu lagi antara Amerika dan Rusia. Ini adalah pertempuran ketiga, Perang neo-Dingin yang membuat pembuat kebijakan luar negeri AS memutuskan untuk mengambil risiko mempersenjatai pemberontak Islam di Suriah, karena Presiden Suriah, Bashar al-Assad, adalah sekutu penting Rusia. Agak memalukan, banyak dari pemberontak Suriah ini sekarang ternyata adalah penjahat ISIS, yang secara terbuka mengacungkan senapan serbu M16 buatan Amerika. Kebijakan Timur Tengah Amerika berputar di sekitar minyak dan Israel.
Invasi ke Irak telah memuaskan sebagian kehausan Washington akan minyak, tetapi serangan udara yang berkelanjutan di Suriah dan sanksi ekonomi terhadap Iran ada hubungannya dengan Israel. Tujuannya adalah untuk menghilangkan musuh-musuh tetangga Israel, Hizbullah Libanon dan Hamas Palestina, dari dukungan penting Suriah dan Iran.
ISIS bukan sekadar alat teror yang digunakan Amerika untuk menggulingkan pemerintah Suriah; itu juga digunakan untuk menekan Iran. Terakhir kali Iran menginvasi negara lain adalah pada tahun 1738. Sejak kemerdekaan pada tahun 1776, AS telah terlibat dalam lebih dari 53 invasi dan ekspedisi militer. Terlepas dari apa yang diteriakkan oleh perang media Barat yang Anda yakini, Iran jelas bukan ancaman bagi keamanan kawasan, Washington tetap melakukannya.
Sebuah Laporan Intelijen yang diterbitkan pada 2012, yang didukung oleh enam belas badan intelijen AS, menegaskan bahwa Iran mengakhiri program senjata nuklirnya pada tahun 2003. Kebenarannya adalah, ambisi nuklir Iran mana pun, nyata atau yang dibayangkan, adalah akibat dari permusuhan Amerika terhadap Iran, dan tidak sebaliknya.
Amerika menggunakan ISIS dalam tiga cara: untuk menyerang musuh-musuhnya di Timur Tengah, untuk bertindak sebagai dalih bagi intervensi militer AS di luar negeri, dan di rumah untuk menimbulkan ancaman domestik yang dibuat, digunakan untuk membenarkan perluasan pengawasan domestik invasif yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Dengan secara cepat meningkatkan kerahasiaan dan pengawasan pemerintah, pemerintahan Obama meningkatkan kekuatannya untuk mengawasi warganya, sementara mengurangi kekuatan warganya untuk mengawasi pemerintah mereka. Terorisme adalah alasan untuk membenarkan pengawasan massa, dalam persiapan untuk pemberontakan massal.
Apa yang disebut "Perang Melawan Teror" harus dilihat apa adanya: dalih untuk mempertahankan militer AS yang terlalu besar dan berbahaya. Dua kelompok paling kuat dalam pembentukan kebijakan luar negeri A.S. adalah lobi Israel, yang mengarahkan kebijakan Timur Tengah A.S., dan Kompleks Industri-Militer, yang diuntungkan dari tindakan-tindakan kelompok sebelumnya.
Sejak George W. Bush mendeklarasikan "Perang Melawan Teror" pada Oktober 2001, pembayar pajak Amerika harus membayar sekitar 6,6 triliun dolar dan ribuan putra dan putri yang jatuh; tetapi, perang juga telah menghasilkan miliaran dolar bagi elit militer Washington. Faktanya, lebih dari tujuh puluh perusahaan dan individu Amerika telah memenangkan hingga $ 27 miliar dalam kontrak untuk bekerja di Irak dan Afghanistan pascaperang selama tiga tahun terakhir, menurut sebuah studi baru-baru ini oleh Pusat Integritas Publik.
