nasional

Darah Demokrasi di Nadir Kebebasan: Ikrar Suci di Jantung Jakarta

Senin, 11 Mei 2026 | 07:41 WIB

NAWACITAPOST.COM — Di bawah langit Jakarta yang mulai menyengat pada Minggu pagi, (10/5/2026), sebuah pesan mendalam bergema di tengah derap langkah ribuan insan media. Bukan sekadar jalan santai (fun walk), momentum peringatan World Press Freedom Day 2026 bertransformasi menjadi panggung pembuktian komitmen negara terhadap napas hidup demokrasi: Kebebasan Pers.

"Kebebasan Pers adalah Hak Asasi, Titik!"

Staf Khusus Menteri Hak Asasi Manusia, Thomas Harming Suwarta, berdiri tegak di hadapan kerumunan jurnalis. Dengan nada bicara yang penuh penekanan, ia menegaskan bahwa kebebasan pers bukanlah hadiah, melainkan hak asasi yang tak bisa ditawar.

"Negara memiliki kewajiban suci untuk memastikan penghormatan, pelindungan, penegakan, pemajuan, dan pemenuhan hak tersebut," tegas Thomas.

Baca Juga: Jerit Tangis di Tanjung Sari: DPC PPWI Pesawaran Hadir Basuh Luka Korban Rumah Roboh

Di tengah gempuran ledakan informasi yang mengaburkan batas antara fakta dan fiksi, Thomas mengingatkan bahwa pers harus tetap menjadi "Suar Kepentingan Publik". Baginya, pers yang bebas adalah cermin dari kesehatan HAM di sebuah bangsa.

Garansi dari Puncak Kekuasaan

Menepis keraguan publik, Thomas membawa pesan kuat dari singgasana kepemimpinan nasional. Ia menegaskan bahwa di bawah kepemimpinan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, pembangunan HAM mendapatkan ruang sakral yang secara otomatis memayungi kemerdekaan pers.

  • Ekosistem yang Sehat: Pers berkualitas hanya bisa tumbuh di tanah yang menjunjung tinggi HAM.
  • Komitmen Tanpa Syarat: "Pemerintahan Presiden Prabowo memberi ruang penting bagi HAM. Hal itu tidak perlu diragukan lagi," lanjutnya dengan penuh keyakinan.

Perisai bagi Sang Pemburu Berita

Kementerian HAM tidak hanya melempar janji manis. Sebuah langkah konkret segera diambil untuk membentengi para jurnalis yang kerap bertaruh nyawa di lapangan. Dalam waktu dekat, Kelas Khusus HAM bagi Jurnalis akan digelar sebagai bentuk perlindungan nyata dan peningkatan literasi.

Baca Juga: Interiologic Gelar Kegiatan Sosial Bersama Anak-Anak Panti Asuhan Calvary Bekasi, Dimeriahkan Bintang JKT48 dan Penyanyi Jepang

"Pengarusutamaan HAM butuh pelibatan jurnalis. Kami membuka ruang selebar-lebarnya," pungkas Thomas.

Suasana Kebatinan di Balik Langkah Kaki

Senada dengan semangat tersebut, Ketua Dewan Pers, Komaruddin Hidayat, memandang fun walk ini lebih dari sekadar aktivitas fisik. Baginya, ada "suasana kebatinan" yang kuat antara pemerintah dan media.

"Ini adalah sebuah komitmen bahwa pers akan terus eksis mempertahankan prinsip objektivitas, profesionalitas, dan etika," tutur Komaruddin di tengah kehangatan suasana.

Analisis Singkat:
Pesan yang disampaikan dalam peringatan ini jelas: Di tahun 2026, Indonesia sedang berupaya mengukir sejarah baru di mana pena jurnalis tidak boleh dipatahkan, dan suara kebenaran tidak boleh dibungkam oleh jeruji ketidakadilan. Kebebasan pers kini diletakkan sebagai fondasi utama dari tegaknya Hak Asasi Manusia di tanah air.

Tags

Terkini