NAWACITAPOST.COM - Direktur Lingkar Madani (Lima), Ray Rangkuti, menyatakan bahwa tidak perlu adanya Tim Transisi dalam proses peralihan kekuasaan dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Prabowo Subianto. Menurutnya, jika Tim Transisi dibentuk, hal ini bisa menandakan adanya persoalan terjal di internal pendukung pasangan nomor urut 2 Prabowo-Gibran.
Secara teori, lanjut Ray, Tim Transisi tidak diperlukan dalam pergantian kekuasaan dari Jokowi ke Prabowo. "Apa yang mau ditransisikan kalau visi misinya sama. Ini kan kelanjutan (pemerintahan sebelumnya)," ujar Ray, dikutip Selasa (27/2/2024).
Ray menekankan bahwa yang dibutuhkan hanyalah tim kerja yang menyiapkan kepemimpinan baru yang sifatnya berkelanjutan. Menurutnya, Tim Kerja akan fokus pada persiapan kerja-kerja teknis tanpa adanya perubahan visi misi presiden yang baru.
Baca Juga: Dessert Unik, Cara Buat Es Jelly Kelapa Muda, Pilihan Menyegarkan Dikala Cuaca Panas Menyerang!
Menurut Ray, jika Prabowo-Gibran memutuskan untuk membentuk Tim Transisi, publik akan melihat adanya persoalan internal dalam pasangan tersebut. Hal ini dapat mengindikasikan adanya ketidakharmonisan di internal Prabowo-Gibran.
“Ini kan dari ayah ke anak. Bapaknya menginginkan begini, anaknya yang melaksanakan. Jadi untuk apa ada Tim Transisi?" kata dia.
Ray juga mengungkapkan bahwa ada tiga kelompok di internal Prabowo-Gibran, yaitu kelompok Jokowi, kelompok Golkar yang sedang naik daun, dan kelompok Gerindra dan Prabowo. Menurutnya, Golkar naik daun karena perolehan suaranya di Pemilu 2024 berada di posisi kedua terbanyak berdasarkan hitung cepat, serta isu angket yang membuat posisi Golkar semakin kuat.
"Dalam hal ini, Presiden butuh Golkar untuk menahan agar angket tidak berkelanjutan," ungkap Ray.
Ray juga menyebutkan bahwa jika memang ada Tim Transisi, hal ini berarti ada upaya untuk mempertemukan kepentingan dari ketiga kelompok tersebut. Contohnya, Golkar yang mendapat empat kursi kabinet saat pemenangan Jokowi-Ma’ruf Amin, mungkin sekarang dapat tujuh atau setidaknya enam kursi.
Hal ini menunjukkan adanya ketegangan di antara ketiga faksi tersebut. "Makanya kelihatannya ini ada tiga faksi,” ucapnya
Baca Juga: Elegan dan Romantis, Selena Gomez Kenakan Gaun Seperti Pengantin di SAG Awards 2024
Ray juga menyatakan bahwa ada kemungkinan dua kelompok tersebut tidak akan menerima bahwa jatah untuk Jokowi tidak terlalu banyak, terutama setelah Jokowi menyatakan bahwa dia adalah jembatan. Menurut Ray, siapa pun yang ingin bergabung dengan koalisi Prabowo-Gibran harus melalui Jokowi, dan hal ini bisa saja tidak diterima oleh dua kelompok lainnya.