nasional

OPINI: Beragama dan Bernegaralah yang Rasional!

Selasa, 19 Maret 2024 | 14:27 WIB
Saiful Huda Ems

NAWACITAPOST.COM - Calon presiden (capres), calolon wakil presiden (cawapres), atau calon legislatif (caleg) ada yang kalah, ada pula yang menang itu bukan karena takdir Tuhan. Tetapi karena ada rakyat yang mau memilih dan ada pula rakyat yang tidak mau memilih.

Ada capres, cawapres atau caleg yang kalah karena jujur, tidak mau curang atau memang pada dasarnya mereka lemah atau kalah. Ada pula capres, cawapres, atau caleg yang menang karena pada dasarnya mereka memang kuat, berpotensi menang atau bisa pula mereka menang karena main curang.

Jadi hasil pemilu itu tidak ada hubungannya dengan takdir Tuhan, melainkan karena ada hubungannya dengan kontestan peserta pemilu dan penyelenggara pemilu, serta manipulator yang memiliki kekuasaan.

Contoh, yang memutuskan Gibran Rakabuming Raka bisa lolos memenuhi syarat cawapres itu bukan malaikat, bukan pula Tuhan, melainkan sang paman (red, Anwar Usman) yang ketika itu jadi Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), dan juga berkat keputusan KPU yang main memutus perkara tanpa mempedulikan peraturan yang sebelumnya dibuatnya sendiri.

Baca Juga: Ngabuburit Fest 2024: Nikmati Ragam Kuliner dan Hiburan Bernuansa Ramadan di Summarecon Mall Bekasi

Lalu ketika ada pihak atau orang yang memprotes hasil pemilu yang diketahuinya curang, jangan kemudian selalu dituduh sebagai wujud rasa benci atau sakit hati. Sebab, belum tentu orang atau pihak yang protes hasil pemilu itu karena benci melainkan pula bisa jadi karena dia atau mereka memang tahu dan memilki bukti bahwa hasil pemilu itu sarat kecurangan atau manipulasi.

Hukumnya orang atau pihak yang protes atau menggugat hasil pemilu itu bisa sunnah (bila dikerjakan mendapat pahala, jika tidak dikerjakan tidak berdosa). Bisa pula wajib atau fardlu 'ain (harus dikerjakan, jika tidak dikerjakan berdoasa), tergantung siapa orang yang dimintai fatwa politiknya.

Kalau saya yang dimintai fatwa politiknya, hukumnya jelas wajib alias fardlu 'ain. Kenapa demikian? Karena membiarkan kecurangan dan ketidak adilan, bagi saya itu sama halnya dengan kemunafikan.

Masak orang atau pihak yang capek-capek kampanye, mengorbankan waktu, tenaga dan uang yang banyak, kok kemudian begitu muda hasilnya dipermainkan oleh rezim yang kurang ajar, main manipulasi dan penyalahgunaan wewenang atau kekuasaan. Ya protes dan gulingkan saja!

Baca Juga: Mengenal Lebih Dekat Bandara di Indonesia yang Menggunakan Bahasa Daerah

So, ayo mari beragama dan bernegara yang rasional. Jangan beragama dan bernegara secara irasional, emosional dan sentimentil. Percayalah Tuhan itu bukan manipulator dan secara sembarangan mau ikut campur dalam persoalan pemilu. Sebab pemilu itu persoalan negara, penyelenggaranya Pemerintah yang mendelegasikan kewenangannya pada KPU, BAWASLU dan MK.

Maka sangatlah lebih realistis jika hanya pada Pemerintah baik dalam arti luas (eksekutif, legislatif, dan yudikatif) dan Pemerintah dalam arti sempit (eksekutifnya saja), serta pada KPU, BAWASLU dan MK, semua protes maupun pujian itu lebih layak untuk diarahkan. Kalau sudah faham terhadap persoalan ini, Pemerintah beserta semua aparaturnya dilarang baperan, dan mengerahkan intel untuk memata-matai rakyatnya sendiri. Memalukan tahu!

Bagi Intel (TNI) itu harusnya diarahkan untuk memata-matai pihak asing yang sedang melakukan infiltrasi yang mengancam kedaulatan dan pertahanan negara. Dan bagi Intel (POLRI) harusnya diarahkan untuk memata-matai mereka yang mau melakukan kejahatan pidana yang sangat membahayakan warga negara, seperti para perampok, penjahat narkoba, perdagangan perempuan dll.

Coba pahami, ini semua agar rakyat mau secara ikhlas dan sungguh-sungguh berpartisipasi bagi kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara yang ingin terus bergerak maju dan berjaya.

Halaman:

Tags

Terkini