NAWACITAPOST.COM - Indonesia, negeri dengan keberagaman budaya dan agama, telah lama menjadi teladan harmoni dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun, dibalik gemerlapnya kekayaan tersebut, terdapat dinamika kompleks antara agama, budaya, dan identitas nasional yang terus bergerak dan bergulir seperti ombak di lautan.
Dosen IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Badrudin, dalam sebuah makalahnya, "Antara Islam dan Kebudayaan," menyinggung tentang Islam dan kebudayaan yang saling bertautan. Bagi Badrudin, agama memberi warna pada kebudayaan. Sementara, kebudayaan memberi kekayaan pada agama.
Namun, pertemuan antara Islam dan seni tradisional atau budaya seringkali berubah menjadi benturan. Seni tradisional, budaya, atau adat istiadat kerap dipandang tak sejalan dengan ajaran Ilahiyat yang dianggap bersifat mutlak.
Untuk menyeimbangkan perbedaan tersebut, Badrudin mengusulkan konsep kulturalisasi Islam. Di sini, kulturalisasi Islam diartikan sebagai usaha menjadikan agama dan budaya tidak saling mengalahkan, melainkan saling melengkapi dalam pola pikir keagamaan yang memiliki dimensi pemahaman yang tinggi.
Baca Juga: Faigiziduhu Ndruru: Indonesia Patut Bangga, Perusahaan Properti Banyak Peduli Budaya Nusantara!
Dalam konteks ini, konsep kebudayaan sangat dipengaruhi oleh pemikiran dasar tentang azas-azas pembentukan masyarakat dan kebudayaan. Konsep al-‘adah muhakkamah, sebagai contoh, menjadi bentuk nyata infiltrasi budaya dalam kehidupan masyarakat Muslim dengan memperhatikan prinsip-prinsip kemaslahatan.
Tak hanya itu, pandangan ahli sosiologi, sejarah, dan antropologi juga turut memberikan pandangan berbeda terkait kebudayaan. Bagi sosiolog, kebudayaan mencakup seluruh kemampuan manusia, sementara bagi sejarawan, kebudayaan adalah warisan atau tradisi. Sementara itu, ahli antropologi melihat kebudayaan sebagai tata cara hidup atau way of life.
Agama dan kebudayaan memiliki ikatan yang kuat. Agama membutuhkan sistem simbol, atau kebudayaan agama, sementara kebudayaan juga mengandung nilai dan simbol untuk memungkinkan manusia hidup dengan damai. Interaksi antara agama dan kebudayaan bisa terjadi dalam beberapa cara, seperti agama yang mempengaruhi kebudayaan dalam pembentukannya atau kebudayaan yang mempengaruhi simbol agama.
Dalam buku "Islam dan Budaya Lokal Kajian Antropologi Agama" karya H. Lebba Kadorre Pongsibanne, disebutkan bahwa media dakwah yang disunting dari agama non-Islam sebagian besar digunakan sebagai strategi dalam menyebarluaskan nama Islam serta ajarannya di Indonesia. Contohnya, seni tari, musik, dan seni sastra.
Baca Juga: Dukung Pelestarian Budaya, Bank Mandiri Selamatkan Warisan Nusantara
Upacara keagamaan seperti Maulid Nabi sering kali dipertunjukkan dengan seni tari dan musik tradisional, seperti dalam acara Sekaten di keraton Yogyakarta dan Surakarta, serta perayaan Grebeg di Cirebon. Selain itu, ada juga islamisasi pertunjukan wayang, di mana tokoh pahlawan Islam digunakan menggantikan tokoh dari cerita Mahabarata dan Ramayana.
Ketika Islam masuk ke wilayah Nusantara, masyarakat pribumi sudah memiliki sifat lokal yang primitif. Masuknya Islam diidentikkan dengan datangnya kebudayaan baru yang akan berinteraksi dengan budaya lama.
Teori Resepsi menyatakan bahwa agama akan mudah diterima oleh masyarakat jika ajarannya tidak bertentangan dengan kebudayaan masyarakat. Sebaliknya, agama akan ditolak jika kebudayaan masyarakat berbeda dengan ajaran agama.
Dengan demikian, diterimanya agama akan mengubah struktur kebudayaan masyarakat. Perubahan tersebut bisa bersifat mendasar (asimilasi) atau hanya mengubah unsur-unsur saja (akulturasi).