NAWACITAPOST.COM - PT Ciputra Development Tbk (CTRA) atau biasa dikenal Ciputra, menargetkan marketing sales atau prapenjualan sebesar Rp11 triliun pada 2025.
Target itu sejalan dengan upaya perseroan menjaga pertumbuhan pendapatan di level 5-10% dan laba bersih 10-15% pada 2025.
Head of Investor Relations CTRA, Aditya Ciputra Sastrawinata, mengatakan perseroan telah mencatat prapenjualan sebesar Rp3,15 triliun pada kuartal pertama 2025.
“Capaian ini turun 5% year-on-year, namun meningkat 35% dibandingkan tahun 2024,” kata, Aditya, dalam acara Public Expose di Hotel Raffles Jakarta, pada Selasa (17/6) hari ini.
Pertumbuhan itu turut mendorong pendapatan CTRA naik 17,9% pada kuartal pertama 2025, menjadi Rp2,73 triliun. Sementara laba bersihnya melonjak 36,6% menjadi Rp660,40 miliar.
Baca Juga: Ciputra Group Tawarkan Peluang Investasi di Lokasi Paling Strategis Jakarta dan Bali
Aditya mengaku saat ini kinerja prapenjualan CTRA paling tinggi di antara perusahaan properti lain di Indonesia.
Sebagai informasi, CTRA membukukan marketing sales sebesar Rp11,01 triliun, dengan pendapatan Rp11,18 triliun dan laba bersih Rp2,12 triliun pada 2024.
Penjualan properti seperti rumah dan ruko, kata Aditya, berkontribusi sekitar 80% dari total penjualan CTRA. “Sedangkan 20% berasal dari segmen properti komersial, termasuk mal, hotel, dan rumah sakit,” imbuhnya.
Menurut Aditya, ada dua faktor utama yang membuat target prapenjualan CTRA pada 2025 tidak lebih besar dari tahun lalu.
Pertama, tantangan dari kenaikan suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang dapat menghambat daya beli masyarakat. Sementara sekitar 72% dari total marketing sales CTRA saat ini, masih bergantung pada KPR.
Kedua, kata Aditya, sumber pertumbuhan dari proyek baru masih terbatas. Alasannya, CTRA masih akan fokus pada penjualan proyek-proyek eksisting pada 2025.
Baca Juga: Ciputra Group Gelar Penandatanganan Massal AJB, Ratusan Konsumen Pastikan Legalitas Properti
Meskipun demikian, saat ini CTRA sedang mematangkan sekitar lima skema kerja sama operasional (Joint Operation/JO), yang diperkirakan belum rampung hingga akhir tahun.