NAWACITAPOST.COM — Suasana mencekam mendadak melanda Kabupaten Karo, Sumatera Utara, pada Kamis, 13 Agustus 2026. Program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang membawa kesejahteraan gizi justru berujung kepanikan massal. Ratusan pelajar dari tiga sekolah berbeda mengalami gejala kesakitan hebat secara bersamaan, memicu dugaan kuat keracunan usai menyantap hidangan MBG yang dibagikan pada hari tersebut.
Kronologi Kepanikan: Sirine Ambulans dan Evakuasi Dramatis
Insiden kelam ini menimpa para siswa dari SMA Negeri 1 Berastagi, SMA Swasta Bersama, dan SMK Swasta Bersama. Tangisan, rintihan kesakitan, serta riuh sirine kendaraan medis mewarnai proses evakuasi yang berlangsung secara intensif dan maraton selama tiga jam penuh, mulai pukul 13.00 WIB hingga 16.00 WIB.
Gelombang korban yang terus berdatangan tanpa henti membuat pihak sekolah dan petugas medis kewalahan. Detik-detik mencekam tersebut terekam jelas dan mendadak tular di media sosial, salah satunya melalui unggahan akun Instagram @fakta_medan. Dalam rekaman video yang beredar, tampak pemandangan dramatis:
- Armada Ambulans Pertolongan: Deretan ambulans terus bersahut-sahutan merapat ke area SMAN 1 Berastagi untuk mengevakuasi para pelajar yang terkulai lemah.
- Proses Evakuasi Darurat: Para siswa harus digotong menggunakan tandu, brankar pasien, hingga didorong menggunakan kursi roda akibat kondisi tubuh yang tidak lagi mampu berdiri.
- Kondisi Ruang UGD: Suasana Instalasi Gawat Darurat (IGD) tampak sangat sesak dan penuh sesak. Para siswa terlihat memegangi perut sambil menahan rasa mual yang luar biasa, bahkan sebagian besar di antaranya tak kuasa menahan tangis akibat rasa sakit yang intens.
Sebaran Korban dan Fasilitas Kesehatan Penanganan
Skala insiden ini terbukti amat masif. Kepala Cabang Dinas Wilayah IV, Zulkarnain Barus, menyatakan bahwa proses pendataan di lapangan masih berjalan sangat dinamis mengingat gejala yang dialami para siswa terus bermunculan secara bertahap.
Berdasarkan data resmi hingga Kamis (13/8/2026) sore, tercatat sebanyak 269 siswa mengeluhkan gejala klinis keracunan makanan. Rincian distribusi korban mencakup:
- SMAN 1 Berastagi: 204 siswa
- SMK Swasta Bersama: 40 siswa
- SMA Swasta Bersama: 25 siswa
“Data ini kemungkinan masih terus bertambah ya,” ujar Zulkarnain kepada awak media pada Kamis, (13/8/2026).
Guna menyelamatkan nyawa dan menangani kondisi darurat para pelajar ini, korban langsung dilarikan dan disebar ke beberapa fasilitas kesehatan terdekat, di antaranya:
- Rumah Sakit Efarina Berastagi
- RSU Amanda Berastagi
- Rumah Sakit Kabanjahe
- Puskesmas Berastagi
Sanksi Tegas BGN: Suspen Dapur dan Pencopotan Pejabat
Menanggapi tragedi memilukan akibat dugaan keracunan usai menyantap MBG ini, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, langsung mengambil sikap keras dan tegas. Saat ditemui di Kantor Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Jakarta, pada Kamis (13/8/2026), beliau menegaskan bahwa investigasi menyeluruh atas dapur penyedia layanan akan segera dilakukan tanpa kompromi.
“Pokoknya kita cek, dapur kita suspen, kemudian Kepala SPPG-nya kita copot,” ujar Sudaryono kepada wartawan.
Isu mengenai kepatuhan aturan label ompreng terkait waktu santap makanan yang diduga menjadi salah satu pemicu juga tak luput dari radar pemeriksaan ketat BGN.
“Nanti aku cek, apakah dia sudah ada labelnya atau belum, apa segala macam akan kita cek, kita investigasi. Tapi yang jelas semua keracunan itu kita langsung suspensi dapurnya, kita copot kepala SPPG-nya, kita investigasi.” lanjutnya.
Sudaryono menegaskan bahwa tindakan tegas tidak akan berhenti pada langkah penangguhan sementara. Jika dalam hasil investigasi mendalam nantinya ditemukan adanya tindak kelalaian ataupun unsur kesengajaan dari pihak pengelola, sanksi terberat siap dijatuhkan.
“Kemudian kalau perlu, kalau dia memang secara ada kesengajaan unsur ini unsur itu ya kepala SPPG-nya pun bisa kita pecat, dapurnya kita tutup permanen,” tukasnya.(***)