nasional

Pendidikan Karakter Bangsa, Kepala BPIP Prof. Yudian Wahyudi : Harus Menjadi Acuan

Sabtu, 22 Oktober 2022 | 09:18 WIB
Kepala BPIP Yudian Wahyudi. Foto Instragranm

Jakarta, NAWACITAPOST.COM – Ada dua (2) pernyataan  Prof, K.H Yudian Wahyudim, saat ia menjabat Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pertama Yudian sempat membuat kebijakan melarang penggunaan cadar bagi mahasiswi di kampus itu.

Baca Juga : BPIP RI Sambangi Kanwil Kemenkumham Sulsel


Pelarangan itu dikeluarkan berdasarkan Surat Keputusan Rektor UIN bernomor B-1031/Un.02/R/AK.00.3/02/2018 perihal pembinaan mahasiswi bercadar tertanggal 20 Februari 2018. Kebijakan Yudian menuai protes dari berbagai pihak, meski ada juga yang mendukung.

Namun, Suami dari Siti Handaroh punya alasan perihal larangan tersebut, diberlakukan demi menjaga ideologi mahasiswa dan mahasiswi UIN Kalijaga serta memudahkan kampus dalam kegiatan belajar mengajar. Misalnya, Yudian curiga mahasiswi yang bercadar akan dengan mudah menggunakan joki saat ujian tanpa bisa diketahui.

"Jadi harus bijak melihat ini. Anak-anak baru itu datang dari kampung, lulus dari sekolah malah 'digarap' sama orang luar kampus, doktrin ideologi tertentu. Kita harus selamatkan agar tidak tersesat," kata Yudian seperti dikutip CNNIndonesia.com, 6 Maret 2018.
Namun, belum sebulan surat tersebut berlaku, ia mencabut kebijakan larangan cadar ini. Ia mengeluarkan surat bernomor B-1679/Un.02/R/AK.00.3/03/2018.

Surat yang dikategorikan bersifat penting itu terkait pencabutan surat tentang pembinaan mahasiswi bercadar tertanggal 10 Maret 2018. Dalam surat itu tertulis, berdasarkan hasil Rapat Koordinasi Universitas (RKU) pada Sabtu, 10 Maret 2018, diputuskan bahwa Surat Rektor Nomor B-1301/Un.02/R/AK.00.3/02/2018 tentang Pembinaan Mahasiswi Bercadar dicabut.

Dijelaskan alasan pencabutan aturan pembinaan mahasiswi bercadar itu demi menjaga iklim akademik yang kondusif.

Pernyataan Kedua, “Agama musuh Pancasila" dan "Konstitusi di Atas Kitab Suci." Saat, ayah dari Hayu Qaimamunazzala menjabat Kepala BPIP, mengutip media detik.com, dengan judul Blak-blakan Kepala BPIP: Jihad Pertahankan NKRI" dan diunggah pada 12 Februari 2020.

Dalam video itu ia menjelaskan sejarah Pancasila yang semakin lama semakin tereduksi. Salah satu pernyataan yang memicu kontoversi adalah "Si Minoritas ini ingin melawan Pancasila dan mengklaim dirinya sebagai mayoritas. Ini yang berbahaya. Jadi kalau kita jujur, musuh terbesar Pancasila itu ya agama, bukan kesukuan."

Esoknya 13 Februari 2020, Kepala Staf Presiden Moeldoko membela pernyataan Yudian Wahyudi yang menyebut agama merupakan musuh Pancasila. Moeldoko meyakini Yudian tak bermaksud menyudutkan bahwa agama memang menjadi musuh Pancasila. "Ya, bisa saja yang memaknainya yang salah. Padahal bukan seperti itu maksudnya," ujar Moeldoko di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta.

Terlepas dari pernyataan yang seperti itu, Yudian adalah anak lulusan Pondok Pesantren Tremas, Pacitan 1978 dan Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak, Yogyakarta pada 1979. Selain itu, ia meraih gelar Bachelor of Art (BA) dan doktorandus di Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada 1982 dan 1987, serta BA dari Fakultas Filsafat UGM pada 1986.

Walaupun, pernyataan kerap dipelintir media, Yudian tak melakukan somasi, yang dilakukan hanya diam dan memaafkan. : Lebih dari itu, ia kerap blusukan ke sekolah-sekolah menggemakan pendidikan karakter bangsa.

Tags

Terkini