Minggu, 19 Juli 2026

Tak Pernah Ganti Sepatu, Ini Prinsip Hidup sang Raja Properti Ciputra yang Bikin Kagum  

Photo Author
Ahmad, Nawacita Post
- Senin, 2 Juni 2025 | 10:50 WIB
Gaya hidup Ciputra mencerminkan kesederhanaan, dan jauh dari kesan glamor.  (X)
Gaya hidup Ciputra mencerminkan kesederhanaan, dan jauh dari kesan glamor. (X)

 

NAWACITAPOST.COM - Gaya hidup Ciputra mencerminkan kesederhanaan yang jauh dari citra glamor yang kerap melekat pada para konglomerat. Meski memiliki kemampuan finansial untuk membeli ribuan pasang sepatu mahal, ia hanya setia pada satu pasang sepatu: New Balance warna hitam.

Sepatu itu menemaninya dalam berbagai kegiatan, dari urusan bisnis hingga aktivitas sehari-hari. Bukan karena tak mampu membeli yang baru, melainkan karena prinsip hidupnya yang sederhana dan praktis.

Ciputra, yang lahir di Parigi, Sulawesi Tengah, pada 24 Agustus 1931, merupakan tokoh penting dalam dunia properti Indonesia. Namanya identik dengan Jaya Group, Metropolitan Group, dan Ciputra Group—tiga pilar utama bisnis yang dia dirikan.

Dalam daftar Forbes per Mei 2025, keluarga Ciputra tercatat memiliki kekayaan bersih mencapai US\$ 1,7 miliar atau sekitar Rp 28 triliun. Ia berada di urutan ke-32 dalam daftar orang terkaya di Indonesia tahun 2024.

Citramaja City, tempat hunian modern yang menawarkan kenyamanan, kemudahan, dan keharmonisan hidup. (Instagram)

Ciputra mendirikan Ciputra Group sekitar tiga dekade lalu dengan pengembangan proyek di 33 kota di Indonesia. Yang menarik, modal awal untuk mendirikan perusahaannya hanya Rp 10 juta.

Perjalanan bisnisnya dimulai sejak masih menjadi mahasiswa di Jurusan Arsitektur Institut Teknologi Bandung pada 1957. Bersama dua teman kuliahnya, Budi Brasali dan Ismail Sofyan, ia mendirikan biro arsitektur PT Daya Cipta. Setelah lulus pada 1960, Ciputra memutuskan pindah ke Jakarta.

Di ibu kota, langkah bisnisnya semakin berkembang. Pada 1961, ia mendirikan Grup Jaya, yang menjadi salah satu fondasi penting kesuksesannya. Melalui PT Ciputra Development, Ciputra membawa bisnis lokal masuk ke ranah internasional dengan nilai aset yang mencapai lebih dari Rp 30 triliun.

Namun, perjalanan bisnisnya tidak selalu mulus. Pada 23 Juli 1996, setelah 30 tahun memimpin, Ciputra mengundurkan diri dari PT Pembangunan Jaya. Tak lama setelah itu, krisis moneter menghantam.

Baca Juga: Deretan 7 Konglomerat Properti Terkaya di Indonesia, Siapa Saja Mereka?  

Badai finansial tahun 1998 memperparah keadaan. Proyek-proyek yang sebelumnya dijalankan dengan pinjaman dalam bentuk dolar AS kini menjadi beban berat karena anjloknya nilai tukar rupiah. Nilai dolar yang semula berkisar Rp 2.000 melonjak drastis, bahkan menembus lebih dari lima kali lipat dalam waktu singkat.

Akibatnya, utang Grup Jaya membengkak hingga hampir US\$ 100 juta. “Kami sama sekali tak menduga,” ujar Ciputra dalam biografinya The Passion of My Life.

Edmund Sutisna, yang saat itu menjabat Direktur Pembangunan Jaya, menyampaikan bahwa Ciputra tidak tinggal diam. Ia membagi tugas penyelamatan kepada masing-masing manajemen grup, sambil secara langsung menangani krisis di Grup Ciputra.

Halaman:

Editor: Ahmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini