NAWACITASPOT.COM - Bicara soal kebaya dan tenun ikat, mungkin nama desainer Didiet Maulana sangat familiar didengar. Selama kurang lebih 12 tahun berkecimpung ke dalam dunia fashion, Didiet dikenal sebagai maestro di balik baju tenun ikat dan kebaya yang penuh makna.
Namun, tahukah kamu tentang latar belakang dan kisahnya menjadi perancang busana ini?
Ini dia profil dan biodata Didiet Maulana!
Meski berbekal pendidikan arsitektur, Didiet justru melabuhkan hatinya sebagai perancang busana. Ilmu arsitektur rupanya masih bisa ia pakai untuk menelurkan banyak busana yang fokusnya pada wastra Indonesia.
Baca Juga: Menyelami Karya dan Perjalanan Alffy Rev, Komposer Muda yang Cinta Budaya Indonesia
Sebelumnya, ia mengawali karier di Radio Oz Bandung, Staf Talent untuk MTV Indonesia, dan Kepala Marketing di PT. Gilang Agung Perkasa selama 7 tahun.
Di tahun 2011, Didiet banting setir dengan membangun brand lokal IKAT Indonesia by Didiet Maulana. Waktu itu, ia belum menemukan desainer muda yang berani mengolah tenun ikat menjadi baju siap pakai.
Tak hanya itu, ia kemudian meluncurkan SVARNA by IKAT Indonesia yang fokus pada busana hinggil (premium). Ada pula Sarupa by IKAT Indonesia yang bergerak di bidang pembuatan seragam dengan wastra Indonesia.
Baca Juga: Kastorius Sinaga: Pilkada Tetap Dilaksanakan November 2024
Sebagai perancang busana, Didiet tak tinggal diam. Ia merupakan orang yang gigih dan aktif mempelajari banyak hal, termasuk mengikuti beberapa komunitas dan organisasi. Didiet merupakan anggota KADIN (Kamar Dagang dan Industri Indonesia), anggota AMIN (Asosiasi Merek Indonesia), serta konsultan untuk perusahaan.
Ia juga aktif bergerak bersama komunitas lokal berbasis budaya dan menjadi pembicara sebagai entrepreneur. Ilmu yang ia dapatkan pun tak serta merta disimpan sendiri. Didiet membagikannya melalui gelaran workshop entrepreneur di Jepara, Lasem, hingga Tanimbar.
Bahkan saat pandemik, Didiet juga menggagas kelas online agar para entrepreneur tetap bisa berkarya dan produktif. Bersama dengan Dhitya Widjanarko, ia sempat meluncurkan Selaras Art Space, ruang pamer untuk para seniman muda yang digelar secara virtual.
Baca Juga: Refly Harun Serukan People Power untuk Lawan 'Cawe-cawe' Istana
Bukan hanya merancang baju, Didiet menuangkan ketertarikannya terhadap wastra dan kebaya ke dalam sebuah buku cetak berjudul "Kisah Kebaya". Butuh waktu 6 tahun sejak 2012 untuk melakukan riset dan 1,5 tahun untuk menulisnya.
Nenek yang ia sapa Eyang Uti dan ibu merupakan orang yang menginspirasinya dalam membuat kebaya. Didiet tumbuh menjadi pribadi yang akrab dengan kebaya sejak kecil. Pasalnya, ibu dan neneknya pun mengenakan kebaya dalam keseharian mereka.