nasional

Guru sebagai Teladan Merawat Kerukunan dan Kohesi Sosial

Rabu, 26 November 2025 | 06:00 WIB
Menteri Dikdasmen Abdul Mu'ti, bersama Dirjen GTK, dan Pendidikan Guru Kemendikdasmen, Nunuk Suryani, dan Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho, bersama para narasumber Webinar Internasional (Istimewa)

Senada dengan itu, Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho, mengatakan Visi ASEAN 2045, atau untuk 20 tahun ke depan, mendorong secara eksplisit Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) dalam rangka menciptakan “komunitas yang inklusif dan kohesif”. Program LKLB di Indonesia, yang sejauh ini telah diikuti 10.000 lebih guru dari 38 provinsi di Indonesia, telah menjadi model bagi sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara untuk membangun kemampuan guru yang mampu menghargai perbedaan dan bekerja sama dengan orang lain yang berbeda agama dan budaya.

Matius menyatakan peran guru tidak hanya mendidik tenaga kerja masa depan, tetapi bahkan yang lebih penting lagi adalah mendidik manusia seutuhnya, sebagai anggota masyarakat, bangsa, dan negara yang mampu ikut membangun solidaritas antar sesama warga negara dan manusia terlepas dari latar belakang agama, suku, dan ras yang berbeda.

“Bayangkan kalau generasi masa depan kita hanya sekedar pintar, tapi tidak punya karakter moral etika yang baik dan tidak peduli yang namanya tanggung jawab sebagai warga negara,” kata Matius.

Director Singapore Centre for Character and Citizenship Education Singapore, Tan Oon Seng, mengingatkan bahwa guru tidak bisa bekerja sendiri. Guru kerap disalahkan atas banyak masalah dalam masyarakat, namun tidak mengakui bahwa masyarakat juga harus bekerja sama dengan guru agar mereka dapat memainkan peran dengan baik.

Baca Juga: Dinilai Pemecahan Belah di Surabaya, AMI Kritik Keras Video Bermuatan SARA

“Guru bukan hanya guru untuk mata pelajaran, tapi mereka juga sebagai pembelajar. Mereka adalah para penjaga nilai dalam masyarakat kita,” kata Tan.

Staf Khusus Mendikdasmen, Arif Jamali Muis, mengatakan penerapan Literasi Keagamaan Lintas Budaya akan mendukung kemampuan generasi masa depan dalam membangun nilai-nilai inklusivitas dan toleransi. Indonesia sendiri, ujarnya, memiliki tantangan karena masih adanya benih intoleransi dan keterbatasan pemahaman guru dan murid tentang keberagaman.

“Kalau tidak hati-hati, sekolah juga bisa menjadi tempat rentan terhadap perkembangan dan pemikiran radikalisme,” kata Arif.

Head of the Social Cohesion Research Programme, RSIS, Nanyang Technological University,
Leong Chan Hoong, mengatakan upaya membangun kohesi sosial sangat penting di Asia Tenggara karena kawasan tersebut sangat beragam terdiri dari 11 negara, lebih dari 700 juta penduduk dengan lebih dari 25 ribu pulau dengan ratusan bahasa serta mewakili semua agama besar dan sistem politik.

Baca Juga: Pemagangan Nasional Batch 2 Dimulai : Bapas Muara Teweh Gelar Pengarahan dan Orientasi

“Kerukunan sangat penting di ASEAN tidak hanya untuk stabilitas tapi juga rasa kebangsaan bagi setiap masyarakatnya,” kata Leong.

Sementara itu, Guru Besar Kajian Budaya dan Isu Gender Universitas Muhammadiyah Malang, Trisakti Handayani, dan Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, Muhammad Thohir, menekankan literasi keagamaan lintas budaya sebagai pedagogi untuk mengembangkan karakter saling percaya dan kolaborasi dengan orang lain yang berbeda agama. Mereka mengatakan pedagogi untuk berinteraksi dengan orang lain yang berbeda harus dilakukan secara sengaja dan sistematis sehingga bisa menjadi budaya dalam masyarakat.

Halaman:

Tags

Terkini