NAWACITAPOST.COM — Publik media sosial tengah dihebohkan oleh kemunculan daratan baru seluas 32,8 hektare di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda.
Fenomena yang terjadi usai erupsi besar pada awal September 2026 ini memicu spekulasi liar di tengah masyarakat terkait lahirnya gunung api baru yang dijuluki sebagai 'Cucu Krakatau'.
Menanggapi fenomena tersebut, Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia, Daryono Perwira Sakti, menegaskan bahwa daratan itu bukanlah gunung api independen.
Baca Juga: Kalimantan Dilanda Karhutla: Asap Pekat Mengepul, Truk Kayu Gelondongan Masih Bebas Melintas
Fenomena ini murni merupakan akumulasi material vulkanik hasil aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang mengendap di laut.
"Faktanya, daratan ini bukanlah gunung api independen, melainkan akumulasi material vulkanik seperti abu, batuan, dan lava hasil erupsi Gunung Anak Krakatau yang mengendap di laut," tulis Daryono dalam akun media sosialnya, Kamis (24/9/2026).
"Proses penumpukan ini berlangsung bertahap seiring meningkatnya aktivitas gunung tersebut, hingga akhirnya endapan menyembul ke permukaan air," tambahnya.
Daratan baru ini terbentuk di antara Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sertung. Penumpukan material berlangsung cepat karena dasar laut di area kaldera purba sisa letusan monumental tahun 1883 tersebut tergolong dangkal, dipengaruhi oleh kombinasi faktor geologis dan oseanografis.
Mengenai daya tahan daratan ini di masa depan, Daryono menjelaskan bahwa keberadaannya sangat tergantung pada dinamika alam.
Pertarungan antara pasokan material erupsi dan proses erosi laut akan menentukan apakah daratan ini bakal meluas atau justru lenyap kembali.
"Apakah daratan ini bisa membesar atau justru lenyap kembali? Jawabannya sangat bergantung pada pertarungan antara aktivitas vulkanik dan erosi alam," bebernya.
"Jika Gunung Anak Krakatau terus mengalami erupsi, pasokan material baru akan membuat daratan tersebut makin meluas," imbuh Daryono.
Sebaliknya, jika aktivitas erupsi terhenti, hantaman gelombang serta abrasi laut berpotensi mengikis endapan pasir yang belum padat tersebut.
Selain itu, ancaman longsoran bawah laut atau erupsi eksplosif ber skala besar dapat menghancurkan struktur muda endapan itu dalam waktu singkat.
Lebih lanjut, Daryono merinci tiga syarat geologis mutlak agar suatu daratan dapat dikategorikan sebagai gunung api baru yang berdiri sendiri:
- Saluran Magma Mandiri: Harus memiliki saluran yang terhubung langsung ke dapur magma melalui rekahan baru, terpisah dari kawah induk.
- Aktivitas Erupsi Sendiri: Wajib memuntahkan magma atau gas dari kawahnya sendiri, bukan sekadar menampung muntahan dari gunung di sekitarnya.
- Deformasi & Struktur Geologis: Terdapat aktivitas gempa vulkanik lokal atau pembengkakan tanah yang terpusat tepat di bawah daratan baru tersebut.
Di akhir penjelasannya, Daryono meminta publik untuk tetap tenang dan cermat dalam menyaring informasi yang beredar di jagat maya.
"Menghadapi fenomena ini, masyarakat diimbau untuk tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu spekulatif yang beredar di media sosial," jelas Daryono.
"Kemunculan daratan baru ini adalah proses sedimentasi vulkanik yang lumrah di kawasan gunung api aktif," tandasnya.