NAWACITAPOST.COM — Sebuah rekaman video yang memperlihatkan tangis histeris seorang bocah perempuan saat pemakaman ayahnya mendadak viral dan menyayat hati publik di media sosial. Bocah yang masih duduk di bangku sekolah dasar itu terus memanggil sang ayah di Desa Sidatapa, Kecamatan Banjar, Buleleng, Bali. Jerit tangisnya kini menjadi simbol duka mendalam akibat aksi main hakim sendiri yang brutal dan tak berperikemanusiaan.
Tragedi ini bermula ketika sang ayah, IKD, dituduh mencuri seekor ayam aduan di Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Tabanan, pada Jumat (24/7/2026) dini hari. Amarah warga yang memuncak berujung pada aksi pengeroyokan brutal hingga nyawa IKD melayang seketika. Tak hanya merenggut nyawanya, massa yang kalap juga membakar sepeda motor milik korban, meninggalkan seorang istri dan tiga anak yang kini kehilangan pilar utama keluarga mereka.
Sorotan Pedas Ustaz Abdul Somad dan Ironi Negeri Kaya
Kemarahan publik atas insiden tragis ini turut menyita perhatian penceramah kenamaan, Ustaz Abdul Somad (UAS). Melalui akun Instagram resminya, UAS melayangkan kritik keras atas praktik persekusi yang mengabaikan hukum dan kemanusiaan demi hal yang dinilai sebagai dugaan pidana ringan.
Baca Juga: Bukan Hanya Rompi Pink, Ini Alasan 'Istimewa' Eks Jampidsus Febrie Ditahan KPK
"Gadis kecil itu anak kita. Keponakan kita. Adik kita. Mencuri ayam tidak benar. Tapi ayam dibayar dengan nyawa tidak bisa dibenarkan," tegas UAS dalam unggahannya.
UAS juga mengajak masyarakat merenungi ironi sosial di balik kemiskinan yang masih menghimpit rakyat kecil. Ia menyentil kondisi ekonomi masyarakat yang membuat sebagian orang terdesak melakukan tindak kriminal, di tengah melimpahnya sumber daya alam Indonesia seperti emas, nikel, minyak, dan gas.
Pelanggaran HAM Berat dan Desakan Perlindungan Negara
Aksi brutal warga tersebut memicu kecaman keras dari berbagai pihak, termasuk Kementerian Hak Asasi Manusia. Koordinator Wilayah Kerja Bali, Anak Agung Gede Ngurah Dalem, menegaskan bahwa aksi main hakim sendiri merupakan bentuk pelanggaran nyata terhadap hak asasi manusia.
Pihaknya menekankan pentingnya intervensi negara untuk menyelamatkan trauma psikologis yang dialami keluarga korban, terutama anak-anak korban yang terpukul hebat.
Baca Juga: Sengatan Panas dan Bocor Berakhir: Program 'Ganti Atap Rumah Wartawan' Promedia Bergeser ke Ciamis
"Kami berharap agar anak dan keluarga korban mendapatkan pendampingan dan perlindungan yang layak, baik dari aspek psikologis maupun pemenuhan hak-haknya, sehingga mereka mendapatkan perhatian dan perlindungan secara optimal dari negara," tegas Dalem.
Kini, publik mendesak aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas para pelaku pengeroyokan agar keadilan dapat ditegakkan, sekaligus memastikan peristiwa memilukan seperti ini tidak pernah terulang kembali.