nasional

Profil Ismail Haniyeh, Tokoh Kunci Hamas yang Gugur di Iran

Rabu, 31 Juli 2024 | 15:03 WIB
Pemimpin Hamas Ismail Haniyeh tewas di Teheran, Iran. (X)

NAWACITAPOST.COM - Dalam serangan yang mengejutkan dunia internasional, pemimpin Hamas Ismail Haniyeh tewas di Teheran, Iran akibat serangan militer Israel. Serangan yang terjadi sekitar pukul 02.00 waktu setempat ini menargetkan kediaman Haniyeh di sebuah kompleks khusus untuk veteran perang di bagian utara Teheran.

Media Iran melaporkan bahwa penyelidikan lebih lanjut sedang dilakukan dan hasilnya akan segera diumumkan. Hamas, melalui pernyataan resminya, mengkonfirmasi kematian pemimpin mereka.

“Pagi ini, kediaman Ismail Haniyeh di Teheran diserang, mengakibatkan dia dan salah satu pengawalnya syahid. Penyebabnya sedang diselidiki dan akan segera diumumkan,” ujar perwakilan Garda Revolusi Iran.

Haniyeh yang dikenal sebagai salah satu tokoh paling diburu oleh otoritas Israel, selama ini tinggal di luar Palestina dan sering berkunjung ke Iran. Kehadirannya di Teheran kali ini adalah untuk menghadiri pelantikan Presiden baru Iran, Masoud Pezeshkian, yang dijadwalkan pada Selasa (30/7/2024).

Baca Juga: Triniti Dinamik Luncurkan Proyek Mixed-Use District East di Karawang Timur

Profil Ismail Haniyeh

Ismail Haniyeh, lahir pada tahun 1963 di kamp pengungsi Shati, Gaza. Ia dikenal sebagai salah satu tokoh politik paling terkemuka di Palestina.

Ismail menempuh pendidikan di sekolah-sekolah yang dikelola oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan memperoleh gelar sarjana sastra Arab dari Universitas Islam Gaza pada tahun 1987. Karir politik Haniyeh dimulai ketika ia bergabung dengan Hamas selama masa kuliahnya.

Ia berpartisipasi dalam protes Intifada Pertama dan sempat dipenjara oleh pengadilan militer Israel. Setelah dibebaskan, Haniyeh bersama para pemimpin senior Hamas lainnya diusir ke Lebanon. Ia kembali ke Gaza pada tahun 1993 setelah Perjanjian Oslo.

Pada tahun 1997, Haniyeh menjadi sekretaris pemimpin spiritual Hamas, Syaikh Ahmed Yassin. Ia kemudian diangkat sebagai Perdana Menteri pemerintah Otoritas Palestina setelah kemenangan Hamas dalam pemilihan legislatif tahun 2006. Namun, ia kemudian diberhentikan oleh Presiden Mahmoud Abbas pada tahun 2007.

Baca Juga: Puradelta Raup Pendapatan Rp1,2 Triliun di Paruh Pertama 2024

Selama bertahun-tahun, Haniyeh dikenal sebagai figur utama dalam kelompok Hamas. Ia sering berada di luar Gaza untuk menghindari serangan dan blokade Israel, serta menjalin komunikasi dengan mitra-mitra Hamas seperti Qatar dan Iran. Sejak tahun 2019, Haniyeh tinggal di Turki dan Qatar, mewakili Hamas dalam urusan internasional.

Serangan terhadap Haniyeh ini memicu berbagai reaksi dari komunitas internasional. Turki mengecam keras serangan tersebut dan menuduh Israel tidak memiliki niat untuk mencapai perdamaian. Sementara itu, Presiden Palestina Mahmoud Abbas juga mengutuk pembunuhan ini sebagai tindakan yang tidak dapat diterima dan hanya akan memperburuk konflik yang ada.

 

Tags

Terkini