Menjawab pertanyaan peserta dari Zoom, Linda, terkait sekolah negeri di Bali yang belum memiliki guru agama Kristen, Arya menjelaskan bahwa hal itu terkait dengan proses administratif. Menurutnya, pihak Kristen harus mengajukan usulan resmi kepada pemerintah daerah agar ada slot khusus untuk guru agama Kristen. Ia berkomitmen untuk membantu menindaklanjuti pengajuan yang spesifik agar dapat ditangani pemerintah daerah.
Sebagai penutup, moderator Ashiong P. Munthe menegaskan bahwa Arya Wedakarna bukan sosok asing bagi komunitas Kristen, khususnya Pewarna Indonesia. Arya pernah memfasilitasi seminar nasional di Universitas Mahendradatta pada 2021 yang dihadiri lintas komunitas, termasuk Islam dan Kristen.
Ia juga memfasilitasi Apresiasi Pewarna Indonesia dan perayaan ulang tahun ke-10 Pewarna Indonesia di Gedung Nusantara, DPR-MPR RI.
Ashiong kemudian merangkum pokok-pokok penting dialog ini:
Ilmu perbandingan agama perlu dikembangkan agar misi kasih antaragama saling memperkaya, bukan bersaing.
Baca Juga: PSI Surabaya: RUU Perampasan Aset Harus Jadi Senjata Pamungkas Lawan Korupsi
Keberimanan tidak ditentukan oleh retorika atau jumlah, melainkan kualitas hidup, kerendahan hati, dan kebermanfaatan nyata.
Generasi muda Kristen harus menjaga kesehatan mental, berhikmat dalam bermedsos, serta hati-hati dengan jejak digital.
Generasi Kristen dipanggil untuk bangkit dengan penguasaan ilmu, teknologi, ekonomi, budaya, dan tetap berpijak pada Pancasila.
Pancasila adalah titik temu nilai-nilai agama, termasuk dari Weda, untuk merawat persatuan dan perdamaian bangsa.
Dialog kebangsaan ini menjadi ruang refleksi sekaligus panggilan bersama untuk merawat nalar sehat bangsa demi peradaban damai yang berlandaskan kasih, persaudaraan, dan Pancasila.