nasional

Marak Dugaan Kasus Keracunan MBG Basi, Ribuan Dapur Pelayanan Resmi Disetop

Jumat, 18 September 2026 | 11:41 WIB
Menyoroti kasus keracunan akibat dugaan menu MBG yang tidak layak konsumsi di sejumlah daerah, hingga berujung pemberhentian SPPG. (Dok. BGN)

NAWACITAPOST.COM — Gelombang dugaan kasus keracunan usai mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang basi dan tak layak konsumsi marak melanda sejumlah daerah di Tanah Air.
 
Fenomena tragis ini memicu perhatian publik secara masif hingga memaksa otoritas terkait mengambil tindakan tegas.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, angkat bicara dan mengonfirmasi bahwa rentetan gangguan kesehatan tersebut bersumber dari kondisi makanan yang rusak, terutama pada menu lauk pauk dan sayuran.
 
Baca Juga: Mencekam di Masalembo: Telisik Penyebab Kecelakaan KM Virgo Transport 8

"Kasus adanya gangguan kesehatan karena MBG banyak sekali terjadi karena faktor rusaknya makanan itu lauk dan sayur," kata Sudaryono dalam keterangan resminya, Jumat (18/9/2026).

Sudaryono merincikan bahwa sumber protein hewani menjadi jenis olahan yang paling mendominasi ditemukannya temuan makanan rusak tersebut.

"Lebih banyak lauk. Lebih banyak didominasi oleh protein hewani, apakah ayam, telur, ikan, daging dan lain sebagainya dengan olahan-olahannya," sambungnya.

Bahan Baku Busuk Jadi Sorotan Utama

Dalam penjelasannya, BGN menyoroti kontrol kualitas bahan baku yang terindikasi menjadi titik lemah utama penyelenggaraan MBG.
 
Baca Juga: Update Korban KM Virgo: 69 Penyintas Dievakuasi ke Banjarmasin, Tim Medis Siagakan Tiga Zona
 
Sudaryono menegaskan bahwa proses memasak yang sesuai prosedur tetap tidak akan mampu mencegah timbulnya keracunan jika bahan mentah yang digunakan sejak awal sudah dalam kondisi buruk.

"Mau masaknya benar, kalau bahan bakunya sudah busuk ya enggak, tetap aja orang akan keracunan," ujarnya.

Ia juga menyentil dugaan celah kecurangan dalam pengadaan bahan makanan di lapangan.
 
"Jangan sampai beli katanya beli harga, beli kualitas A tapi ternyata yang datang kualitasnya D, gitu misalnya," imbuh Sudaryono.

Ribuan Dapur SPPG Disetop Operasionalnya

Buntut dari maraknya dugaan kasus keracunan ini, BGN melancarkan pemeriksaan ketat terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG.
 
Baca Juga: Jemput Bola di Salatiga, Kantor Imigrasi Semarang Amankan Paspor Ratusan Jemaah Haji
 
Langkah drastis diambil dengan menghentikan sementara operasional sekitar 1.276 SPPG yang terbukti belum mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).

Sudaryono memastikan bahwa penertiban dapur MBG dilakukan secara bertahap dan tanpa kompromi bagi pihak yang melanggar standar keselamatan pangan.

"Yang tidak sesuai sudah kita tutup, orang-orang kepala dapur, orang yang bekerja di dapur yang tidak kompeten sudah kita keluarkan, dan ini terus akan kita lakukan," bebernya.

Ia menegaskan, dapur yang dijatuhi sanksi penghentian sementara (suspend) berisiko ditutup secara permanen apabila tidak kunjung melakukan perbaikan dan memenuhi standar ketat yang ditetapkan.

Ratusan Korban Bertumbangan di Berbagai Daerah

Langkah tegas BGN ini menyusul maraknya laporan kasus keracunan massal yang melanda ribuan pelajar dan santri di berbagai wilayah Indonesia.
 
Baca Juga: Menantang Kepala BGN Rombak Dapur MBG: Kecilkan Dapur, Perluas Kesempatan Rakyat

Di Tana Toraja, Sulawesi Selatan, sebanyak 193 siswa SMP Negeri 1 dan SMP Negeri 2 dilaporkan mengalami keluhan kesehatan usai menyantap hidangan MBG.
 
Kasus serupa menerpa Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, di mana 352 siswa sekolah dasar di Kecamatan Batukliang mendadak mengalami gejala muntah-muntah dan pusing.

Dampak paling parah dilaporkan terjadi di Sidoarjo, Jawa Timur. Sebanyak 748 santri dan pelajar dari 19 sekolah di kawasan Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin, harus mendapatkan perawatan medis akibat gangguan kesehatan pascakonsumsi program MBG di sekolah mereka.

Tags

Terkini