NAWACITAPOST.COM - Memasuki sepertiga akhir bulan Ramadan, geliat arus mudik sudah sangat terasa sekali. Motor dan mobil memenuhi bengkel, tempat dan lokasi service, tiket kereta, kapal, dan pesawat ludes, pun juga rental mobil habis terbocking. Supermall penuh, pasar swalayan penuh, pasar tempel penuh, yang terasa agak longgar hanya saf shalat tarawih.
Semakin mendekati Lebaran, jalanan juga semakin macet, orang jubel di mana-mana, bandara, terminal, stasiun, supermall hingga pasar tempel, ada pergerakan orang, barang, dan finansial yang terstruktur, sistematis, dan masif (TSM) luar biasa. Menariknya, yang seperti ini hanya terjadi di sini di Indonesia.
Kata "mudik" sendiri berasal dari Bahasa Jawa, yaitu "mulih dilik", yang berarti pulang sebentar. Sumber lainnya menyebut bahwa mudik berasal dari Bahasa Betawi, yaitu "menuju udik" atau menuju kampung.
Profesor Quraish Shihab, dalam kultum Mudik Silaturrahim, mengatakan bahwa mudik bukan sekadar pulang kampung, melainkan sebuah perjalanan spiritual yang penuh kelezatan rohani.
Baca Juga: Pemilu Usai, Pendukung Bacalon Pilkada di Kepni Mulai Memanas
Menurutnya, kelezatan rohani mudik terletak pada silaturahim. Berkumpul bersama keluarga, handai taulan, dan kerabat tercinta, menjalin kembali hubungan yang mungkin renggang karena jarak, dan menciptakan momen-momen indah yang tak terlupakan.
Silaturahmi ini bagaikan perekat yang memperkuat tali persaudaraan dan kasih sayang. Mudik momen istimewa untuk merekatkan hubungan antar manusia, mendekatkan diri kepada Tuhan, dan merasakan kedamaian batin.
Kelezatan rohani mudik tak tertandingi oleh apapun. Karena itu, mudik menjadi sebuah tradisi yang selalu dirindukan oleh para perantau.
Tradisi mudik bagi bangsa Indonesia, selain memperkokoh hubungan keluarga dan silaturahim, juga memiliki dampak pada kesejahteraan bangsa. Uang sebagai alat tukar ekonomi berputar dengan cepat selama liburan cuti bersama berdasarkan keputusan pemerintah.
Baca Juga: Faigiziduhu Ndruru: Kepala Daerah di Kepni Sudah Berpikir Korup Sebelum Membangun
Kamar Dagang Industri (Kadin) Indonesia memperkirakan perputaran uang selama libur Lebaran 2024 mencapai Rp157,3 triliun, dengan jumlah pemudik yang diperkirakan mencapai 193 juta.
Sementara itu, Dosen Pascasarjana Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta, Al-Zastrouw Ngatawi, mengatakan bahwa tradisi mudik dan lebaran mencerminkan karakteristik Islam Nusantara. Pertama, Islam Nusantara memasukkan nilai-nilai dan ajaran Islam dalam konstruk tradisi dan budaya lokal tanpa merusak substansi dan mengurangi sakralitas ajaran itu sendiri. Dengan cara ini, ajaran Islam bisa diterima semua pihak.
Kedua, meskipun sarat dengan simbol dan nuansa Islam, hampir tidak ada yang merasa terancam atau khawatir dengan bangkitnya Islam, seperti yang terlihat dalam tradisi mudik dan lebaran. Sebaliknya, seluruh umat juatru ikut berbahagia dalam kemeriahan mudik dan lebaran tanpa harus mengorbankan keyakinan masing-masing.
Ketiga, hampir semua pihak, mulai dari aparat negara sampai komunitas, berpartisipasi dan terlibat dalam peristiwa mudik dan lebaran secara sukarela dan sukacita. Ini menunjukkan bahwa Islam Nusantara tidak memecah belah atau menimbulkan ketakutan pada pihak lain, tetapi justru bisa merajut perbedaan dan menjaga keberagaman dengan cara menebar kebahagiaan pada pihak lain.