NAWACITAPOST.COM - Presiden Iran Ebrahim Raisi meninggal dunia dalam kecelakaan helikopter di daerah pegunungan dekat perbatasan Azerbaijan, pada Minggu, 19 Mei 2024. Tragedi ini menyebabkan keprihatinan global, mengingat peran penting Iran dalam perekonomian dunia, terutama di sektor minyak.
Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya Raisi dan berharap agar peristiwa tersebut tidak memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian global, terutama harga minyak dunia. Jokowi menyatakan kekhawatirannya bahwa jika harga minyak naik sebagai akibat dari kejadian ini, dampaknya akan meluas ke berbagai sektor ekonomi.
“Kita harapkan tidak berdampak kepada ekonomi global, utamanya yang berkaitan dengan harga minyak. Karena kalau sudah harga minyak naik terdampak dari peristiwa itu, akan berdampak ke mana-mana,” ujar Jokowi.
Dia menambahkan bahwa kenaikan harga minyak akan menyebabkan inflasi yang berdampak pada harga barang dan layanan lainnya. Jokowi juga menyampaikan belasungkawa atas nama pemerintah dan masyarakat Indonesia, mengingat hubungan baik antara kedua negara.
Baca Juga: Iran Berduka, Presiden Ebrahim Raisi Tewas dalam Kecelakaan Helikopter
Pada 23 Mei 2023, Raisi pernah mengunjungi Indonesia dan bertemu dengan Jokowi di Istana Kepresidenan Bogor. Pertemuan Raisi dan Jokowi menghasilkan 10 dokumen kerja sama, mulai dari perluasan akses perdagangan hingga komitmen pemberantasan narkoba.
Berita kematian Raisi segera dikonfirmasi oleh Wakil Presiden Iran Mohsen Mansouri melalui media sosial dan televisi pemerintah. Tragedi ini mengejutkan dunia dan menimbulkan kekhawatiran akan dampak ekonomi yang mungkin timbul.
Helikopter Bell 212 yang membawa Raisi, Menteri Luar Negeri Hossein Amirabdollahian, dan Gubernur Azerbaijan Timur Malek Rahmati jatuh di daerah pegunungan setelah menghadiri acara dengan Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev. Seluruh penumpang helikopter, termasuk Raisi, tewas dalam kecelakaan ini. Puing-puing helikopter ditemukan pada Senin pagi (20/5/2024) dengan kondisi hangus terbakar.
Tak lama setelah kabar kematian Raisi tersebar, harga minyak dunia mengalami lonjakan. Pada hari Senin, harga minyak mentah berjangka Brent naik 10 sen atau 0,1% menjadi US$ 84,05 per barel. Harga ini sempat mencapai US$ 84,30 per barel, tertinggi sejak 10 Mei 2024.
Baca Juga: Bom di Iran Tewaskan Lebih dari 100 Orang, Pemerintah Umumkan Hari Berkabung Nasional
Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk periode Juni 2024 turun tipis 5 sen menjadi US$ 80,01 per barel, setelah sempat mencapai US$ 80,23 per barel pada 1 Mei silam. Kontrak berjangka WTI periode Juli naik 12 sen atau 0,1% menjadi US$ 83,75 per barel.
Iran merupakan produsen minyak terbesar ketiga di OPEC, dengan produksi mencapai 3 juta barel per hari atau sekitar 3% dari total minyak dunia. Dalam dua tahun terakhir, produksi minyak mentah Iran mengalami peningkatan pesat. Pada Maret 2024, produksi minyak mentah Iran berkisar di angka 1,61 juta BOPD, tertinggi sejak Mei 2023 yang mencapai 1,68 juta BOPD.
Kenaikan harga minyak akibat ketidakstabilan politik di Iran bisa berdampak luas. Sektor transportasi dan industri manufaktur yang bergantung pada minyak sebagai sumber energi utama akan menghadapi peningkatan biaya operasional.
Hal ini bisa memicu inflasi dan mempengaruhi daya beli masyarakat. Negara-negara yang bergantung pada impor minyak juga akan merasakan tekanan ekonomi yang lebih besar, memaksa mereka untuk mencari sumber energi alternatif atau memperkuat cadangan energi nasional.
Artikel Terkait
Jokowi Bahas Kerja Sama dengan Presiden Iran
Dandim dan Kapolres Metro Bekasi Kota Pimpin Pengamanan Kunjungan Ibu Presiden Iran di Pondok Pesantren As – Syafiah
Indonesia dan Iran Jalin Kerja Sama Jaminan Produk Halal
Moeldoko Berkomitmen KSP Siap Berkolaborasi Indonesia dan Iran
Kemensos Sambut Kunjungan Iran di Sentra Terpadu Pangudi Luhur Bekasi