Menurut penelitian tersebut, hampir 75 persen dari perusahaan swasta ini memiliki karyawan atau anggota dewan, yang baik melayani, atau memiliki hubungan dekat dengan, cabang eksekutif pemerintahan Republik dan Demokrat, anggota Kongres, atau tingkat tertinggi dari militer.
Semua aktifis IM sudah bermetamorfosa menjadi berbagai gerakan dan kelompok. Itu karena CIA menjadikan mereka proxy dengan memberikan dana dan senjata, termasuk ISIS, Namun AS tidak segan segan menghabisi mereka bila terjadi pembelotan terhadap agenda AS di Timur Tengah. ISIS kini sudah musnah, namun kapanpun AS bisa kembali menghidupkan ISIS, bila kepentingannya terancam di Irak atau Suriah.
Islamisme di Indonesia
Anies Matta waktu tahun 2008 pernah memuji Osama Bin Laden. Padahal Osama Bin Laden adalah Al Qaeda, yang berbeda dengan PKS terafiliasi dengan ikwanul muslimin ( IM ). Lantas mengapa sampai Anies Matta memuji Osama Bin Laden? Karena memang idiologi AL Qaeda khsusunya Osama Bin Laden itu berakar dari ikhwanul muslimin. Tokoh PKS sangat terinspirasi dengan ulama IM, termasuk Anies baswedan. Bahkan tokoh otak lahirnya ISIS, Abu Ali al-Anbari juga pengikut pemikiran dari Ulama IM.
Pendiri HT ( Hizbut Tahrir) , syaikh Taqiyudin an-Nabhan, termasuk yang terinspirasi dengan pemikiran dari Hassan Al Banna. Yang ingin mengembangkan pemikiran Islam untuk berdirinya khilafah. Namun an-Nabhan menolak pemikiran dari Sayyid Qutb untuk melakukan penyebaran pemikiran itu lewat aksi kekerasaan. Dia ingin berjuang dengan cara damai. Walau HT mengharamkan Partai, namun demi bersiasat berjuang merebut kekuasaan, mereka juga bisa saja mendirikan partai atau beraliansi dengan Partai islam yang mau menjalankan agendanya. Tetapi di Indonesia HT tidak bisa beraliansi dengan PKS. Namun dengan organisasi radikal yang tergabung dalam Forum Ulama Indonesia, HTI sangat besar pengaruh pemikirannya. Terus menjadi ancaman paham nasionalisme.
Hebatnya pemikiran dari Ulama IM adalah mereka sangat moderat dalam satu sisi dan sangat radikal di sisi lain. Itu perpaduan Al Banna dan Qutb. Contoh dia menghalalkan minuman keras asalkan alkoholnya rendah. Dari teman aktifis Islam, saya dapat pemahaman tentang dalil membolehkan melakukan apa saja untuk bersiasat dalam berjihad. Termasuk kerjasama dengan orang Kafir dan atau syiah sekalipun. Bahkan para kader yang punya posisi sebagai pejabat pemerintah boleh korup asalkan uang korupsi dipakai untuk berjihad, demi tegaknya syariah Islam. Pengikut boleh merampok orang kafir asalkan untuk tujuan berjuang. Karenanya tidak sulit bagi CIA membeli mereka untuk tujuan politik AS.
Bukan rahasia bila Amerika Serikat juga secara terbuka mendukung Sarekat Islam melawan Sukarno di Indonesia. Dan di Era Soeharto, memang tidak ada riak berarti gerakan Islam karena Soeharto adalah proxy AS. Namun di era Reformasi, gerakan islam tidak bisa dilepaskan dari proyek kepentingan geopolitik dan geostrategis AS, yang ingin mengontrol pemeritahan demokratis. Itu sebab politisasi Islam mendapat lahan subur untuk berkembang, sebagai penyeimbang dari paham nasionalisme. Selagi konflik terus terjadi, selama itu juga posisi tawar AS tetap besar di Indonesia, siapapun rezim yang berkuasa.