Jakarta, NAWACITAPOST. COM – Pernah menjadi aktivis GMNI, kemudian legislator Senayan selama hampir dua periode (kurang lebih 10 tahun), ditugaskan rakyat melalui partai (PDI-P) menjadi Gubernur Jawa Tengah selama dua periode juga (sisa satu tahun lagi), begitulah Ganjar Pranowo berkiprah buat NKRI.
Baca Juga : Semakin Diserang Elektabilitas Ganjar Pranowo Semakin Meroket
Suami dari Hj Siti Atikoh Supriyanti, perhatian kepada warganya bukan hanya dengan kata, melainkan saat warga yang kesulitan, saat terdampak Covid-19, bencana alam, didatangi dan memberi bantuan, serta solusi.
Dan itu dilakukan bukan hanya kepada warga asal Jateng saja, tetapi kepada warga luar daerah yang berada di Jateng, seperti yang terjadi kala Mahasiswa dari Kawasan Timur Indonesia, kesulitan mendapatkan bantuan atau pasokan logistik sehari-hari dari Pemdanya, tak tunggu lama, Ganjar langsung memberikan bantuan secukupnya kepada mahasiswa tersebut.
Perlahan demi perlahan, penataan kota dan transportasi umum diperbaiki, pungutan liar mulai dihapus. Terbukti, pada 27 April 2014, Ganjar menyita perhatian publik saat mengeluarkan kemarahannya pada petugas Dishub yang melakukan praktik pungutan liar (pungli) saat melakukan inspeksi mendadak di jembatan timbang Subah, Kabupaten Batang. Ganjar mengaku melihat langsung beberapa kernet memberikan uang Rp 10.000 hingga Rp 20.000 atau di bawah denda resmi tertinggi sebesar Rp 60.000 kepada petugas.
Tak sampai disitu, anak-anak usia sekolah, tetapi masih berada di rumah, Ayah dari Muhammad Zinedine Alam Ganjar memerintahkan dinas terkait untuk menuntaskan masalah tersebut.
Soal kebhinekaan jangan ditanya, Ketua Umum Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) dua periode (2014–2019 dan 2019-2024), pergaulannya luas dengan kalangan dari berbagai daerah di Indonesia.
Semenjak Ganjar mejabat Gubernur, Jawa Tengah yang dulu dikenal sebagai pusat dari gerakan radikalisme, bahkan terorisme, berangsur redup, dan padam.
Karena Ganjar mampu merajut dan berkomunikasi dengan baik kepada tokoh agama dan tokoh masyarakat melalui dialog yang dua arah ; mendengar dan berbicara, kemudian diputuskan bersama-sama.
Terkait hal itu, kabar menggembirakan, tokoh yang anti Pancasila dari Pimpinan Pesantren Al Mukmin Ngruki Karismatik Selain ust. Abu Bakar Ba’syir, akhirnya mengakui Pancasila. Dan, itu salah satunya ada peran Ganjar Pranowo, dalam hal ini sebagai Gubernur Jateng.
Ternyata, apa yang dilakukan Ganjar dari Jawa Tengah (pembangunan daerah), berdampak kepada daerah seluruh Indonesia.
Sebagai kader perjuangan, Ganjar mampu menyambungkan pemikiran bung Karno dan Presiden Jokowi, di Jawa Tengah.
Maka, tepat anak dari pasangan Sungkowo Pamudji (ayah) Sri Suparni (ibu), mendapatkan penghargaan Nawacita Award, dalam kategori Pembangunan Daerah.