NAWACITAPOST.COM - Para aktivis mahasiswa dari Mahasiswa Jakarta Bergerak, sebuah organisasi yang mewadahi mahasiswa dari berbagai kampus di Jakarta, memberikan ultimatum kepada calon presiden nomor urut 2, Prabowo Subianto, untuk berdialog terkait isu Hak Asasi Manusia (HAM).
Dalam keterangan tertulisnya, Glamora Lionda, seorang aktivis Mahasiswa Jakarta Bergerak, menyatakan harapannya agar Prabowo dan tim kampanyenya bersedia berdiskusi terbuka mengenai pelanggaran HAM di masa lalu.
"Kami menunggu niat baik Prabowo Subianto secara personal maupun TKN untuk mengajak kami berdiskusi secara terbuka untuk berdialog dengan kami, mengenai isu yang kami angkat terkait pelanggaran HAM di masa lalu," ujar Glamora, dikutip Sabtu (19/1/2024).
Baca Juga: Film The Polar Express Akan DIbuat Sequel dengan Improvisasi Cerita yang Lebih Seru!
Glamora menegaskan bahwa para mahasiswa siap beradu argumentasi dengan Prabowo dan memiliki data serta bukti terkait penodaan reformasi. Mereka juga mengklaim memiliki informasi yang dapat memperkuat pandangan mereka terhadap tuduhan terhadap Prabowo-Gibran Rakabuming Raka.
"Kami punya datanya, kami punya informasinya, kami punya kumpulan data yang menguatkan akan pandangan kami tersebut," katanya
Selain membahas isu HAM, aktivis tersebut juga menyuarakan keprihatinan terkait intimidasi yang dialami oleh mahasiswa dalam kegiatan aksi sosial. Intimidasi dilaporkan terjadi di beberapa daerah, termasuk Pekalongan pada tanggal 11 Januari 2024, ketika mahasiswa melakukan aksi bagi-bagi selebaran.
Baca Juga: Kanwil Kemenkumham Sulsel Terjun Langsung Lakukan Pengecekan Sarpras di LPKA dan Lapas Maros
Glamora mengungkapkan ketidaknyamanannya terhadap pemantauan oleh aparat terhadap pergerakan diskusi yang dilakukan oleh Mahasiswa Jakarta Bergerak. Menurutnya, pemantauan ini dianggap sebagai bentuk intimidasi terhadap hak demokrasi mahasiswa untuk berbicara dan berpendapat.
"Kemarin di Pekalongan ada mahasiswa yang terintimidasi," katanya.
Kasus penculikan mahasiswa pada akhir era Orde Baru, yang melibatkan Prabowo Subianto saat menjabat sebagai Komandan Jenderal Kopassus, menjadi poin penting dalam tuntutan mahasiswa. Nico Gultom, perwakilan mahasiswa, menegaskan bahwa kasus ini belum dimaafkan oleh para mahasiswa.
Baca Juga: Kulit Berseri Tanpa Risiko, Berikut Panduan Merawat Wajah yang Aman Saat Hamil
Sebanyak 14.000 mahasiswa dari 899 kampus di Indonesia menyatakan kesiapannya untuk menggelar aksi unjuk rasa serentak. Mereka menuntut pengakuan kesalahan dari para pelaku kejahatan, memberikan keadilan kepada keluarga korban, dan berharap agar aparat tetap profesional dalam menangani isu-isu seputar pelanggaran HAM.
"Gerakan ini berpusat kepada suara dari hati nurani dengan ikhlas mencari keadilan dan memperjuangkan hak-hak aktivis 98," ungkap Nico Gultom.