Lebih lanjut, Arya mencontohkan bahwa tanpa promosi pun, Bali mampu menarik 11 juta turis untuk berkunjung ke pura setiap tahun. Ia juga menyinggung pengalamannya memegang delapan jabatan duta perdamaian dunia internasional.
Menurutnya, tantangan generasi muda saat ini terletak pada kesehatan mental.
Baca Juga: Kabupaten Sidoarjo Dukung Swasembada Pangan, Panen Raya Jagung Kuartal III di Balongbendo
“Merawat nalar sehat adalah bagian dari menjaga mental health. Anak muda sering rapuh, mudah terganggu hanya karena status di media sosial. Karena itu, hati-hati dalam bermedsos, jangan mudah ditebak, dan jangan menjual diri terlalu murah,” ujarnya.
Ia menambahkan, jejak digital kini menjadi sangat penting, bahkan berpengaruh pada proses administrasi internasional seperti pengajuan visa.
Arya juga menegaskan bahwa anak muda Kristen perlu bangkit menjadi bagian dari gerakan global. Mereka harus bersandar kepada Tuhan, tetapi sekaligus berpikir logis, menguasai teknologi, ekonomi, budaya, dan berjiwa pancasilais.
Dalam paparannya, Arya Wedakarna juga menyinggung pernyataan mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, di forum PBB yang menyebut agama paling banyak mengalami persekusi adalah Kristen.
Baca Juga: Kunker ke KPU RI, Komisi A Perjelas PMK 135/2024 dan Wacana Penambahan Kursi Dewan
Arya menyatakan kekagumannya terhadap umat Kristen di Indonesia.
“Saya kagum dengan Nasrani, mereka kuat, bukan pendendam. Saya yakin Kristen akan menjadi besar di Indonesia ini. Saat ini ada sekitar 25 juta umat Kristen di Indonesia,” jelasnya.
Ia bahkan mengusulkan analisis SWOT untuk melihat kondisi umat Kristen di Indonesia. Menurutnya, ada sejumlah provinsi yang mayoritas Kristen seperti Papua, NTT, sebagian Sulawesi, dan sebagian Kalimantan.
Lebih jauh, Arya Wedakarna menegaskan bahwa Pancasila adalah fondasi bersama yang sesuai bagi semua agama. Menurutnya, istilah panca dan sila berasal dari Weda, sehingga dapat ditafsirkan dan diterima oleh semua agama di Indonesia.
“Pancasila itu cocok untuk semua agama untuk menyemai kebaikan, perdamaian, dan persatuan,” imbuhnya.
Ia juga menekankan bahwa setiap agama memiliki kecenderungan konservatif dan terbuka. Namun, dengan semangat persatuan, perubahan tidak akan merusak akar budaya. Dalam sesi tanya jawab, ia menegaskan bahwa agama dan budaya harus tetap mempertahankan ritual, serta agama seharusnya menjadi tempat yang nyaman bagi semua orang.
Baca Juga: Kebijakan 'Tangi Turu' Walikota Surabaya Jadi Beban Kota